a menjadi saingan terberat Indonesia dan Thailand dalam
hal destinasi wisata tropis. Gugusan pulau-pulau di sana tak hanya indah, namun juga
menjadi habitat beragamnya flora dan fauna. Salah satunya adalah
Palawan, yang menjadi pulau terbaik di dunia versi Travel+Leisure tahun 2017.
Pulau Palawan yang terletak di wilayah barat Filipina ini, dikelilingi 1.800
pulau kecil dan mendapat predikat sebagai Situs Warisan Dunia dari UNESCO.Tak
heran jika banyak wisatawan, khususnya dari mancanegara, berminat mengunjungi
tempat ini. Untuk mengunjunginya, ada dua jalur yang biasa ditempuh oleh
para wisatawan yakni udara dan laut (CNN Indonesia).
Saya mendapatkan kesempatan mengunjungi Palawan di Filipina pada
tahun 2017. Rute yang saya ambil dari Pontianak hingga sampai ke Puerto
Princesa Palawan melalui jalur darat dan udara. Dimulai dari Pontianak ke
Kuching Sarawak melalui jalur darat, kemudian dilanjutkan dari Kuching Sarawak
ke Kota Kinabalu Sabah. Selanjutnya dari Kota Kinabalu sabah melalui udara
menuju Manila, kemudian diakhiri rute Manila ke Puerto Princesa.
Suasana pagi di Puerto Princesa sangatlah damai, kebetulan didepan guest house saya masih berupa semak hutan sekunder yang menyegarkan mata. keluar balkon suasana sudah sejuk, suara kicauan burung masih indah terdengar, dan suasana sepi dengan udara yang segar. Di Puerto Princesa kita masih bisa melihat banyak pohon tua yang kokoh dan tinggi, masyarakat sekitar juga gemar menanam bunga dan tanaman obat dan sayur pekarangan.
Penduduk di Puerto Princesa sebagian besar adalah beragama Katolik, namun beberapa penduduknya adalah beragama Islam. Menurut penduduk lokal tidak ada hal-hal negatif yang terjadi antara keduanya, artinya masing-masing memiliki kepercayaan dan toleransi. Bahkan ada satu hal yang menarik bagi saya ketika melewati Yassiin Islamic Da'wah Center terdapat spanduk yang bertuliskan Accept ISLAM to Follow Jesus Closely yang menarasikan kebiasaan Yesus dan disesuaikan dengan Ibadah wajib umat Islam. Selama saya di sini sangat tenang, bahkan pada saat guest house tempat saya menginap mengundang BBQ Party, dengan sadar dia memisahkan makanan saya dan selalu berkata: DON'T EAT HAM, dia tahu saya seorang Muslim.
Pulau Palawan di Filipina merupakan pulau yang dianggap penting bagi masyarakat bahkan Negara Filipina. Bagi mereka, Pulau Palawan merupakan pulau dengan plasma nutfah yang sangat luar biasa, sebagai pulau andalan dalam nafas dunia, dan pulau yang menyimpan banyak spesies endemik di Filipina, termasuk serangga, kupu-kupu, reptil, sama halnya dengan Kalimantan Indonesia atau Borneo Malaysia. oleh karena itu, lebih banyak ekowisata yang dapat dikunjungi di Pulau Palawan, termasuk penangkaran kupu-kupu, penangkaran buwaya (buaya, Ind.), bayawak (biawak, Ind.), binturong, dan white hornbill atau enggang putih.
Ekowisata yang ada di Puerto Princesa di Pulau Palawan tentu saja didukung oleh masyarakat setempat dan Pemerintah Provincialnya. Saya bisa mengatakan hampir semua pilipinos di sana sadar akan pentingnya plasma nutfah dan keanekaragaman hayati, implementasinya adalah tidak semua orang bisa membawa tumbuhan atau hewan bahkan hanya sebuah biji mangga keluar Palawan. Hal menarik lainnya adalah Underground River yang terletak di daerah Sabang (bukan Sabang Aceh ya), Underground River merupakan sungai di bawah gunung karst terpanjang di dunia. Underground River ini merupakan New Seven Wonders urutan kedua setelah Pulau Komodonya Indonesia.
Patut dipertimbangkan manajerial pariwisata di Underground River Palawan. Fasilitas transportasi memadai dan semua diakomodasi oleh pihak travel, peralatan pengaman atau safety sangat baik dan tentu saja audio yang diberikan pada masing-masing peserta ketika masuk ke dalam gua karts sangat mengagumkan. Menelusuri sungai bawah gua ditemani musik dan penjelasan ilmiah mengenai karst dan biodiersitas yang ada di dalam gua sangat mengagumkan.
Satu hal yang menarik ketika berkunjung di Palawan, jangan lupa mengunjungi kawasan wisata antropologi suku asli penduduk Palawan. Melihat mereka saya seperti melihat suku Dayak karena memiliki instrumen musik yang hampir sama, dan alat berburu yang sama pula. Mereka gemar bermain sumpit dan memiliki bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa tagalog, bahkan aksara mereka sangat menarik untuk dipelajari.

















































Mantapp
BalasHapus