Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan
Kurniatuhadi
Magister Biologi, Universitas
Diponegoro, Semarang, 2012
Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang
terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem
ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang
saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa,
jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen
antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat
makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan
rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur
biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur
abiotik itu sendiri.

Gambar
1. Ekosistem
Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008).
Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek
dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah mikroorganisme. Menurut Allison
(1993) menyatakan bahwa rumen merupakan suatu bentuk ekosistem terbuka yang
bersifat dinamis karena memiliki kondisi yang secara terus-menerus dapat
berubah. Hal ini dikarenakan terdapat hampir 5 – 10 milyar bakteri yang
terkandung di dalam rumen. Adanya berbagai jenis bakteri dengan genus yang
berbeda di dalam rumen membentuk suatu sistem ekologi dalam skala relatif kecil
yang saling berinteraksi yang sangat luas baik intra, antar jenis maupun
bakteri itu sendiri terhadap lingkungan dari rumen. Interaksi yang luas terjadi
di antara anggota komunitas mikroba rumen dimana dari kedua hubungan dapat
berupa hubungan sinergis dan antagonistik.
Kamra (2005)
menyatakan hal yang sama mengenai dinamisme populasi bakteri yang dapat
berubah-ubah, namun perubahan tersebut dapat berasal dari diet yang tidak
langsung mempengaruhi adaptasi hewan ruminansia terhadap komposisi pakan yang
akan dicerna. Komposisi pakan secara tidak langsung mempengaruhi lingkungan
atau ekologi dari rumen.
Beberapa jenis lingkungan dari rumen yang
berpengaruh terhadap ekologi mikroba sistem digesti hewan ruminansia adalah
(Allison 1993):
1. Ketersediaan
oksigen pada sistem rumen. Sebagian besar sistem rumen tersusun dalam
ketersediaan oksigen yang sangat rendah sehingga aktifitas anaerobik lebih
sering terjadi. Dalam hal ini kebanyakan populasi atau jenis bakteri yang
berkembang adalah bakteri yang bersifat aerob dan anaerob fakultatif.
2. Volume
rumen bervariasi bervariasi pada tiap spesies memiliki interval antara 3-15
liter dimana efisiensi fermentasi mikrobia di dalam rumen yang bersifat
anaerobik.
3. Adanya
proses fermentasi di dalam sistem digesti ruminansia yang menyebabkan terjadinya
perubahan suasana rumen serta ketersediaan berbagai jenis nutrien hasil proses
fermentasi bagi jenis-jenis bakteri lainnya.
4. pH optimum untuk pertumbuhan bakteri rumen
terletak antara 6,0 dan 6,9.
Sedangkan suhu optimum adalah 39 º C dengan pengaturan
temperatur regulasi hingga 37o C dan pH biasanya berkisar antara 5,8
– 6,8 tapi menurun secara drastis menjadi 5.0 ketika terjadi peningkatan diet
amilum (Jakober dan McAlisster, 2007).
Selain adaya pengaruh lingkungan rumen, ekologi mikrobia
pada sistem digesti hewan ruminansia juga dipengaruhi oleh jenis substrat yang
mendukung pertumbuhan bakteri dengan aktivitas berbeda-beda antar jenis atau
genus bakteri. Kompleksitas ekologi pada sistem rumen terjadi ketika semakin
banyak jenis aktivitas bakteri yang saling berinteraksi. Allison (1993)
menyebutkan ada sedikitnya terdapat 9 jenis bakteri yang memiliki aktivitas
berbeda yang saling berinteraksi pada lingkungan ekologi rumen yaitu:
a.
Bakteri selulolitik, merupakan genus
bakteri yang memiliki aktivitas pendegradasi selulosa, yang merupakan sumber
karbohidrat (polisakarida) utama bagi hewan ruminansia yang berasal dari
rumput-rumputan. Bakteri
pendegradasi selulosa ada yang bersifat aerobik dan ada pula yang bersifat
anaerobik. Salah satu contoh bakteri pelapuk selulosa yang bersifat
anaerobik yakni Bacillus cellulosae, dissolvens, dan Sporocytophaga. Winogradsky membedakan
3 genus bakteri penegradasi selulosa aerobik, yakni
(Waluyo, 2008): Cytophaga. Bakteri ini berbentuk
ramping, filamen fleksibel, panjangnya 3-8 µm, hanya menggunakan selulosa
sebagai sumber energi, dapat mengubah selulosa menjadi gel koloid berwarna
kuning, orange, ros dan merah
pada kondisi in vitro. Terdiri dari 4 spesies,
salah satunya adalah Cytophaga
hutchinsoni (gambar
3).

Gambar 3. Gambar sel bakteri Cytophaga hutchinsoni
Cellvibrio. Bentuknya ramping,
bentuk batang, dan membengkok pada bagian akhir membulat, panjang 1-1,3µm (gambar 3), motil dengan dengan satu flagela, menyebar dengan
cepat, sangat berlimpah jumlahnya, dan hanya terdiri 2 spesies.

Gambar 3. Bentuk sel bakteri Cellvibrio
Cellafalcicula. Bentuk seperti kumparan
atau sab it, panjang tidak lebih
dari 2 m, memiliki satu flagela, dan ditemukan 3 spesies.
b. Bakteri
hemiselulolitik, merupakan jenis bakteri yang dapat menguraikan atau
mendegradasi komponen hemiselulolitik dari dinding sel tumbuhan.
c.
Bakteri Proteolitik, merupakan bakteri
yang membantu dalam proses penguraian protein di dalam rumen hewan ruminansia.
d.
Bakteri yang memanfaatkan senyawa gula, yang
merupakan bakteri yang dapat membantu dalam proses digesti atau penguraian
berbagai senyawa gula baik disakarida dengan konformasi struktur dan isomer
yang berbeda.
e. Bakteri
amilolitik, merupakan jenis-jenis bakteri yang terdapat pada sistem rumen yang
memiliki aktifitas memecah atau membantu dalam proses degradasi amilum.
f.
Bakteri yang memanfaatkan senyawa asam,
g.
Bakteri penghasil amoniak,
h.
Bakteri pensintesis vitamin,
i.
Bakteri penghasil metana, dengan
masing-masing jenis bakteri dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Jenis spesies
bakteri pada berbagai aktivitas dan substrat yang terdapat pada Rumen hewan
ruminansia (Kamra, 2005).
|
Substrat
|
Nama Bakteri
|
|
Selulosa
|
Fibrobacter
succinogenes
|
|
Bacteroides
succinogenes
|
|
|
Ruminococcus
flavefaciens
|
|
|
Ruminococcus albus
|
|
|
Clostridium
cellobioparum
|
|
|
Clostridium
longisporum
|
|
|
Clostridium lochheadii
|
|
|
Eubacterium
cellulosolvens
|
|
|
Cillobacterium
cellulosolvens
|
|
|
Hemiselulosa
|
Butyrivibrio
fibrisolvens
|
|
Prevotella ruminicola
|
|
|
Bacteroides ruminicola
|
|
|
Eubacterium
xylanophilum
|
|
|
E. uniformis
|
|
|
Starch Streptococcus
bovis
|
|
|
Ruminobacter
amylophilus
|
|
|
Bacteroides
amylophilus
|
|
|
Prevetella ruminicola
|
|
|
Bacteroides ruminicola
|
|
|
Sugar
|
Succinivibrio
dextrinosolvens
|
|
Succinivibrio
amylolytica
|
|
|
Selenomonas ruminantium
|
|
|
Lactobacillus
acidophilus
|
|
|
Protein
|
Prevotella ruminicola
|
|
Ruminobacter
amylophilus
|
|
|
Clostridium
bifermentans
|
|
|
Pengguna Asam
|
Megasphaera elsdenii
|
|
Peptostreptococcus
elsdenii
|
|
|
Wollinella
succinogenes
|
|
|
Vibrio succinogenes
|
|
|
Veillonella gazogenes
|
|
|
(Veillonella
alcalescens
|
|
|
Micrococcus
lactolytica
|
|
|
Oxalobacter formigenes
|
|
|
Desulphovibrio
desulphuricans
|
|
|
Methanogen
|
Methanobrevibacter
ruminantium
|
|
Methanobacterium
formicicum
|
|
|
Methanosarcina barkeri
|
|
|
Methanomicrobium
mobile
|
Estimasi perubahan populasi bakteri rumen untuk
mengetahui ekologi secara bakeri pada rumen secara umum diandalkan dari identifikasi
bakteri individu atau fenotipe bakteri. Contohnya adalah gulungan tabung
penghitungan dan estimasi MPN dari selulolitik, bakteri amilolitik dan
proteolitik. Metode ini bergantung pada kemampuan mikroba rumen budaya di media
laboratorium sintetis. Namun telah diperkirakan bahwa hanya 10% dari bakteri
yang ditemukan di lingkungan dapat di kultur ulang (Amann et al., 1995).

Komentar
Posting Komentar