Tembok Ke Empat
Malam ini
terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar
bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus
terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa
penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren
siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu
rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya
sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada
lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya
masih mencintaiku.
“Apa ini
semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang
lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah.
Aku
berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di
malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang
aku ditolak Yuni untuk yang kedua kalinya, tidak ada sedikitpun rasa kecewa dan
sakit hati yang menghampiri diriku. Aku jadi berfikir! Apakah sebenarnya aku
tidak yakin akan perasaan ini? Atau apakah aku tidak bersungguh-sunggug
mencintai dan mengharapkan Yuni saat ini? Kenapa aku merasa biasa-biasa saja?
Pertanyaan-pertanyaan
yang muncul di otak ini membuat kebingunganku semakin menjadi-jadi. Aku panik. Aku
langsung masuk ke kamarku untuk mengambil hand phoneku.
“Aku harus
telfon Yuni. Aku harus tahu sekarang apa alasan dari penolakannya kemaren yang
sempat akan dia kemukakan. Aku ingin tahu apakah alasannya itu akan membuat
hatiku sakit. Dengan ini aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan
saat ini.” Ujarku.
Kupencet nomor handphone Yuni kemudian
aku panggil. Kutunggu beberapa saat. Belum ada diangkat-angkat. Selang beberapa
lama.
“Halo Assalaamu’alaikum” jawabnya.
“Wa’alaikum salam. Ini Yuni?”
“Iya…betul, ini siapa ya kalau boleh
tahu?”
“Yun, ini
Vindra. Ini nomor handphoneku yang sekarang.”
“Oh
Vindra…ada apa Vind?”
“Eh..Yun
aku mau ngomong tentang masalah kemaren siang, pertanyaan yang belum sempat
kamu jawab itu”.
“Masalah yang
alasan aku itu? Vind, apa aku harus sekarang jawabnya? Apa nggak bisa dilain
waktu?”
“Kalau bisa
sekarang Yun, kamu tahu di dalam hati dan pikiran ini ada rasa penasaran yang
bercokol berat. Yun, please…biar rasa penasaran yang bertumpuk-tumpuk ini
segera menghilang. Setidaknya kamu telah membuat aku tenang. Rasanya capek Yun
kalau kepikiran terus”.
Yuni
terdiam sejenak. Dari speaker handphoneku, aia terdengar seperti sedang menarik
nafas dalam-dalam.
“Baiklah
Vind kalau itu yang memang kamu inginkan. Aku harap kamu tidak akan marah dan
sakit hati setelah mendengar apa yang aku katakana nanti”.
“Iya…aku
janji.” Jawabku pelan.
“Vind, ada
yang menghalangiku untuk menerima cintamu sekarang. Dan asal kamu tahu halangan
ini akan selalu ada dihadapanku bagi siapa saja yang mengharapkanku menjadi
pacarnya. Aku tidak bisa melawan hal ini Vind karena penghalang ini adalah
fitrah kita dan sebuah kewajiban yang harus dijalankan.”
Dahiku
berkerut. Aku tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan panjang lebar.
“Yun aku
tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Kalau boleh, tolong Yun kamu
sebutkan to the point aja”.
Yuni
terdiam lagi dan kali ini juga terdengar suara ia menghela nafas panjang.
“Agama kita
melarang pacaran Vind. Zina mata, zina hati, zina pikiran dan zina sentuhan,
itu semua jelas dilarang Vind dan sekarang aku sadar Vin kalau semua itu adalah
perbuatan dosa. Vind, maaf jika jawaban ini akam mengecewakanmu dan maafkan
juga bukan bermaksud untuk menceramahimu karena buatku sekarang dan untuk masa
depanku ta’aruf lebih baik daripada pacaran. Lebih indah dan terhormat.”
Aku hanya
terdiam mendengar penjelasan yang dibicarakan oleh Yuni. Yuni sekarang telah
berubah tidak seperti Yuni yang dulu lagi. Aku benar-benar terdiam.
“Vind, aku
moon jangan marah apalagi sakit hati. Ini kewajiban yang harus aku jalankan
Vind”.
Kini
giliran aku yang menghela nafas panjang. Pikiranku biasa-biasa saja tanpa ada
rasa marah, kecewa, apalagi sakit hati.
“Yun kenapa
aku harus marah dan sakit hati? Setiap orang berhak menjalani hidupnya dan
memilih jalan hidupnya yang dianggap baik dan kamu telah memilih jalan itu.
Jika dengan jalan itu kamu merasa hidup lebih baik, kenapa aku harus protes?
Malah seharusnya aku senang. Lagipula aku bukan siapa-siapa yang berhak untuk
marah dan sakit hati dengan apa yang kamu lakukan. Seharusnya aku malu Yun!”
“Malu
karena apa Vind?”
“Malu arena
aku belum bisa seperti kamu.” Jawabku pelan tapi pasti.
“Masalah
Hidayah, rahasia Allah Vind, mungkin memang belum saatnya bagimu untuk
menemukan itu semua, tapi bisa jadi hari esoklah harinya”.
“Mungkin….ya
sudahlah Yun kalau begitu. Terima kasih atas semua penjelasannya. Semua
membantu aku. Asslamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam”.
Kumatikan
handphoneku. Aku hampiri jendela kamarku dengan perasaan lega. Tidak ada rasa
sakit yang mendera di hati ini. Kini aku yakin kemunculannya secara tiba-tiba
di hatiku hanya sebatas persinggahan saja. Hanya untuk mencari tahu saja apa
untuk saat ini Yuni masih mencintaiku walaupun kita tidak pernah tidak
berhubungan selama kurang lebih satu tahun.
Aku merasa
lega akhirnya semua ini selesai dengan baik tanpa ada yang merasa tersakiti.
Kalau kondisinya seperti ini aku yakin, wajah Yuni yang singgah di hatiku dan
goresan cintaku kepadanya akan hilang dari pikiranku hanya dalam beberapa hari
saja.
“3 hari
saja. I promise”.
***
Hari ini
lebih cerah dari biasanya. Aku merasa sangat enak kalau nyantai di taman
sekolah sambil minum es kelapa. Walaupun sendiri, yang penting enjoy. Butek
juga habis menghadapi ulangan harian matematika. Aku duduk di bangku taman
nomor tiga, dekat dengan pohon akasia. Lumayan ramai juga suasananya. Nggak
sepi seperti kuburan. Kuminum es kelapa yang kubeli di kantin mak Ijah. Rasanya
segar sekali.
“Bos…Bosnia.
Ngapai lo melamun di sini sendirian?”
Suara Dygta
dengan nada yang cempreng mengejutkanku. Aku tidak bereaksi dengan suara atau
dengan kata-kata. Aku diam saja dan mengubah posisi dudukku. Dygta
menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Ngapa
fren? Yuni memang benar-benar nolak kamu lagi ya?” tanya Dygta sambil memegang
bahuku. Kelihatan seperti sok kalem.
Aku hanya
mengganggukkan kepala memberikan isyarat mengiyakan.
“Sudahlah
Vind, jangan dipikirkan seperti ini. Nanti yang sakit hati kamu juga kan? Kalau
kamu sakit hati bisa-bisa kamu jadi stress, kalalu kamu kelamaan stress ntar bisa jadi kamu gila. Kalau kamu gila kan
malu akunya. Ntar kata orang-orang masak si Dygta yang keren dan macho punya
teman orang gila. Nggak lucukan?” ucapnya dengan nada yang kedengarannya sangat
menyedhkan.
“Ah sialan
lo JAT, masih aja mau gokil-gokilan. Lagipula siapa yang stress. Aku bukan lagi
sakit hati tau! Tapi sekarang aku lagi bingung”
“Bingung
kenapa dek?” ledeknya dengan menggunakan dialek madura.
“Bingung
aja! Kemaren tiba-tiba aku sangat mengharapkan Yuni agar bisa menjadi pacarku.
Tapi setelah ditolak yang kedua kalinya ini kenapa perasaanku biasa-biasa saja.
seperti hanya bermain-main saja”. ucapku lirih.
“Main apa?
Main cinta? he…bercanda. Itu sih kamu memang benar-benar nggak serius”.
“Aku
“
Jangan-jangan kamu sekarang ada suka sama seseorang.” Tanya Dygta sambil
menunjuk ke wajahku.
Aku
terkejut dengan tuduhannya. Dan ekspresi wajahku yang berubah tidak dapat aku
simpan lagi.
“Ngaak…nggak
ada” jawabku terpaksa berbohong.
“Jadi kalau
begitu perasaan kamu yang kemaren-kemaren itu Cuma penasaran aja, apakah dia
masih mau menerimamu apa tidak? Tapi waktu kamu mengawali CELEBEK kemaren, apa
tidak ada yang kamu rasakan sesuatu di hatimu?”
“Ada sih
tapi, nggak begitu kuat. Hanya teringat memori dulu saja. dan teringat dan
terbayang wajahnyapun jarang”.
“Wah payah
lo, jadi apa gunanya usaha kita ngejar dia kemaren?”
“I don’t know! Untungnya apa yang kita
lakukan tidak seperti dulu yang gila-gilaan. Hm….jadi kamu sekarang nggak usah
repot-repot lagi untuk bantu aku”.
“Tapi kalau
aku masih sangat membutukan bantuanmu loh!” ujar Dygta sedikit menggoda.
“Nolong
apaan?” tanyaku.
“Harim…”.
“Harim?
Apaan?”.
“Syareeva….
tolol!” teriaknya sambil mencubit kedua pipiku.
Aku
melepaskan tangannya dari pipiku. Aku malu dilihat sama siswa lain, ntar lahir
deh pikiran yang aneh-aneh.
“Iya”
jawabku ketus.
Tiba-tiba
angin menampar wajahku ketika aku mengucapkan kata IYA. Tidak kuat tapi sangat
terasa. Hal yang seperti itu juga yang kurasakan di hati ini ketika nama yang
disebutkan Dygta itu terasa menampar hatiku. Sedikit perih. Aku tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi pada diri ini. Yang pasti tamparan itu sedikit terasa.
Komentar
Posting Komentar