Langsung ke konten utama

SEGITIGA (BAB 5)



Tembok Ke Empat

Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku.
“Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah.
Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku ditolak Yuni untuk yang kedua kalinya, tidak ada sedikitpun rasa kecewa dan sakit hati yang menghampiri diriku. Aku jadi berfikir! Apakah sebenarnya aku tidak yakin akan perasaan ini? Atau apakah aku tidak bersungguh-sunggug mencintai dan mengharapkan Yuni saat ini? Kenapa aku merasa biasa-biasa saja?
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otak ini membuat kebingunganku semakin menjadi-jadi. Aku panik. Aku langsung masuk ke kamarku untuk mengambil hand phoneku.
“Aku harus telfon Yuni. Aku harus tahu sekarang apa alasan dari penolakannya kemaren yang sempat akan dia kemukakan. Aku ingin tahu apakah alasannya itu akan membuat hatiku sakit. Dengan ini aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini.”  Ujarku.
Kupencet nomor handphone Yuni kemudian aku panggil. Kutunggu beberapa saat. Belum ada diangkat-angkat. Selang beberapa lama.
“Halo Assalaamu’alaikum” jawabnya.
“Wa’alaikum salam. Ini Yuni?”
“Iya…betul, ini siapa ya kalau boleh tahu?”
“Yun, ini Vindra. Ini nomor handphoneku yang sekarang.”
“Oh Vindra…ada apa Vind?”
“Eh..Yun aku mau ngomong tentang masalah kemaren siang, pertanyaan yang belum sempat kamu jawab itu”.
“Masalah yang alasan aku itu? Vind, apa aku harus sekarang jawabnya? Apa nggak bisa dilain waktu?”
“Kalau bisa sekarang Yun, kamu tahu di dalam hati dan pikiran ini ada rasa penasaran yang bercokol berat. Yun, please…biar rasa penasaran yang bertumpuk-tumpuk ini segera menghilang. Setidaknya kamu telah membuat aku tenang. Rasanya capek Yun kalau kepikiran terus”.
Yuni terdiam sejenak. Dari speaker handphoneku, aia terdengar seperti sedang menarik nafas dalam-dalam.
“Baiklah Vind kalau itu yang memang kamu inginkan. Aku harap kamu tidak akan marah dan sakit hati setelah mendengar apa yang aku katakana nanti”.
“Iya…aku janji.” Jawabku pelan.
“Vind, ada yang menghalangiku untuk menerima cintamu sekarang. Dan asal kamu tahu halangan ini akan selalu ada dihadapanku bagi siapa saja yang mengharapkanku menjadi pacarnya. Aku tidak bisa melawan hal ini Vind karena penghalang ini adalah fitrah kita dan sebuah kewajiban yang harus dijalankan.”
Dahiku berkerut. Aku tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan panjang lebar.
“Yun aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Kalau boleh, tolong Yun kamu sebutkan to the point aja”.
Yuni terdiam lagi dan kali ini juga terdengar suara ia menghela nafas panjang.
“Agama kita melarang pacaran Vind. Zina mata, zina hati, zina pikiran dan zina sentuhan, itu semua jelas dilarang Vind dan sekarang aku sadar Vin kalau semua itu adalah perbuatan dosa. Vind, maaf jika jawaban ini akam mengecewakanmu dan maafkan juga bukan bermaksud untuk menceramahimu karena buatku sekarang dan untuk masa depanku ta’aruf lebih baik daripada pacaran. Lebih indah dan terhormat.”
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan yang dibicarakan oleh Yuni. Yuni sekarang telah berubah tidak seperti Yuni yang dulu lagi. Aku benar-benar terdiam.
“Vind, aku moon jangan marah apalagi sakit hati. Ini kewajiban yang harus aku jalankan Vind”.
Kini giliran aku yang menghela nafas panjang. Pikiranku biasa-biasa saja tanpa ada rasa marah, kecewa, apalagi sakit hati.
“Yun kenapa aku harus marah dan sakit hati? Setiap orang berhak menjalani hidupnya dan memilih jalan hidupnya yang dianggap baik dan kamu telah memilih jalan itu. Jika dengan jalan itu kamu merasa hidup lebih baik, kenapa aku harus protes? Malah seharusnya aku senang. Lagipula aku bukan siapa-siapa yang berhak untuk marah dan sakit hati dengan apa yang kamu lakukan. Seharusnya aku malu Yun!”
“Malu karena apa Vind?”
“Malu arena aku belum bisa seperti kamu.” Jawabku pelan tapi pasti.
“Masalah Hidayah, rahasia Allah Vind, mungkin memang belum saatnya bagimu untuk menemukan itu semua, tapi bisa jadi hari esoklah harinya”.
“Mungkin….ya sudahlah Yun kalau begitu. Terima kasih atas semua penjelasannya. Semua membantu aku. Asslamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam”.
Kumatikan handphoneku. Aku hampiri jendela kamarku dengan perasaan lega. Tidak ada rasa sakit yang mendera di hati ini. Kini aku yakin kemunculannya secara tiba-tiba di hatiku hanya sebatas persinggahan saja. Hanya untuk mencari tahu saja apa untuk saat ini Yuni masih mencintaiku walaupun kita tidak pernah tidak berhubungan selama kurang lebih satu tahun.
Aku merasa lega akhirnya semua ini selesai dengan baik tanpa ada yang merasa tersakiti. Kalau kondisinya seperti ini aku yakin, wajah Yuni yang singgah di hatiku dan goresan cintaku kepadanya akan hilang dari pikiranku hanya dalam beberapa hari saja.
“3 hari saja. I promise”.

***

Hari ini lebih cerah dari biasanya. Aku merasa sangat enak kalau nyantai di taman sekolah sambil minum es kelapa. Walaupun sendiri, yang penting enjoy. Butek juga habis menghadapi ulangan harian matematika. Aku duduk di bangku taman nomor tiga, dekat dengan pohon akasia. Lumayan ramai juga suasananya. Nggak sepi seperti kuburan. Kuminum es kelapa yang kubeli di kantin mak Ijah. Rasanya segar sekali.
“Bos…Bosnia. Ngapai lo melamun di sini sendirian?”
Suara Dygta dengan nada yang cempreng mengejutkanku. Aku tidak bereaksi dengan suara atau dengan kata-kata. Aku diam saja dan mengubah posisi dudukku. Dygta menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Ngapa fren? Yuni memang benar-benar nolak kamu lagi ya?” tanya Dygta sambil memegang bahuku. Kelihatan seperti sok kalem.
Aku hanya mengganggukkan kepala memberikan isyarat mengiyakan.
“Sudahlah Vind, jangan dipikirkan seperti ini. Nanti yang sakit hati kamu juga kan? Kalau kamu sakit hati bisa-bisa kamu jadi stress, kalalu kamu kelamaan stress  ntar bisa jadi kamu gila. Kalau kamu gila kan malu akunya. Ntar kata orang-orang masak si Dygta yang keren dan macho punya teman orang gila. Nggak lucukan?” ucapnya dengan nada yang kedengarannya sangat menyedhkan.
“Ah sialan lo JAT, masih aja mau gokil-gokilan. Lagipula siapa yang stress. Aku bukan lagi sakit hati tau! Tapi sekarang aku lagi bingung”
“Bingung kenapa dek?” ledeknya dengan menggunakan dialek madura.
“Bingung aja! Kemaren tiba-tiba aku sangat mengharapkan Yuni agar bisa menjadi pacarku. Tapi setelah ditolak yang kedua kalinya ini kenapa perasaanku biasa-biasa saja. seperti hanya bermain-main saja”. ucapku lirih.
“Main apa? Main cinta? he…bercanda. Itu sih kamu memang benar-benar nggak serius”.
“Aku
“ Jangan-jangan kamu sekarang ada suka sama seseorang.” Tanya Dygta sambil menunjuk ke wajahku.
Aku terkejut dengan tuduhannya. Dan ekspresi wajahku yang berubah tidak dapat aku simpan lagi.
“Ngaak…nggak ada” jawabku terpaksa berbohong.
“Jadi kalau begitu perasaan kamu yang kemaren-kemaren itu Cuma penasaran aja, apakah dia masih mau menerimamu apa tidak? Tapi waktu kamu mengawali CELEBEK kemaren, apa tidak ada yang kamu rasakan sesuatu di hatimu?”
“Ada sih tapi, nggak begitu kuat. Hanya teringat memori dulu saja. dan teringat dan terbayang wajahnyapun jarang”.
“Wah payah lo, jadi apa gunanya usaha kita ngejar dia kemaren?”
I don’t know! Untungnya apa yang kita lakukan tidak seperti dulu yang gila-gilaan. Hm….jadi kamu sekarang nggak usah repot-repot lagi untuk bantu aku”.
“Tapi kalau aku masih sangat membutukan bantuanmu loh!” ujar Dygta sedikit menggoda.
“Nolong apaan?” tanyaku.
“Harim…”.
“Harim? Apaan?”.
“Syareeva…. tolol!” teriaknya sambil mencubit kedua pipiku.
Aku melepaskan tangannya dari pipiku. Aku malu dilihat sama siswa lain, ntar lahir deh pikiran yang aneh-aneh.
“Iya” jawabku ketus.
Tiba-tiba angin menampar wajahku ketika aku mengucapkan kata IYA. Tidak kuat tapi sangat terasa. Hal yang seperti itu juga yang kurasakan di hati ini ketika nama yang disebutkan Dygta itu terasa menampar hatiku. Sedikit perih. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri ini. Yang pasti tamparan itu sedikit terasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura