Langsung ke konten utama

Akhir di Awal Cinta


Semburat kemerahan baru saja muncul dari ufuk timur langit, merahnya syarat dengan pancaran semangat manusia untuk beraktivitas di pagi hari. Nyanyian merdu burung punai mulai terdengar di atas rimbunnya pohon-pohon nan hijau yang berserakan  di atas tanah kota ini, semerdu nyanyian hati seorang manusia ketika menapaki hari yang baru. Kota Mempawah memang cerah pagi ini, penghuni kota sudah mulai bertebaran dengan segala aktifitas masing-masing, mulai dari pekerja kantoran, para pedagang sayuran, buah-buahan, daging dan segala perabotan rumah tangga lainnya. semuanya menghayati dan menjalankan dengan sungguh-sungguh dengan kegiatan mereka tersebut. Semangat mereka yang membara seiring dengan suasana yang sangat bersahabat dari atmosfer kota hari ini. Kota Mempawah memang bukan kota yang besar, bukan seperti kota Pontianak yang terkenal dengan keramaiannya, mallnya, ataupun hotel-hotel berbintangnya, meskipun demikian setidaknya di kota ini sangat berbeda tidak ada kemacetan, polusi udara tidak terlalu tinggi, pohon hijau nan berseri masih dapat dilihat dari sudut manapun, dan yang paling penting adalah sejuknya. Sangat sejuk.
Tidak ketinggalan pula semangat Ningsih dipagi ini. Sejak subuh ia telah membuat kue untuk dijual, pekerjaan rutin yang setiap hari ia kerjakan untuk membantu Ibunya yang mencari nafkah sendirian setelah ayahnya meninggal empat tahun yang lalu.
”Bu…Ningsih berangkat ke pasar dulu, Ningsih lupa kalau Mbah Inem minta pesanan kue hitam manisnya diantarkan lebih awal” ucap Ningsih dengan nada setengah berteriak dari teras rumahnya.
”Apa tidak terlalu awal Ning? Biasanya kamu pergi jam setengah delapan? Sekarang masih jam tujuh kurang lima belas menit” tanya Bu Darmi heran.
”Soalnya kemarin Mbah Inem bilang kalau hari ini beliau jualan lebih awal.  Jadi tutupnya juga awal, karena ada acara nikahan keponakannya”  jawab Ningsih sambil mengangkat kue-kue dagangannya yang telah dibungkus dengan kantong plastik hitam.
”Oh... ya sudah kalau begitu. Jangan lupa Ning, sisa uang kemaren kalau bisa diambil hari ini ya. Jangan lupa juga sampaikan salam Ibu untuk Mbah Inem” ujar Bu Darmi.
Ningsih menganggukkan kepala. Ia lalu menciumi tangan Ibunya sebelum pergi.
”Bu, Ningsih pergi dulu. Assalaamu’alaikum” pamit Ningsih sambil berjalan meninggalkan Ibunya.
Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan Ning” ucap Bu Darmi.
Ningsih hanya menoleh sambil menganggukan kepalanya kemudian berlalu.
Entah mengapa hari ini Bu Darmi merasakan ada suatu kecemasan yang menyusup di dalam hatinya. Kecemasan akan sesuatu hal buruk yang akan menimpa anak perempuan satu-satunya itu.
”Ya Allah, semoga tidak terjadi hal yang buruk terhadap Ningsih” ucap bu Darmi pelan sambil memperhatikan setiap langkah Ningsih hingga menghilang di persimpangan gang.
Ningsih berjalan dengan santai yang diiringi senyuman manis dan tersapu uraian kerudung hijaunya yang diterpa oleh angin. Sesekali ia menahan kerudungnya agar tidak terangkat lebih tinggi. Angin memang sedang kencang-kencangnya meniupi kota Mempawah ini, apalagi bulan ini adalah bulan November. Bulan dimana angin laut setiap tahunnya akan menyinggahi kota ini dengan tiupan yang relatif kencang.
”Mudah-mudahan saja hari ini penjualan kue lebih meningkat meskipun Mbah Inem tutupnya lebih awal. Kasihan Ibu, obat batuknya sudah habis” batin Ningsih.
Warung kue Mbah Inem tinggal beberapa meter lagi. Ningsih agak mempercepat langkah kakinya. Sesekali terdengar ia bernyanyi kecil. Menyanyikan sebuah lagu yang telah digemarinya ketika ia masih kecil, yaitu lagu ”Surga di Telapak Kaki Ibu”. Lagu yang selalu ditembangkan ibunya setiap waktu tidur tiba. Ia sangat menikmatinya, sampai-sampai alunan senandung lagu yang diucapkannya membuatnya terbuai sendiri. hingga ia tersadar kalau warung kue Mbah Inem pun sudah berada tepat di depan matanya, tepatnya diseberang jalan dimana ia berdiri.
Ningsih langsung saja menyebrang jalan tanpa melihat kanan dan kiri jalan. Dari arah kanan tiba-tiba saja muncul sebuah mobil yang dikendarai dengan kecepatan tinggi. Dengan waktu yang sangat singkat, kijang Innova itu sudah berjarak kurang lebih 100 meter dari tubuh Ningsih.
”Tiiit...tit......”
Suara klakson bernada tinggi itu tentu saja membuat Ningsih refleks menoleh ke bagian kanan jalan.
Allahuakbar” ucap Ningsih. Kantong plastik bersisi kue yang dijinjingnya jatuh ke badan jalan, tubuhnya kaku dan tidak ada sedikitpun gerakan untuk menghindari dari besi maut dengan kelajuan yang tinggi itu. Ia hanya berdiam.
”Tiiit...tiit...” klakson mobil itu berbunyi untuk kedua kalinya.
Ningsih memejamkan matanya, seakan pasrah dan siap untuk mati dalam kondisi tergilas oleh mobil tersebut.
”Tiiiiiiiiiit”
”Buuk”
            ”Ya Tuhan!”
Suara tubuhnya yang terjatuh dan suara teriakan seseorang bernada bass membuat ia membuka matanya. Ia sadar dan tahu bahwa ada seseorang yang telah menolongnya. Pria itu melepaskan pelukan yang terjadi karena menyelamatkan Ningsih dari ancaman mobil maut itu. Ia berdiri dan tampak terlihat mengambil sesuatu yang ia jatuhkan. Ningsih pun bangkit, ia hanya terdiam dan melihat pria itu dengan tatapan kosong.
”Bodoh! Sudah sebesar ini masih saja belum paham kalau mau menyebrang itu harus lihat kanan-kiri dulu” gerutu pria itu sambil mengambil tasnya yang jatuh ketika ia menolong Ningsih.
”Terimakasih Bang” ucap Ningsih datar.
Pria itu tidak bereaksi. Tapi kelihatannya ia sedikit resah. Ia pangling kanan-kiri.
”Woi maling, jangan lari...!”
Teriakan yang berasal dari sekelompok orang yang tak dikenal itu membuat Pria itu terkejut dan berlari dengan tergesa-gesa tanpa berkata sesuatu kepada Ningsih.
”Bang...terimakasih” teriak Ningsih.
Pria itu hanya menoleh. Ningsih pun tidak mengejarnya lagi, ia tahu bahwa pria yang menolongnya itu ada seorang maling. Tas wanita dan teriakan massa itu buktinya. Walaupun pria itu seorang maling, ia berharap agar pria yang telah menolongnya itu tidak tertangkap oleh massa dan juga berharap ingin bertemu lagi dikemudian hari untuk bertanya siapa namanya. Nama seorang yang telah membantunya dari maut yang mencengkeram.
”Ya Allah, jika tidak ada pria itu mungkin aku sudah menghadapmu. Jalan sepi seperti ini siapa yang akan menolongku selain dia. Lindungilah dia” ucap Ningsih sambil mngambil kuenya yang jatuh.
”Alhamdulillah, kuenya masih utuh” ucapnya senang.
Mbah Inem ternyata sudah ada di depan tokonya, ningsih menghampiri.
”Ningsih, ada apa tadi ribut-ribut? Rasanya mbah tadi mendengar ada orang menyebut kata maling?”
Pertanyaan Mbah Inem membuat ningsih kaget.
”Ah tidak ada apa-apa Mbah. Cuma tadi kayaknya orang-orang lagi mengejar pencopet. Tapi yang kecopetan bukan orang sini kayaknya” ucap Ningsih menjawab pertanyaan Mbah Inem.
”Oh... tapi tumben ya ada rampok di daerah sini. Biasanya tidak ada, oh ya ayo masuk dulu Ning”.
Ningsih mengangguk dan masuk ke warung Mbah Inem.
”Syukurlah Mbah Inem tidak tahu tentang kejadian aku yang hampir ditabrak mobil tadi. Kalau bisa jangan sampai tahu, nanti Mbah Inem cerita dengan Ibu. Bisa gawat kalau Ibu sampai tahu” ucap Ningsih di dalam hati.
”Ningsih, kok bengong? Ada apa?” tanya Mbah Inem yang melihat ada sedikit kekhawatiran di wajah Ningsih.
”Oh... tidak ada apa-apa Mbah. Oh iya Mbah, ini titipan kuenya. Empat puluh buah ya Mbah”.
”Empat puluh ya, mudah-mudahan habis semua hari ini”.
”Amin. Mbah, kalau misalnya hari ini kue Ningsih terjual habis, boleh tidak Ningsih langsung mengambil uangnya, soalnya untuk beli obat buat Ibu”.
”Oh iya, tidak apa-apa nanti Mbah langsung bayar semuanya” jawab Mbah Inem sambil memegang pundaknya.
”Terimakasih ya Mbah, kalau begitu Ningsih pulang dulu, kasihan Ibu sendirian di rumah” pamit Ningsih.
”Baiklah, salam untuk Ibumu”
”Iya Mbah, Assalamu’alaikum”.
Wa’alaikumsalam”.
Ningsih melangkahkan kakinya untuk pulang. Kini ia lebih berhati-hati lagi karena takut kelalaiannya itu terulang kembali. Dalam perjalanan pulang, hanya satu yang ada dipikirannya yaitu sebuah pertanyaan yang selalu terlintas diotaknya ” siapa nama pria itu”.
Sesampainya di rumah, Bu Darmi langsung bertanya apakah Ningsih baik-baik saja. Dia bilang baik-baik saja dan ia tidak bercerita tentang kecelakaan maut hampir menimpanya tadi. Ia takut nanti ibunya terlalu khawatir dan stres.
***
Dua hari sudah kejadian itu berlalu. Ningsih masih saja kepikiran dengan pria yang menolongnya itu. Ia berharap setidaknya ia tahu siapa namanya, nama orang yang telah dia anggap sebagai pahlawan penyelamat nyawanya.
Semakin terik matahari yang mulai naik di siang itu membuat Ningsih semakin bersemangat untuk datang kembali di seberang jalan warung Mbah Inem, tempat dimana ia bertemu pertama kali dengan pria itu. Ia berharap hari ini akan bertemu kembali di tempat itu juga. hari pertama pencariannya di tempat yang sama tidak membuahkan hasil, tapi kali ini ia yakin hari ini bisa bertemu kembali dengan pria itu.
Sudah tiga jam Ningsih menunggu dan berharap agar bertemu dengan pria itu, tapi sampai sekarang tidak ada sedikitpun kelihatan batang hidungnya di persimpangan.  Tidak bosan-bosannya ia mondar mandir dari ujung ke ujung, tidak letih pula kepalanya yang dari tadi hanya menoleh ke segala arah untuk memenuhi harapannya itu.
”Sudah jam sepuluh lewat lima menit, belum ketemu juga dengan abang itu. Ya sudahlah masih ada hari esok mungkin akan ketemu” batin Ningsih.
Ia berjalan dengan semangat walaupun hari ini dia gagal bertemu dengan pria itu. Ia hendak pulang kerumah, tetapi sebelum pulang ia singgah dulu ke toko obat yang ada di dekat tugu Tani. Obat batuk Ibunya sudah habis.
 Baru saja ia mau masuk ke dalam toko obat itu, tiba-tiba saja matanya menyorot seorang pria yang sedang duduk bersama anak kecil di pinggiran sungai Taman Alun-Alun di samping toko obat yang akan disinggahinya itu.
”Bang...” teriak Ningsih menuju ke arah taman alun-alun. Sepertinya ia lupa akan tujuannya untuk membeli obat.
Pria dan anak kecil yang bersamanya itu tampak kaget setelah mendengar teriakan dari Ningsih. Ningsih pun mendekati mereka.
”Bang, masih ingat saya?” tanya Ningsih dengan nafas yang tidak teratur.
”Masih, cewek yang ingin mati cepat dimana orang lain berharap agar bisa hidup lebih lama” jawab pria itu sedikit ketus.
”Kakak ini siapa bang?” tanya anak kecil yang duduk di sampingnya.
”Ah bukan siapa-siapa’.
”Pacar abang ya?” tanya anak kecil itu lagi.
”Huss...anak kecil tidak boleh bertanya seperti itu!” ucap pria itu, persis seperti seorang abang yang menasehati adiknya. Tapi sedikit emosi.
”Kakak pacarnya Bang Teguh ya?” tanya anak kecil itu lagi, tapi kali ini bertanya kepada Ningsih.
Ningsih hanya tersenyum.
”Adik namanya siapa?” tanya Ningsih.
”Edo kak” jawab Edo dengan Polos.
”Memangnya Edo tahu artinya pacar?”
“Tidak tahu kak” jawab Edo lagi.
”Makanya kalau tidak tahu itu jangan asal ngomong, Abangkan tidak mengajarkan berbicara seperti itu” ketus Teguh sambil memukul kepalanya pelan.
”Jangan dipukul dong Bang, kasihan Adiknya” bela Ningsih.
Pria itu diam dan mengalihkan pandangannya.
”Oh ya Bang sampai lupa. Nama saya Ningsih” ucap Ningsih sambil menyodorkan tangannya dengan maksud untuk bersalaman.
”Teguh” jawabnya singkat tanpa membalas jabatan Ningsih.
”Sebenarnya Ningsih udah nyari Abang dari dua hari yang lalu, Ningsih mau ngucapin terima kasih atas pertolongannya tempo hari”
”Ngapain sih aku dicari? biasa saja, cuma kayak gitu aja kok sampai segitunya. Lagian heran, orang zaman kayak sekarang kayak kamu itu pengennya cepat mati, jujur saja ya aku malahan kalau bisa ingin hidup lebih lama. Masih banyak yang harus dipikirkan, masih banyak yang harus dikerjakan” ujar Teguh.
”Memangnya siapa yang mau bunuh diri Bang?” tanya Ningsih penasaran.
”Kemaren itu ngapain nyari mati di tengah jalan biar ditabrak mobil?”
”Ya ampun Bang, siapa juga yang mau bunuh diri? Kayak Ningsih tidak ada iman saja. Kemaren itu Ningsih menyebrang tidak lihat kiri-kanan, makanya tidak tahu ada mobil yang mau melintas” jawab Ningsih menjelaskan pertanyaan Teguh.
”Huh...dasar tidak lulus SD” ledek Teguh dengan nada yang sedikit ketus.
”Luluslah Bang, Ada-ada saja Abang ini. Memangnya apa hubungan lulus dengan menyebrang jalan?” tanya Ningsih balik.
”Ya iyalah, dari dulu itu yang namanya anak SD itu diajarkan sama guru kalau menyebrang jalan itu harus lihat kiri dan kanan!” jawab Teguh ketus. Sepertinya ia kesal dengan pertanyaan Ningsih yang dinilainya sok polos itu.
”Apaan sih Bang? Edo tidak ngerti” ucap Edo.
”Makanya kalau kamu sekolah nanti dengerin kata Bu Guru kalau menyebrang itu harus lihat kanan an kiri dulu biar tidak ditabrak mobil atau motor” jawab Teguh semakin ketus sambil memandang ke arah Ningsih.
”Jangan marah gitu dong. Oh ya bang, Ningsih mau tanya...”
”Kak, baju Edo bagus tidak? Ini baju baru loh. Kemaren dibelikan Bang Teguh. Soalnya kemaren Bang Teguh dapat uang banyak dari hasil bekerja. Teman-teman panti lain juga dibelikan” potong Edo.
”Heh Edo, tidak perlu bilang-bilang” ucap Teguh sambil memukul kepalanya lagi.
”Bagus... gambar Naruto lagi. Pasti Edo suka”.
”Iya dong kak”
”Tadi mau tanya apa?” celetuk Teguh  mengalihkan pembicaran dengan nada yang datar.
Ningsih terdiam sejenak. Tidak mungkin ia melanjutkan pertanyaan kenapa Teguh mau menjadi seorang rampok. Mendengar kata-kata yang diucapkan Edo tadi ia yakin bahwa Edo tidak tahu kalau Abangnya itu adalah seorang rampok.
”Apa? Tadikan mau tanya” ucap Teguh mengingatkan.
”Ah tidak. Tidak jadi”.
”Gila!” teriak Teguh dengan wajah masam.
Ningsih diam saja mendengarnya.
”Teguh......”
Tiba-tiba saja terdengar teriakan seorang laki-laki memanggil nama Teguh dari arah gerbang masuk taman alun-alun. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan sedikit menyeramkan. Langsung saja Teguh menghampiri pria tersebut tanpa pamit. Ia tampak membawa pria itu jauh dari pandangan Ningsih dan Edo.
”Itu siapa Do?” tanya Ningsih.
”Edo tidak tahu kak, mungkin teman Bang Teguh” jawab Edo.
”Oh... Eh Do, kakak mau tanya, Bang Teguh itu Abang kandung Edo ya?”
”Bukan kak, Bang Teguh itu bukan Abang kandung Edo. Cuma di rumah kami itu yang mengurus Edo itu Bang Teguh” jawab Edo lagi.
”Oh bukan Abang Edo?” tanya Ningsih lagi untuk meyakinkan.
”Bukan kak, tapi Bang Teguh yang kasih makan untuk Edo. Pokoknya Bang Teguh itu baik deh kak”.
”Terus suka marah-marah tidak?”
”Kalau Edo nakal, pasti dimarahin Bang Teguh” jawab Edo lagi.
Ningsih mengangguk-anggukkan kepala.
”Terus Edo Tahu tidak kerja Bang teguh itu apaan?” tsnys Ningsih lagi.
”Nggak tahu kak, tapi Bang Teguh itu baik sekali. Kalau Abang lagi banyak uang, pasti Edo dibelikan makanan yang enak, dibelikan mainan, bahkan Edo juga disekolahkan di SD kak” ucap Edo dengan kepolosannya.
”Oh begitu ya”
”Kenapa Kak? Kakak suka ya dengan Bang Edo?” ledek Edo dengan tertawa.
”Huss...anak kecil tidak tidak boleh tahu” balas Ningsih sambil mengusap wajahnya yang lembut.
”Edo, ayo kita pulang! Abang malam ini harus kerja jadi mau siap-siap”
Teriakan Teguh yang masih bersama dengan pria tidak dikenal itu terdengar keras ditelinga Edo dan Ningsih.
”Kak, kayaknya Edo harus pulang dulu nih. Kayaknya Abang mau ada kerjaan deh” ucap Edo sambil bersiap untuk pergi.
”Yah, padahalkan kakak masih kepingin ngobrol-ngobrol dengan Edo lebih lama lagi” ucap Ningsih.
”Edo... ayo cepat” teriak Teguh lagi.
”Iya bang!” balas Edo.
”Kak kalau mau ketemu Edo lagi, atau ketemu Bang Teguh datang saja ke sini! Setiap sabtu sore pasti kami datang ke sini. Ok kak?” ucap Edo sambil berlari ke arah Teguh.
Ningsih mengangguk. Edo semakin jauh berlari.
”Eh...Edo...alamat rumahnya dimana?” tanya Ningsih kemudian.
Teguh langsung membawa Edo pulang dengan segera sehingga Edo tidak sempat menjawab teriakan Ningsih itu. Mereka menaiki oplet jurusan Kampung Pasir dan Sungai Kunyit.
”Pasti rumahnya disekitar sana” gumam Ningsih.
”Tapi teguh dingin sekali, pulang nggak pamit. Dasar!” lirihnya.
***
Seminggu setelah pertemuan tidak disangka itu membuat hati dan pikiran Ningsih semakin tidak karuan. Yang ada di dalam otaknya hanya ada ukiran nama Teguh. Meskipun baru berkenalan dan sikapnya yang menurutnya relatif dingin kepadanya, ingatan akan pertolongan Teguh itu mengalahkan segalanya. Ia tidak tahu apakah ini yang namanya perasaan suka, karena iapun belum tahu hakikat perasaan suka itu, yang pasti nama Teguhlah yang ada di hatinya.
”Ning, kok sudah seminggu ini Ibu lihat kamu suka senyum-senyum sendiri? Ada apa sih kalau Ibu boleh tahu?” tanya Ibunya yang keheranan melihat kelakuan Ningsih yang aneh.
”Ah ibu, biasa aja. Memangnya senyum itu dilarang?” jawab Ningsih menyangkal pertanyaan ibunya.
”Biasanya kamu tidak seperti itu, apa kamu ada naksir sama cowok? Atau jangan-jangan kamu sudah gila karena cowok” ledek Ibunya sambil mengemaskan piring sehabis makan siang.
”Ibu ini ada-ada saja, kenapa harus gila sama cowok?” bantahnya lagi.
”Bilang saja sama Ibu, kamu ada suka sama cowok kan?” ucap Ibunya lebih meyakinkan.
”Nggak kok Bu, baru kenalan saja” ucapnya malu-malu sambil membawa sayur sisa ke dapur.
”Kamu sudah besar Ning, umurmu sudah 21 tahun. Ibu sih tidak melarang kamu punya pacar, tapi ibu cuma mengingatkan kalau mencari pacar itu harus yang dekat dengan Allah supaya kamu juga bisa dibimbingnya”.
”Iya Bu, Ningsih ngerti kok” jawabnya pelan.
Ia terdiam setelah mendengar perkataan Ibunya itu, ia memikirkan nama Teguh yang telah ada di hati dan pikirannya. Ia tidak yakin Ibunya senang jika Ibunya tahu kalau ia suka pada seorang cowok yang notabene adalah seorang maling. Apa yang harus ia katakan tentang Teguh kepada Ibunya? Ia pun bingung dan mungkin tidak tahu sama sekali.
”Ningsih, kok melamun? Memangnya siapa sih cowok itu?” tanya Ibunya memecah lamumannya.
Ningsih tersadar, ia lupa kalau hari ini adalah hari dimana Teguh dan Edo pergi ke Taman Alun-alun. Ia janji akan ketemu lagi dengan Edo hari ini. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 13.00
”Oh iya bu, hampir saja kelupaan. Hari ini Ningsih ada janji dengan Mbah Inem untuk mengambil sisa uang penjualan kue kemaren, janjinya setengah dua nanti” ucap Ningsih tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
”Loh... katanya besok”
”Nggak Bu, hari ini. Ningsih lupa bukan besok tapi hari ini” ucapnya tergesa-gesa dari dapur. Ia mengambil kerudungnya dan memasangnya dengan cepat.
”Bu, Ningsih pergi dulu, tidak enak dengan Mbah Inem kalau telat. Assalamu’alaikum” ucapnya tanpa bersalaman dengan Ibunya.
Wa’alaikumsalam. Hati-hati Ning?”
”Aneh!” ucap Ibunya melihat Ningsih seperti itu.
Dengan tergesa-gesa Ningsih berjalan menuju Taman Alun-Alun. Ketika sampai di depan warung Mbah Inem, Ningsih mampir sebentar hanya karena ia bilang ke Ibunya mau pergi ke warung Mbah Inem tadi. Tidak lama ia mampir, hanya sekitar sepuluh menit saja karena tujuan utamanya bukan pergi ke warung Mbah Inem.
”Mbah, Ning pamit ya soalnya ada janji dengan teman, ehm...mbah, koran ini Ningsih bawa ya, sudah seminggu tidak baca koran. He...he...” pamit Ningsih sambil tertawa ketika ia meminta koran dengan Mbah inem.
”Ambil saja Ning, tapi itu koran tiga hari yang lalu. Eh tidak mimum dulu Ning?”
”Nggak usah deh Mbah”
”Ya sudah kalau begitu, oh iya...Ini uang sisa kemaren”
”Terimakasih mbah, Ningsih pergi dulu. Assalamu’alaikum
Wa’alaikum salam”.
Secepatnya Ningsih meninggalkan warung Mbah Inem agar dapat cepat sampai di Taman Alun-alun. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Teguh dan Edo lagi. Sambil berjalan, ia membaca koran yang dimintanya tadi. Barus saja ia selesai membaca halaman belakang koran yang merupakan kolom artis, ia telah sampai di depan taman Alun-alun. Ia menoleh ke segala arah taman agar dapat menemukan Teguh atau Edo.
”Edo...” teriak Ningsih setelah menemukan Edo di bawah pohon beringin yang ada di ujung taman.
Edo hanya diam saja dan terlihat seperti menangis. Ningsih langsung menghampirinya.
”Edo...kenapa Edo menangis?” tanya Ningsih kemudian ia menoleh ke arah taman lain. Edo masih saja menangis.
”Edo kok sendirian saja? Bang Teguh mana?” tanya Ningsih lagi.
Edo hanya menggelengkan kepala dalam keadaan masih berurai air mata.
”Bang Teguh ninggalin Edo ya?”
Edo menganggukkan kepalanya kemudian langsung memeluk Ningsih.
“Bang Teguh kak…Bang Teguh meninggal” ucap Edo tersedu-sedan.
Mendengar perkataan Edo, Ningsih diam mematung. Tiba-tiba saja air mata berurai cepat. Ia memeluk Edo dengan erat.
”Kenapa Do?”
”Ditembak polisi kak”.
Innalillahi wainna ilaihi rajiun” ucap Ningsih.
”Kenapa sih kak pak polisi itu menembak Bang Teguh?” tanya Edo dengan iringan air mata.
Ningsih terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. kali ini ia merasakan rasa kehilangan seseorang yang mendalam walaupun antara mereka hanya baru bertemu dua kali.
”Kapan Bang Teguh meninggal Do?”
”Tiga hari yang lalu kak”.
Ia terkejut. Dengan segera Ningsih mengambil koran yang dimintanya tadi di warung Mbah Inem. Ia teringat kalau koran itu adalah koran tiga hari yang lalu. Ia membuka halaman depan yang belum sempat dilihat dan dibacanya.        
   
PELAKU PERAMPOKAN BANK BRI CABANG
PINYUH TEWAS DITEMBUS PELURU MAUT



Mempawah Post- Pinyuh. Pelaku perampokan Bank BRI cabang Pinyuh (03/06/2008) yang berinisial Tg tewas di tempat setelah ditembak polisi yang mengenai tepat dibagian dadanya. Pelaku diperkirakan merupakan komplotan rampok yang sering melakukan aksi kejahatan di daerah sungai Kunyit, Mempawah Hilir dan Pinyuh. AKP Edi Sunarto mengatakan bahwa penembakan Tg telah sesuai dengan prosedur yang sesuai karena pelaku melarikan diri walaupun telah dilakukan tembakan peringatan.........



Baru saja setengah berita yang dibacanya membuat tangisannya semakin menjadi. Ia tidak menyangka pertemuan dan perkenalan minggu lalu di Taman ini juga merupakan pertemuan yang terakhir mereka berdua. Awal dan akhir yang terjadi pada sabtu lalu.
Angin semilir menerpa pipinya yang beruraian air mata. Kerudung hijaunya yang bersihpun ikut beruraian seperti air matanya. Ia teringat perkataan Teguh seminggu yang lalu.
”...jujur saja ya aku malahan kalau bisa ingin hidup lebih lama. Masih banyak yang harus dipikirkan, masih banyak yang harus dikerjakan”.
Ia mengerti makna akan perkataan itu, hal yang harus dipikirkan dan dikerjakan Teguh itu adalah Edo. Dan Ningsih pun sadar kalau makna perkataan itu harus ia pikirkan. Menggantikan Teguh yang telah meninggalkan mereka selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura