Langsung ke konten utama

First Time in Campus


Beberapa bagian kehidupan kita selalu ada di kampus, saya selalu ingat bagaimana saya memutuskan untuk masuk di Biologi. Bukan main-main, ketertarikan saya dengan Biologi memang sudah mengakar kuat di otak saya semenjak SMP. Hanya itu?, berbekal nekat dengan keinginan sendiri apakah membuat kita mendapatkan jalan yang mudah ketika menjalani perkuliahan dan lika-liku hidupnya di Biologi? bisa Ya, bisa juga Tidak. Namun yang saya rasakan adalah, dengan kemauan dan kecintaan saya terhadap Biologi, semua terasa lebih mudah.


First Time in Campus

Hari ini adalah hari welcome party di kampus baruku sekaligus menandakan awal keidupanku sebagai seorang mahasiswa, tepatnya mahasiswan Biologi, FMIPA Universitas Tanjungpura. Waktu berjalan begitu cepatnya hingga tak terasa kalau aku daftar ulang pertama kali di akademik Untan adalah tiga bulan yang lalu, matrikulasi selama tiga minggu bagi mahasiswa Non-utul sudah berlalu satu bulan yang lalu dan pastinya Ospek BIOMA FMIPA baru berlalu 4 hari yang lalu. Ngomong-ngomong tentang OPSPEK, Ospeknya kali sangat melelahkan, mengayikkan sekaligus menegangkan, aku sering mendapatkan seri push up karena selalu salah dalam membawa barang.  Pada hari pertama Ospek kami disuruh bawa “buah inspirasi Newton” itukan sebenarnya buah apel merah, tapi yang kubawa malah buah apel hijau dari malang. Ketika diperiksa, apel punyaku sendiri yang warnanya beda. Melihat itu langsung aja seniorku berteriak:
“Kamu piker Isaac Newton orang Malang Apa?ambil posisi push up satu seri”.
 Malu sekali rasanya soalnya ditertawakan sama senior lain, mereka pikir aku ini oon banget gitukan dan pastinya capek disuruh seri lagi. Itu masih belum seberapa, hari kedua Ospek aku ketahuan membawa HP, aku sebenarnya sudah tahu kalau dalam masa Ospek tidak boleh bawa HP tapi, tadi aku memang benar-benar lupa meninggalkannya di rumah. Akhirnya ketahuanlah aku, parahnya aku dihukum dengan tingkat kesalahan yang sangat fatal. Aku disuruh berlari mengelilingi lapangan tanpa henti sambil meneriakkan “Aku lagak bawa HP”. Rasanya sudah mau mati saja karena putarannya tidak ditentukan harus berapa kali dilakukan pokoknya semau-mau hati sang seniorlah kapan mau memberhentikan. Uhhh, pokoknya capek abis.  
Sebenarnya hari ini aku masih capek sekali, rasanya aku tidak mau datang ke acara welcome party itu. Tapi berhubung aku mahasiswa baru di fakultas ini, setidaknya aku harus menunjukkan iktikad yang baik kepada seluruh civitas akademika di kampus ini. Toh juga untungnya lebih banyak dari pada rugi yang aku dapatkan, selain dapat berpartisipasi pada acara itu aku juga bisa mengenal seluk beluk kampus lebih detail lagi dan yang terpenting adalah aku bisa mencari sahabat baru yang benar-benar baru disini.
”Aku harus bersiap-siap sekarang, waktunya sudah mepet”. Ku beranjak dari kamar untuk mandi. Selesai aku mandi dan berpakaian Almamater Untan dengan seragam putih-putih, langsung saja aku berangkat menuju kampus MIPA. Sesampainya di sana, sudah sangat ramai mahasiswa baru yang datang di acara itu, tanpa berlama-lama aku langsung masuk dan berbaur dengan mahasiswa baru lain dari jurusan Biologi. Aku tidak menyangka mahasiswa jurusan Biologi angkatan 06 akan sebanyak 50 mahasiswa, padahal semula aku beranggapan mahasiswa Biologi sangat sedikit. Rupanya kekhawatiran aku kemaren terlalu berlebihan. Aku jadi tertawa sendiri.
”Yeeeeeeee…..” Keriuhan pun tidak terhindarkan lagi, mahasiswa baru yang lain bersorak riang karena acara Welcome Party ini lumayan menghibur, ada pertunjukan musik, puisi dan lain-lain, yah lumayan untuk mengibur kami yang masih dirundung kelelahan akibat Opspek kemaren. Setelah acara welcome party selesai, kamipun lalu dikumpulkan oleh Prodi Biologi untuk melakukan introduction tepatnya di ruang kuliah MIPA 1. ketika pertama kali berkumpul di ruang itu, aku merasa sangat asing sekali, hanya aku mahasiswa MIPA jurusan Biologi yang berasal dari kota Mempawah. Tidak ada satupun yang aku kenal diantara mahasiswa baru tersebut, kecuali Hendra, Ami, Via, Fian dan Daddy. Mereka aku kenal ketika matrikulasi selama tiga mainggu jauh sebelum hari ini terjadi, kami saling kenal karena pada saat matrikulasi kami bertiga duduknya berdekatan, lagipula ada persamaan diantara kami yang membuat kami dekat satu sama lain yaitu sama-sama mementingkan akademik khususnya dibidang Biologi.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb” ucap salam terdengar dari bang Joni yang pada acara welcome party dikenalkan sebagai ketua HIMABIO di  FMIPA ini.
“Wa’alaikumsalam Wr Wb”. Jawab kami serempak.
“Saya Jonie Purwa, ketua Himabio FMIPA Untan, saya minta adek-adek sekalian menjadi mahasiswa biologi yang benar-benar ingin mengabdi kepada jurusan ini, tidak boleh manja dan harus mandiri. Dan agar nanti perkuliahan lancar kita juga harus kenal dengan para dosen, disamping saya ada beberapa dosen yang akan mengajar kalian di Biologi yaitu, sebelah kiri saya bapak Rusminto P.W, M.Si, disebelahnya lagi ada ibu Siti Syifadanti, S.si. M,Si dan Siti Khotijah, M.Si. sebenarnya masih ada sepuluh dosen lagi yang ada di Jurusan Biologi FMIPA Untan tapi mohon maaf dosen lain tidak bisa hadir karena berhalangan. Sekarang saya mau para mahasiswa baru maju ke depan satu per satu untuk saling memperkenalkan diri. Pasti semuanya pada belum saling kenal benar kan?” tanya bang Joni setengah berteriak.
“Belum” jawab kami serempak.
“Oke kalau gitu kita mulai perkenalannya dari bangku kanan barisan tepi” perintah bang Joni lagi..
Satu persatu mahasiswa Biologi maju kedepan untuk memperkenalkan diri termasuk aku, aku hanya menyebutkan nama, alamat, tanggal lahir dan asal daerah saja. Perkenalan itu membuat hatiku semakin merasa tidak enak, entah mengapa padahalkan seharusnya aku merasa senang karena punya banyak teman baru yang berpotensi dijadikan sebagai sehabat sejati. Aku merasa aura individualistis para mahasiswa ini kuat mencengkeram asaku, hampir sebagian besar mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang mampu hidup sendiri, sangat individualistis.
”Sepertinya disini aku tidak bakalan menemukan sahabat yang aku harapkan, aku ragu”. Tiba-tiba saja aku ragu dengan harapan aku yang satu itu. Hingga akhir perkenalan baru aku tersadar bahwa aku tidak ingat lagi nama mereka yang mereka sebutkan ketika maju memperkenalkan diri satu persatu kecuali hanya beberapa orang, yang aku ingat hanya Hendra, Ami, Daddy, Ilmi, Afgan, Via dan  Arwan! Tapi satu hal yang aku ingat, bahwa sebagian besar teman ku Biologi ini sebagian besar adalah anak daerah, bukan anak Kota Pontianak. Aku serasa mencium sesuatu yang tidak enak ketika melihat kepribadian Andra, sepertinya akan ada yang akan terjadi dengan kami dan hal itu umuncul mungkin ditenggarai oleh Andra.
Astaghfirullahaladzim, aku berburuk sangka”. Gumamku dalam hati.
Tapi hati ini selalu berkata seperti itu, Arwan menunjukkan sifat arogansinya di pertama kali perkenalan, hal itulah yang membuat aku berburuk sangka. Di waktu perkenalan dia bilang ke kami “Saya dari kota, akan lebih maju pastinya”. Sangat tampak sombong sekali, seolah-olah mengecilkan kami anak daerah.
“Baiklah setelah sesi introduction telah kita lakukan, sekarang kita akan studi fasilitas yang ada dijurusan Biologi, khususnya yang terdapat di dalam Laboratorium. Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri, nama saya Yuyun”. Teriakan kak yuyun menyadarkan aku dari pergumulan hati, kontan saja kami keluar ruangan MIPA1 untuk studi lab. Pertama sekali kami diajak ke laboratorium besar yang ada di sebelah ruang MIPA1 tadi, kami diperkenalkan dengan berbagai mikroskop cahaya, dan banyak sekali awetan basah hewan, tumbuhan dan herbarium tumbuhan. Tidak lama di laboratorium besar yang ternyata laboratorium zoology dan botani, kami menulusuri jalan koridor yang berkelok menuju laboratorium Mikrobiologi. Sesampainya di sana kami diperkenalkan dengan alat yang berhubungan dengan praktikum Mikrobiologi dari alat sterilisasi, inkubator, penghitungan koloni bakteri secara langsung dan fermentor, yah aku rasa cukuplah fasililitasnya untuk menunjang perkuliahan ku walaupun fasilitasnya sudah terlihat agak usang yang penting masih bisa dioperasikan.
Pukul 02.15 menit acara pengenalan kampus khususnya fasilitas-fasilitas di jurusan Biologi selesai. Karena aku sudah sholat dzuhur saat waktu istirahat tadi, jadi aku bisa melihat-lihat lagi keadaan kampus MIPA lebih leluasa tanpa takut di kejar waktu karena belum sholat. Satu-satu tempat di kampus MIPA aku susuri sendirian, mulai dari laboratorium Kimia A yang terletak bersebelahan dengan laboratorium Zoologi dan laboratorium Kimia B yang letaknya terpisah jauh di belakang yang berhadapan dengan areal persawahan. Tidak hanya disitu saja, aku juga melihat laboratorim Fisika yang letaknya di dekat bagian akademik FMIPA. Gedungnya terpisah dari gedung utama FMIPA, tetapi gedung ini malah berdekatan dengan gedung Fakultas Teknik. Di kompleks ini terdapat juga perpustakaan FMIPA. Aku sedikit kecewa karena perpustakaannya sudah tutup, kalau nggak kan bisa aku bisa melihat buku-buku Biologi apa saja yang ada di etalasenya. Kelamaan observasi tempat yang ada di FMIPA membuat aku haus. Langsung saja aku menuju ke kantin yang tidak jauh dari tempatku berada. Namanya kantin Adem, tepatnya persis di samping laboratorium Fisika. Di kantin ini aku melihat Ami dan Hendra yang lagi minum, langsung saja aku samperin mereka.
“Ami, Hen….” Panggilku.
“Eh, Levi. Dari mana kau” tanya Hendra. Ami hanya tersenyum memandangku.
“Habis dari observasi tempat-tempat di kampus ini, pak es jeruknya ya”
“Iya, sebentar ya” jawab bapak penjaga kantin.
“Levi, asyik juga ya studi laboratorium tadi, aku jadi banyak kenal dengan barang-barang Biologi”. Sahut Ami.
“Kalau menurut aku masih sangat kurang, apanya yang bagus! Sangat tidak representatif untuk perkuliahan dan penelitian”. Sambung Hendra yang juga ikut melontarkan komentarnya.
“ Yah lumayanlah. Wajar kalau kamu bilang masih sangat kurang inikan Untan bukan ITB atau UGM. Kalau mau lengkap dan representatif, kuliah di sana aja kali!”. Kataku dengan agak sedikit kesal akibat perkataan Hendra. Tahulah penyakit orang yang selalu mementingkan sisi akademiknya, yah kalau masuk ke universitas termurah ini, pasti akan berkata begitu. Hmm tapi aku nggak begitu-begitu amat.
“Eh levi, sekarang kok masih sendirian? Nggak kenalan sama yang lain? Aku kok merasa mereka pada sombong-sombong ya! Ya nggak semuanya sih, tapi mereka semua tampak individualis” Tanya Ami.
“Terimakasih” ucapku kepada bapak kantin yang mengantar es pesananku.
“Ehm kurang tahu ya, mungkin juga aku yang masih belum sempat mengenalkan diri lebih jauh lagi, lagipula nggak mungkinkan mereka sombong semua!”. Jawabku sambil menenggak es jeruk, ehm……segarnya.
“Ah biarkan saja, yang penting kita kejar prestasi kita masalah teman jangan terlalu dipikirkan”. Celetuk Hendra.
Aku hanya cengengesan saja mendengar kata-kata Hendra dan Ami, memang benar sih yang dikatakan Ami bahwa sebagian besar itu mereka terlihat individualistis tapi aku masih tidak suka dengan perkataan Hendra yang menganggap sepele seorang sahabat, memang selama ini aku telah kabur dengan arti dan apa itu sahabat sejati tapi aku masih berharap adanya tentang sahabat sejati yang suatu saat aku temui.
“Ehm, aku duluan ya. Capek sekali hari ini, aku mau istirahat dikost”. Pamitku.
“Ya sudah, kami berdua juga mau pulang, sampai ketemu minggu depan dihari pertama kuliah”. Sahut Ami.
Aku mengangguk dan menuju pulang kekostku. Sesampainya dikost aku langsung mandi untuk menyegarkan tubuh ini, lelahnya seperti menyerang bertubi-tubi. Belum hilang bekas Opspek ditimpa lagi capek hari ini. Selesai mandi, aku ngelongsor di kasur untuk berbaring. Aku ambil HPku, sudah lama aku tidak smsan dengan Dandi, Marie dan Suci. Kutulis SMS yang berbunyi:

“Ass. Woi, apa kabar kitak nih? Skrg lg dmn?

Lalu kukirim, semuanya terkirim. Sudah setengah jam aku menunggu balasannya, sepertinya tidak ada tanda-tanda akan dibalas. Mungkin mereka menganggap berakhirnya masa sekolah berakhir juga masa untuk saling berhubungan satu sama lain. Hmmm, nampaknya aku memang dipaksa untuk meninggalkan cerita persahabatan masa SMA, mereka memaksa aku untuk melupakan semua yang pernah terjadi di masa lalu.
Dandi, Marie, suci
Entah apa yang harus aku lakukan
Meninggalkan kalian sangat terasa berat
Tapi apa yang bisa diperbuat oleh hati ini kecuali lari
Karena kalian telah menghilang
Aku lelah…
Aku lelah…
Aku lelah…
Menggapai kalian yang tak kunjung dapat
Apakah seperti ini juga yang akan aku dapat di masa perkuliahan ini? Pertanyaan ini mengantarkanku terlelap pada malam hari. Jawabannya mungkin saja iya dan bisa jadi tidak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura