Langsung ke konten utama

Jalan Sebagai Mahasiswa Baru



Tapak baru telah dimulai, kini aku telah terbebas dari sekolah wajib. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang mahasiswa, betapa bangganya kalau mendengar kata “Maha” kan artinya besar! Lebih dari seorang siswa biasa apalagikan aku kini udah resmi diterima di jurusan Biologi FMIPA Untan. Nggak repot-repotkan belajar lagi buat SPMB, yang pastinya setelah daftar di akademiknya tinggal nunggu aja kapan dimulai kuliahnya kalau yang lainkan harus seleksi dulu lewat SPMB. Iya kalau lulus! Kalau nggak mau ngejar kemana lagi. Aku bersyukur sekali kepada Allah karena telah memberikan jalan sangat mudah bagiku dengan diterimanya aku di bidang Biologi ini. Suatu jurusan yang sangat aku dambakan. Akukan sangat suka dengan bidang ini apalagi aku juga cukup menguasainya. Yah aku ingin lebih mendalami lagi, siapa tau aku bisa menjadi seorang ilmuan besar yang menemukan bioteknologi baru yang dapat berguna bagi kehidupan manusia pada abad ini.
Oh ya, ngomong-ngomong  dari tadi aku mengkhayal yang berlebih aku jadi ingat kapan daftar di akademik Untan bagi mahasiswa yang diterima non-utul. Kuambil lagi map kemaren yan berisi berkas-berkas dari Universitas untukku. Kulihat jadwal pendaftarannya.
”Ya Allah, daftar ulangnya 4 hari lagi!” teriakku kaget.
Kulihat lagi berkasnya, apa aja syarat-syarat yang diperlukan untuk daftar ulang nanti. ”Aduhhh!”. fotokopi KTP, fotokopi STTB dan STK yang telah disahkan, foto warna terbaru ukuran 2×3 dan 3×4 masing-masing 6 lembar, dan tidak lupa uang pendaftarannya sebesar 1,8 juta Rupiah. Aku menjadi panik, aku kan belum mempunyai KTP dan belum ada foto warna, kalau yang lainnya sih gampang. Gimana nih? Waktunya sudah agak mepet. Aku langsung mencari ayah;
”Yah, daftar ulang tinggal 4 hari lagi, sedangkan syarat-syaratnya harus ada Fotokopi KTP, Levikan belum ada KTP, belum juga berfoto. Gimana nih? Tanyaku pada Ayah.
”Nah itulah kamu, meremehkan hal-hal yang seperti itu. Udah waktunya mepet baru sibuk-sibuk. Gimana mau hidup mandiri, sedangkan hal tersebut masih orang tua yang ngurus. Mau jadi apa!”. tegur Ayah.
Aku terdiam tidak bisa membela diriku. Ayah memang sudah kelihatan agak marah dengan masalah ini, aku sudah tidak berani lagi kalau Ayah sudah mau marah ntar kalau sudah marah beneran, seram sekali. Aku pernah kena marah habis-habisan karena tidak selesai mengecat dinding dapur karena aku nyambil nonton TV, pas Ayah pulang dari kantor dan tahu pekerjaanku tidak selesai, habislah aku dimarahi. Malu rasanya.
”Ya sudah, besok Ayah uruskan KTP di kantor kelurahan tapi kamu harus buat biodatanya sendiri,  jangan pula Ayah lagi yang ngerjakannya”. Kata Ayah.
Aku mengangguk. Bergegas aku ke kamar dengan hati yang gembira karena Ayah tidak jadi marah besar. Aku malu juga kalau Ayah marah lagi, malu didengar tetangga. Masak aku udah mau jadi mahasiswa masih aja di teriakin. Aku ambil elembar kertas beserta pulpennya, kemudian aku tulis biodata lengkap yang digunakan dalam identitas KTP. Mulai dari nama, alamat, pekerjaan, TTL, status, gol. Darah dll, kutulis dengan teliti jangan sampai ada yang salah baik format maupun penulisannya soalnya kalau salah lagi Ayah bisa marah lagi. Akhirnya seleai juga! Langsung saja aku serahkan kepada Ayah. Aku lega sekali karena satu syarat telah aku selesaikan. Tinggal masalah foto warna lagi....Aduh, setahu aku foto warna itukan  jadinya lama terus aku juga nggak ada baju berkerah selain seragam sekolah, padahalkan fotonya harus menggunakan baju berkerah.
”Ah sudahlah, aku pakai Baju Ayah saja toh fotonya pun bukan close up!” pikirku dalam hati. Langsung aja aku ambil baju Ayah di kamarnya, kuambil baju kemeja krem. Ya..cocoklah warnanya dengan usiaku. Bergegas aku pergi menuju Teknik Foto yang ada di pasar Mempawah dengan menggunakan sepeda. Di dalam perjalanan aku teringat dengan Dandy, Marie dan Suci. Kenapa mereka tidak ada sama sekali ngajak ketemuan lagi, sudah beberapa hari ini setelah pengambilan amplop kelulusan mereka tidak ada menghubungi aku lagi.
”Apakah ini akhir dari sebuah persahabatan, jika udah lulus maka berhenti juga kebersamaan?” gumamku dalam hati. ”Ah Levi..Levi, kamu itu sudah sering mendapatkan hal-hal yang seperti ini oleh mereka. Kenapa dipikarkan terus, buang-buang waktu saja”. Ucapku untuk menghibur hati ini.
Ups..ternyata sudah sampai di jalan Mawar tepat di depan lapangan basket. Tidak jauh lagi teknik foto dari sini, paling berjarak 50 meter di depan sana. Kauyunkan engkolan sepedaku lebih cepat lagi agar cepat sampai di Teknik Foto. Sesampainya di teknik foto langsung saja aku parkirkan sepeda dan masuk ke dalam studionya.
”Bang, foto warna ya, ehm bisa nggak kalau jadinya dalam waktu 1 sanpai 2 hari?” tanyaku pada fotografer.
”2 hari? Kayaknya nggak bisa deh, nampaknya 3 atau 4 hari soalnya lagi ramai orderan nih”.
”Benarlah bang. Sesibuk apa sih?”
”Benar dek, orderan sekolah SMA masih banyak yang belum selesai” jawab sang fotografer.
”Jadi beneran nggak bisa nih?” tanyaku lagi.
”nggak bisa, kalau mau cepat, di tempat lain aja”.
”Ya udahlah bang, malas pergi tempat lain lagi. Kalau gitu kilat aja” ujarku.
”Baiklah kalau begitu, silahkan masuk ke studio”
”Baik” jawabku.
Aku masuk ke studionya, tapi sebelumnya aku masuk ke ruang ganti dulu untuk memakai baju kemeja. Hmm.....sepertinya sudah keren, sekarang aku sudah siap untuk di foto. Jepretttt. Selesai. Seketika saja dalam beberapa menit fotonya langsung jadi. Wah cepat sekali, baru aja berpose, di jepret eh udah langsung jadi fotonya. Tapi dibalik cepatnya semua itu, MAHALNYA MINTA AMPUN!

***

Pagi yang cerah untuk memulai suatu yang baru, birunya langit Mempawah pagi ini membuat aku bersemangat. Kulihat jam dinding, tepat pukul 7. aku sudah bersiap-siap berangkat ke Pontianak untuk daftar ulang di Akademik Untan. Berhubung aku nggak ada motor, yah pake bis perginya. Aku tidak mau berlama-lama lagi, langsung saja setelah pamitan pada Ayah dan Ibu kulangkahkan kaki ini menuju ujung gang untuk menunggu bis yang lewat dari arah Sambas atau Singkawang. Aku malas kalau mau naik bis Mempawah, soalnya bis itu tidak mutar dari kampung benteng tapi mutar di jalan Pak Kasih, malas kan jalan kaki lagi sepanjang satu kilometer untuk sampai ke jalan Pak Kasih.
Dari kejauhan terdengar suara bis, kulihat ke arah tikungan menuju Pantura lain. Memang ada bis berwarna putih.
”Alhamdulillah, mudah-mudahan nggak penuh”. Ucapku dalam hati.
Kulambaikan tangan ku untuk menghentikan lajunya bis, ternyata bisnya berhenti berarti masih ada bangku yang kosong.
”Pontianak Bang?” Kondektur bertanya kepadaku.
Aku hanya menganggukkan kepala.
Langsung saja aku naik, sengaja aku tempat duduk di dekat jendela agar aku bisa menikmati pemandangan indah kotaku dan daerah Kabupaten Pontianak yang lain. Pemandangannya sangat meneduhkan jiwa. Bisa dibilang kota inilah yang menjadi teman terbaikku, Ancolnya yang selalu ada ketika aku sendirian, sungainya sebagai tempat ketika aku berputus asa, Masjid Alfalahnya ketika aku ingin menghadap Tuhan. Rasanya inilah teman sejatiku, bukan Dandy, Marie ataupun Suci.
”Oaaah” baru sampai di Pinyuh, tiba-tiba aku menguap. Kok rasanya mataku tinggal 5 watt ya? Padahalkan ini masih pagi! Mungkin karena aku tadi malam tidur telat. Ingin sekali aku tidur, angin dari jendela mengelus tubuhku seolah-olah meninabobokan aku. Baru saja aku melihat sawah di luar jendela, akupun terlelap.
Dukkkk. Suara penumpang yang berjalan membangunkan aku dari lelap, kulihat ke arah luar ternyata sudah sampai ke Terminal Batu Layang. Aku turun. Kulanjutkan dengan naik bis kota jurusan Kota Baru, soalnya bis ini lewat Untan jadi bisa langsung turun di Untan. Setengah jam perjalanan ku menelusuri kota Pontianak dengan bis kota untuk menuju ke Untan, dan akhirnya sampai juga tepat sekali aku di depan BAAK Untan. Ramai sekali, ramai para calon mahasiswa yang daftar ulang. Aku duduk dikursi yang telah disediakan dan mengisi formulir yang baru kuambil dari loket untuk fakultas. Banyak sekali yang harus diisi, ehm.. bosan juga. Sebagai selingan aku celingak-celinguk di loket FMIPA, nggak ramai sama sekali yang mengambil formulir di sana kecuali satu orang pria. Sepertinya mengambil formulir untuk pendaftaran ulang,  setelah itu dia turun untuk duduk, tepat sekali dia duduk untuk mengisi formulir di samping kursiku.
”Halo, nama saya Levi. Daftar FMIPA juga?” tanyaku sambil mengangkat tangan untuk berjabat tangan.
”Halo juga, nama saya Johan. Iya saja juga di FMIPA, jurusan kimia. Kamu?”. tanya dia sambil membalas jabat tanganku.
”Oh Kimia, saya Biologi. Dari SMA mana?” tanyaku lagi sambil mengisi formulir yang tadi sudah aku isi sebagian.
”Aku dari SMAN 2 Pontianak. Ohya, kalau kamu? Ehm dikelasku IPA ada 2 orang yang nggak lulus, kasihan mereka”.
”Kalau aku dari SMAN 1 Mempawah. Alhamdulillah kelas IPAku lulus semua tapi ada 31 orang anak IPS yang nggak lulus”.
”Apaaaa? Gila banyak amat”.
”Yah, biasalah namanya juga sekolah di Kabupaten, lagipula mungkin sudah takdir mereka setelah berusaha” jawabku kepada Johan.
”Jadi, gimanalah nasib mereka” tanya Johan dengan wajah yang agak serius.
”Yah...ada yang ngulang lagi dan mungkin juga ada yang ikut paket C” jawabku sambil mengisi formulir dari BAAK.
”Kasihan mereka” ujar Johan dengan nada yang mengiba.
”Mau gimana lagi.... ehm kayaknya saya sudah selesai nih dengan pengisian formulirnya, saya duluan ya ke bagian pembayaran. Senang bisa kenalan dengan kamu”. Kataku sambil beranjak dari kursi dan membawa formulirnya.
”O silahkan, sama-sama”. Jawab Johan.
Sebenarnya aku ingin berlama-lama duduk di sana, yah siapa tahu Johan bisa menjadi temanku yang selama ini aku cari cuma aku nggak mau berlama-lama juga untuk mengurus pendaftaran yang lumayan kelihatan ribet ini. Semakin cepat semakin baik. Aku berjalan meninggalkan Johan untuk melanjutkan pembayarannya. Sebelum aku jauh meninggalkan loket formulir, aku lihat lagi dengan teliti masih saja sepi dengan pendaftar mahasiswa non-utul. Kenapa aku tidak ada berjumpa dengan salah satu pendaftar di jurusan biologi ya? Sambil berjalan menuju loket pembayaran aku berfikir, kenapa bisa seperti ini. Apakah tidak ada yang berminat menjadi mahasiswa MIPA Biologi, atau jangan-jangan untuk Non-utul hanya aku sendiri yang mendaftar. Aduhhhhh, bayang-bayang kesendirian itu selalu menemani diriku.
Tak terasa, aku sampai di antrian loket pembayaran, antriannya lumayan belum banyak sehingga aku dapat tempat nomor lima dari barisan pertama tapi, kulihat kearah samping yaitu loket KTM ya Allah, antriannya ramai sekali. Tak lama aku menunggu, sekarang giliranku.
”Satu juta delapan ratus ribu rupiah yang harus di bayar Dek!”. sahut penjaga loket.
”Oh iya pak, ini”. Kuserahkan uang yang diberikan oleh Ayah sebesar Rp. 2.000.000,-.
”Kembalian dua ratus rupiah, ini kwitansinya dan silahkan menunggu KTM disana”. Kata penjaga loket sambil mengarahkan aku menggunakan tangannya ke arah loket KTM. Langsung saja aku ke sana, soalnya antriannya padat daripada menunggu disini, lebih baik ikut antrian terlebih dahulu.
Sudah setengah jam aku antrian menunggu KTM, sampai sekarang namaku belum dipanggil juga. Saking lamanya dan mahasiswa yang mendaftar juga semakin ramai, antriannya pun sudah tidak karuan. Dalam keadaan panas dan pengap tiba-tiba aku mendengar suara teriakan
Rikhsan Kurniatuhadi”.
Langsung aku mengangkat tangan dan berusaha menerobos barisan antrian depan yang sudah tidak beraturan lagi. KTMnya aku dapatkan dan aku langsung keluar dari ruangan BAAK, gila cuma mau mengambil kartu sekecil ini seperti mau masuk ke gedung MPR dan DPR yang harus menembus barikade polisi terlebih dahulu. Alhamdulillah, akhirnya aku resmi juga jadi mahasiswa, yah walaupun mendapatkannya penuh dengan kelelahan tapi terbayar juga dengan kartu ini dengan status aku sebagai mahasiswa. Kulihat kartu itu, H14106002. aku pendaftar nomor dua di jurusan Biologi.
”Tuh kan, cuma ada dua yang daftar. Aku pendaftar yang kedua lagi, jangan-jangan nggak ada lagi yang daftar di Biologi. Aduh aku tetap nggak ada teman donk!” teriakku tanpa sadar.
”Nasib-nasib, tapikan ada Johan yang baru aku kenal tadi, siapa tahu dia bisa jadi teman akrab aku. Mudah-mudahan deh, tapi diakan bukan Biologi. Aduhhhhh. Tapi tenang,  aku masih optimis dengan harapanku kalau aku akan menemukan mereka suatu hari nanti agar hati ini tidak sepenuhnya menganggap teman adalah bayangan dan fiktif di kehidupanku. Aku akan tetap berusaha dan mungkin di Biologi akan aku temukan”  bisikku di dalam hati.
Tidak terduga syair yang aku ciptakan dahulu kini keluar dari mulutku lagi. Syair yang aku buat ketika tidak ada teman di hati.

Sahabat sejati, tidak ada dihati ini
Yang ada hanyalah bayangan sahabat sejati
Kalian fiktif dikehidupanku
Sahabat sejati, kalian ada disaat aku senang
Tetapi tidak ada ketika aku susah
Sahabat sejati,ketidakmunculan  kalian telah mengaburkanku
Akan arti sebuah persahabatan yang pasti
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, kecuali:
Kalian memang  bayangan sejati

Sahabat sejati, tahukah kamu di dalam hati ini
Ada satu harapan
Aku masih berharap kalian datang suatu hari nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura