Dygta, Teman Terbaikku
Kuambil HPku dari saku celana sekolahku. Aku
penasaran kenapa si Dygta sampai saat ini masih belum kelihatan batang
hidungnya, di sekolah ini. Padahal
biasanya dia datang lebih awal ke sekolah daripada aku. Lagipula dia bukan
orang yang suka ngumpet-ngumpet kayak anak kecil. Kubuka menu kontak di HPku
lalu cari namanya di daftar kontak. Setelah ketemu aku hubungi nomor
Handphonenya. Tersambung dan tak lama diangkatnya.
“Halo” jawab Dygta dari
HPnya.
“Woi Dygta, kamu nggak berangkat ya hari ini? Di
mana kamu? Masih di Toho kah?”
“Hah…nggak. Aku ada di sekolah
nih” jawab Dygta sambil dengan nafas yang terengah-engah dan suara yang agak
sedikit mendesah. Kedengaran
seperti orang yang habis lari.
“Lagi ngapain woy, ngapa
suaramu ngomong jadi aneh gitu? Mendesah-desah seperti orang yang lagi ML aja”
ledekku.
“Nggak”
“Tuh kan desahannya makin
jadi, emangnya lo ada di mana sih?” tanyaku lagi.
“Ah sotoy nih, aku lagi di
WC”
“Hah…ngapain? Lo lagi
boker”
“Nggaklah, lo macam nggak
tau gue aja. Udah ah, jangan ganggu”
“Ah
sialan…jangan-jangan lo lagi……”
“Tuuut”. Telponku di
akhirinya. Aku berlari keluar kelas menuju WC sekolah yang ada di dekat koridor
jalan menuju kantin, sekarang aku tahu apa yang dilakukan Dygta di WC saat ini.
Jelaslah aku tahu dengan kebiasaannya. Makanya aku rela lari-larian kayak gini ke
WC Cuma untuk mencegah dan menghentikan apa yang telah dilakukannya pada
“ruang” tersebut.
Aku sudah sampai di depan WC pria. Aku masuk dan
aku dekati satu per satu ruang yang ada di WC pria. Kulihat WC yang paling
ujung, hanya pintu itu yang terttutup keliatan seperti ada orang di dalamnya.
Aku melangkah diam-diam dan menempelkan telingaku di pintunya. Terdengar suara
desahan.
“Ahhh……”
Semakin lama desahan itu semakin cepat. Aku geram sekali mendengarnya sehingga aku
berteriak.
“Woi Dyg keluar! Dyg,
keluar Dyg” teriakku sambil menggedor-gedor pintunya keras-keras secara
berulang-ulang. Masih belum di gubris juga.
“Woi
Dyg, kampret. Masih pagi nih…malu boy. Keluar”
“Eh resek loh, sana-sana
belum selesai nih, tanggung belum keluar” teriaknya dari dalam WC.
“Dyg nyadar Dyg, ini
sekolah bukan rumahmu, kalau di rumahmu terserahlah”
“Diam lu….Ahhh..”
bentaknya diikuti dengan desahan yang semakin keras.
“Jangan-jangan udah keluar
nih” pikirku.
“Eh Dyg cepat keluar, loh
udah ejakulasi kan? Ntar ketahuan!”
“Vind,
siapa yang ejakulasi”
Aku kaget setengah mati.
Ternyata ada Ravi, anak IPS di samping ku.
“Ah nggak, maksudku aku
sudah ereksi nih mau pipis. Nih
si Dygta lama amat keluarnya. Lo ngapain di sini?” tanyaku.
“Ya mau pipislah, masak
mau makan!” jawab Ravi meledekku.
“Oh iya, aku lupa.”
“Nggak ke toilet lain, kan
masih banyak kosong?” tanya Ravi lagi. Dari kerutan alisnya, ia seperti mencium
gelagatku yang mencurigakan.
Waduh. Aku kebingungan
untuk menjawab pertanyaan Ravi yang satu ini.
“Eh…eh….mungkin
aku uda kebelet kali ya, jadi nggak kepikiran.”
“Oh….” Sahut Ravi dengan
mengerutkan dahi. Mungkin dia nggak percaya dengan alasanku.
“Klek”. bunyi Dygta membuka pintu WC. Ia keluar dengan raut muka yang senang.
Tampak sekali ia merasa puas.
“Akhirnya keluar juga, eh
tadi lo ngomong ama siapa?” tanya Dygta.
Aku menarik tangannya dan membawanya pergi dari WC
pria.
“Eh sialan kamu ya, hampir
aja aku dituduh yang macam-macam ama Ravi, ngapain lo di dalam tadi. Ah aku
tau, pasti lo tadi lagi onani ya! Ngaku aja” ujarku dengan paksa.
“Ah nggak” jawab Dygta dengan santai.
“Bual lo, baunya aja masih keciuman”
“Maksudnya…NGGAK SALAH
LAGI. Ha..ha..ha..” jawab
Dygta dengan santai sambil tertawa.
“Dasar kamu ya, nggak mikirkan tempat main embat
aja. Gila lo kalau sampe
katahuan malulah boy”
“Alah, eh men lo kan udah
tahu aku gimana. Biasa aja kali. Nggak bakal ada yang tahu. Soalnyakan udah aku
bersihkan WCnya. Lagian ngapain sewot sih? Lo juga kan sering melakukannya”
kilahnya membela diri. Dasar tuh orang, dikasih tahu malah ngebalikin omongan.
“Ya emang. Tapi nggak
separah kamu, aku paling seminggu tiga kali. Nah lo hampir tiap hari, mana nggak pake kenal
tempat lagi. Semuanya di hantam. Dasar Hipersex”
ledekku sambil menepuk dadanya.
“Sialan lo, dasar
blasteran nggak jelas. Indonesia nggak Bosnia juga nggak”
“Enak jak. Ya udahlah kita ke kelas sekarang. Kamu
belum tahu tempat kita duduk kan?” usulku.
“Oke,
ayo cabut”
Aku dan Dygta langsung aja cabut menuju ke kelas.
Lumayan aneh juga ber lama-lama di depan WC berduaan, ama Dygta lagi. Ntar
dipikiran macam-macam lagi sama siswa lain. Kan gak lucu sama sekali jika di
madding tiba-tiba ada gossip yang menyatakan kalau aku dan Dygta adalah
pasangan homo. Gila….. mau
taruh di mana nih muka kalau sampai keluar berita kayak gitu. Tapi
kupikir-pikir ngapain juga dipikirin, kalaupun suatu saat ada berita seperti
itu muncul. Biasa aja lagi, soalnyakan kita memang bukan pasangan homo tetapi
pasangan pecinta wanita sejati. Sesampainya dikelas kami langsung dudk di atas
bangku yang telah dipilihkan Pasha, Rino dan Hardi. Aku masih penasaran dengan peristiwa tadi, kenapa
dia tiba-tiba masturbasi di WC.
“Oh ya Dyg, apa sih yang kamu lihat sempe-sampe lo
nggak bisa nahan kayak gitu? Gila kamu ya…kalau sampe ketahuan siswa lain atau
tim madding penggosip kelas pari itu, mampus lo” ujarku.
“Yah lo, udah lulus jadi sahabat gue masih pake
nanya lagi aku lihat apaan. Ya lihat itulah…masak aku lihat monyet lewat” jawab
Dygta dengan santai dan sedikit meledekku. Emang dasar tuh anak, sama sekali
nggak nyambung dan cuek mampus.
“Kalau itu aku juga tahu kali kalau lo lihat
gituan, anak kecil juga tahu kalau orang lagi terangsang abis liat apaan!
Maksudku itu siapa yang kamu intip. Atau jangan-jangan lo tadi masuk dan
ngintip di WC cewek ya”
“Jangan asal main tebak woy, eh gini-gini aku juga
bisa kapok digebukin ama cewek-cewek yang ada di WC kemaren-kemaren ketika aku
ngintip mereka satu persatu. Gila aja udah empat kali aku ketahuan. Masih
mending digebukin, ini di kelitikin, ditelanjangin plus di arak-arak. Kayak
gitu lagi? Mendingan aku baca FHM biar terangsang”
“Trus apaan yang lo liat” tanyaku lagi dengan
sedikit memaksa.
“Penasaran banget sih? Yang pastinya tadi aku
lihat dada sexy dari seorang wanita. Kancing baju atasnya kebuka, yah jadi
sedikit kelihatanlah. Eh tapi biar sedikit aku langsung ON men!” jelasnya
dengan nada yang berapi-api.
“Siapa ceweknya” tanyaku karena semakin penasaran.
“Eits…sorry, ini bukan untuk konsumsi publik. Just for
me! Aku nggak mau kamu ikut-ikutan
ngonsumsi juga” jawabnya dengan nada sedikit ketus.
“Ah resek kamu…emangnya aku sebejat itu apa? Dasar
majat” ledekku.
“Apaan tuh MAJAT?”
“Manusia Bejat” jawabku.
“Ye….lo iri. Daripada lo Blasteran Imposibble!” balasnya.
“Mendingan aku bapakku bule ganteng, nah bapakmu?”
“Itukan bapak lo, faktanya kan lo
itu jelek nggak kayak bapak lo”
Aku hanya tertawa dan kujitak kepalanya sekali.
Itulah Dygta, lengkapnya Dygta Adhif Prasetya. Dia temanku yang paling akrab
seperti saudara sendiri. Biasa main PS bareng dan ngerjain tugas bareng.
Kadang-kadang kita juga jalan bareng sama pacar-pacar kita, waktu aku masih
punya pacar. Meskipun dia teman terbaik, dia juga teman teraneh yang pernah aku
kenal. Orangnya rada-rada aneh, super cuek, suka slengehan, nggak tahu malu dan
satu lagi yang paling menonjol yaitu HYPERSEX. Nggak boleh lihat yang bersifat
“Buka-bukaan” alias cewek seksi dan bohay yang pake pakaian minim. Kalau sudah
melihat yang gituan maunya ke WC terus. Pernah suatu hari ketika aku dan dia main PS3 di rumahnya, kan kita mau
ganti kaset permainan yang telah bosan kami mainkan. Terus dia mengambil
kasetnya yang disimpannya di dalam lemari bajunya yang ada di pojok kanan
kamarnya. Eh baru saja membuka pintu lemari pakaiannya dan belum aja kasetnya
diambil dia malah langsung lari keluar kamar cepat-cepat, seperti orang
kesetanan. Aku penasaran apa yang membuat Dygta lari ketika ia membuka
lemarinya, awalnya kupikir tangannya terkena paku yang nancap di pintu lemari.
Ketika aku buka lemarinya betapa terkejutnya aku. Ternyata di bagian bagian
belakang pintu lemarinya banyak foto wanita telanjang!! Pantesan aja dia
langsung lari ke belakang, nggak lain dang nggak bukan pasti ke WC buat
melepasin hasratnya yang tiba-tiba muncul ketika melihat foto-foto itu. Aku
hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Eh ngapain lo ngelihat aku sambil geleng-geleng
kepala gitu. Lo sarap ya?”
Pertanyaan Dygta mengejutkanku.
“Ah nggak..cuma kasihan aja sama kamu, kasihan ama
sakit jiwanya” umpatku.
“Dasar lo..eh, Rino, Pasha dan Hardi mana?”
“Mereka sih tadi ada di DPR, di bawah poon
rindang” jawabku.
“Ke sana yok! Aku belum ada ketemu mereka nih”.
“Come on”
Kami berdua menuju DPR buat nemuin Pasha, Rino dan
Hardi. Setelah ketemu, kami
saling ngobrol dan bercanda. Secerah siang ini kami berlima bercanda satu sama
lain, saling ngoceh dan bercerita pengalaman dan kesan lebih lanjut terhadap
liburan kemaren. Kami berlima, khususnya aku dan Dygta emang sahabat sejati
yang tak terpisahkan.
***
Tidak terasa waktu berjalan
dengan cepat, rasanya baru saja aku ketemu dengan Dygta dan teman-teman lain
sekarang jam tanganku telah menunjukkan pukul 12.15. aku harus pulang kerumah
sekarang, begitupula Dygta, Pasha, Rino dan Hardi. Kami sepakat pulang bersama-sama sampai di pertigaan
jalan Ahmad Yani. Setelah itu kami akan berpencar satu sama lain karena mereka
ada urusan masing-masing. Di jalan Darma, aku dan Dygta beriringan, karena ada
yang aku obrolin sama dia.
“Eh Dyg, gimana kemaren
pulang ke Toho, misimu untuk kembali dengan Gina berhasil nggak?” tanyaku.
“Apaan, nggak sama sekali.
Rupanya dia udah punya cowok di sana. Malas juga aku, gengsi dong”.
“Oh, jadi sekarang nggak
ada niat lagi untuk ngejar-ngejar dia. Tapikan kata lo kemaren lo cinta mati
sama dia. Apa nggak terlalu terburu-buru buat ngegolin keputusan untuk tidak
mengejar dia lagi?”
“Siapa bilang? Aku ngejar
dia itu cuma ngejar tubuhnya aja” jawab Dygta selembe.
“Apa? Parah kamu. Men… kamu masih kelas dua. Masih
terlalu kecil buat mikir yang gituan”
“Ndak masalah. Lagipula
aku juga sudah ada perasaan sama cewek lain” ucapnya.
“Siapa” tanyaku penasaran.
“Ntar deh aku kasih tau,
aku juga sebenarnya belum yakin dengan apa yang aku rasakan. Eh udah pertigaan
tuh, sampai disini ya, aku mau ke Bandara dulu. Mau jemput bibiku”
“Oke” jawabku.
Aku mengatrol naik gas
motorku ketika berbelok ke pertigaan Ahmad Yani. Aku berharap agar dapat cepat
sampai di rumah, soalnya aku mau istirahat. Gila… baru aja setengah hari
nangkring di sekolah sudah membuat aku capek. Mungkin aku terlalu nyantai di
rumah selama dua minggu, nggak ada olah raga, nggak ada aktifitas berat yang
dilakukan makanya hari ini ketika di porsir semua otot menjadi terkejut. Ketika
aku sampai di dekat kantor Gubernur, tiba-tiba aku terkejut karena melihat
seseorang yang lagi berdiri di bawah pohon. Seorang wanita yang rasanya
familiar bagiku. Aku menurunkan kecepatan motorku ketika berada di depan kantor
Gubernur Kalimantan Barat. Kulihat dengan teliti.
“Yuni” teriakku dalam
hati.
Itu Yuni, seorang wanita
yang pernah kugoreskan di dalam hatiku. Seorang wanita yang membuat aku jatuh
cinta pada pandangan pertama. Dia juga sekolah di SMA yang sama dengan ku, Cuma
dia anak kelas E sedangkan aku anak kelas A. letak kelas kami berdua sangat
berjauhan. Semenjak cintaku ditolak olehnya aku kami kehilangan kontak, jarang
sekali ketemu, kekantin dan ngobrol bareng seperti dulu. Sekarang dia berubah sekali, sudah memakai
jilbab panjang. Sangat kontras dengan penampilannya yang dulu. Aku masih ingat
memori yang terjadi pada kami berdua pada saat PDKT dulu. Dia yang mengajakku
untuk ikut masuk ekskul PMR di sekolahku, sebenarnya aku nggak ada niat sama
sekali untuk masuk tapi dia sangat memaksa sekali agar aku mau ikut
sampai-sampai, perlengkapan buat MOSnya pun semua dia yang urusin. Aku tinggal
datang aja membawa diri. Memang benar, pada saat MOSnya berlangsung semua
barang perlengkapanku dia yang membawakan. Tidak hanya disitu, keberuntunganku
datang kembali. Dalam kelompok MOS ternyata kami berdua satu kelompok. Aku
sangat senang pada saat itu dapat berduaan dengannya, kami saling ngobrol dan
becandaan sepuas-puasnya dan yang membuatku lebih senang lagi ketika kami masuk
ke pos uji mental, disitu kami disodorin dengan barang-barang yang menggelikan
seperti cacing, ulat, usus ayam, Lumpur dan lain-lain. Pada saat diuji, mata
kami ditutup dengan slayer sehingga tidak bisa melihat apa-apa, rupanya si Yuni
takut cacing. Ketika
tangannya di olesi senior dengan cacing ia berteriak ketakutan sambil memeluk
aku erat-erat. Aku bukan malah kaget tapi malah senang ia mau memelukku,
rasanya aku ingin lama-lama dipeluk oleh dia, ingin merasakan kehangatan itu
lebih lama lagi.
Dari kejadian itu aku merasa sangat yakin bahwa ia
mulai jatuh cinta kepadaku. Apalagi pada saat dia komplen dengan nama panggilan
MOS ku “CIUM KAK”. Ketika aku dipanggil ama senior-senior aku harus meneriakkan
nama itu, sebenarnya aku suka ketika senior-senior cewek yang memanggilku.
Siapa juga yang nggak senang dicium sama kakak-kakak senior yang cantik, tapi
aku paling geli bila yang memanggil itu senior laki-laki. Emangnya aku homo
apa? Now way. Karena aku berteriak seperti itu ketika di panggil dia
langsung marah.
“Cobalah nanamu tuh diganti aja. Gete’ benar aku dengernya. Kayak
playboy cap cacing” ujarnya.
Aku sih nggak
bisa ngapa-ngapain karena nama itu emang dikasih seperti itu dan tidak bisa
diganggu-gugat. Tapi aku maklum dengan perkataannya, biasalah orang yang
cemburu seperti itu. Mendengar ia berbicara seperi itu malah membuat aku
senang, berarti ia benar-benar cinta denganku makanya dia cemburu.
Hingga suatu saat
aku yakin dengan cintanya kepadaku, maka kuniatkan diri ini untuk menembaknya.
Ketika aku berusaa untuk menembaknya, tiba-tiba saja ada teman baikku yang
tidak setuju. Namanya Reana. Dia bilang dia nggak suka dengan Yuni, katanya
Yuni itu orangnya terlalu manja untuk seseorang seperti diriku. Pokoknya di
nggak setuju banget kalau aku jadian sama Yuni. Reana itu temanku dari kecil,
sehingga aku tidak bisa melawan atau melanggar apa katanya. Pada saat itu aku
bingung sekali, apa aku lebih memilih persahabatan yang sudah aku jalin dari
kecil dengan Reana atau lebih memilih cintaku kepada Yuni. Akhirnya aku
putuskan untuk menembak Yuni dengan sebuah surat yang berisi:
Dengan penuh cinta,
Yuni yang aku sayangi,
dalam surat ini aku ingin sekali mengatakan bahwa aku benar-benar sayang
kepadamu lebih dari rasa sayangku kepada diriku sendiri. Sebenarnya aku ingin
mengatakan hal ini secara langsung melalui mulutku agar kamu tahu dan percaya
bahwa kali ini aku tidak hanya sekedar main-main, tapi aku tidak bisa karena
aku terbentur sebuah persahabatan yang sudah lama aku jalin. Aku mohon kamu
mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku harap, kamu mau menjadi
sekedar teman bagi diriku. Tempat ku berbagi segala suka dan duka. Aku ingin
kamu jadi pacarku. Dan jika kamu memang berniat membalas cintaku dan mau
menjadi pacarku aku harap kita dapat menjalani secara Backstreet terlebih
dahulu.
Demikian
surat ini aku tulis dengan penuh rasa rasa kasih. Aku harap engkau mengerti dan
menjawab apa yeng aku tanyakan tentang perasaan ini.
Meqsedvind Hadzovic
Sebenarnya aku sangat malu
dengan pernyataanku yang melalui surat itu. Seperti laki-laki yang tidak “laki”
saja. tapi apa yang harus kuperbuat lagi selain itu. Demi persahabatan dan demi
cintaku. Dua hari aku menunggu dengan sangat gelisah akan sebuah jawaban yang
akan Yuni berikan kepadaku sampai akhirnya surat balasan itu sampai ke tanganku
melalui Hesty, teman terdekatnya. Aku deg-degan ketika membuka amplop suratnya
walaupun aku sangat yakin bawa ia juga mencintaiku. Kubaca surat itu.
Vindra
yang kusayang,
Apa lagi yang harus aku lakukan
untuk menandakan bahwa aku juga sangat sayang kepadamu. Aku ingin jadi pacarmu…tempatmu
untuk berbagi, tempat sandaranku di sekolah ini. Tapi mengetahui keadaaanmu
seperti ini aku tidak bisa menerimamu menajdi pacarku. Karena kamu belum cukup
dewasa dan masih belum bisa menerimaku apa adanya di depan teman-temanmu. Dan
aku sangat yakin bahwa persahabatan yang sudah lama terjalin itu jauh lebih
penting daripada rasa sayangmu kepadaku yang baru satu tahun.
Maafkan aku yang tidak bisa
menerimamu untuk sekarang ini. Aku tidak ingin memposisikan diriku sebagai
pilihan hidupmu yang akan menghancurkan persahabatan kalian. Tidak ingin………!!!!
Dengan
sangat menyesal, dari hatiku
Yuniza Tri Astari
Aku tidak bisa apa-apa setelah membaca
surat itu. Rasanya hati ini beku karena tidak bisa menggapai keinginan yang
datang dari hati akibat suatu benteng persahabatan. Aku juga
tidak bisa marah dengan Reana atas penolakan Yuni kepadaku. Aku benar tidak
bisa apa-apa. Yang jelas sampai saat ini, sampai detik ini rasa sayang dan
cintaku kepada Yuni masih masih ada tersimpan di hati.
Komentar
Posting Komentar