Langsung ke konten utama

SEGITIGA (BAB 2)



Dygta, Teman Terbaikku
           
            Kuambil HPku dari saku celana sekolahku. Aku penasaran kenapa si Dygta sampai saat ini masih belum kelihatan batang hidungnya, di sekolah ini. Padahal biasanya dia datang lebih awal ke sekolah daripada aku. Lagipula dia bukan orang yang suka ngumpet-ngumpet kayak anak kecil. Kubuka menu kontak di HPku lalu cari namanya di daftar kontak. Setelah ketemu aku hubungi nomor Handphonenya. Tersambung dan tak lama diangkatnya.
            “Halo” jawab Dygta dari HPnya.
            “Woi Dygta, kamu nggak berangkat ya hari ini? Di mana kamu? Masih di Toho kah?”
            “Hah…nggak. Aku ada di sekolah nih” jawab Dygta sambil dengan nafas yang terengah-engah dan suara yang agak sedikit mendesah. Kedengaran seperti orang yang habis lari.
            “Lagi ngapain woy, ngapa suaramu ngomong jadi aneh gitu? Mendesah-desah seperti orang yang lagi ML aja” ledekku.
            “Nggak”
            “Tuh kan desahannya makin jadi, emangnya lo ada di mana sih?” tanyaku lagi.
            “Ah sotoy nih, aku lagi di WC”
            “Hah…ngapain? Lo lagi boker”
            “Nggaklah, lo macam nggak tau gue aja. Udah ah, jangan ganggu”
            “Ah sialan…jangan-jangan lo lagi……”
            “Tuuut”. Telponku di akhirinya. Aku berlari keluar kelas menuju WC sekolah yang ada di dekat koridor jalan menuju kantin, sekarang aku tahu apa yang dilakukan Dygta di WC saat ini. Jelaslah aku tahu dengan kebiasaannya. Makanya aku rela lari-larian kayak gini ke WC Cuma untuk mencegah dan menghentikan apa yang telah dilakukannya pada “ruang” tersebut.
Aku sudah sampai di depan WC pria. Aku masuk dan aku dekati satu per satu ruang yang ada di WC pria. Kulihat WC yang paling ujung, hanya pintu itu yang terttutup keliatan seperti ada orang di dalamnya. Aku melangkah diam-diam dan menempelkan telingaku di pintunya. Terdengar suara desahan.
            “Ahhh……”
            Semakin lama desahan itu semakin cepat. Aku geram sekali mendengarnya sehingga aku berteriak.
            “Woi Dyg keluar! Dyg, keluar Dyg” teriakku sambil menggedor-gedor pintunya keras-keras secara berulang-ulang. Masih belum di gubris juga.
            “Woi Dyg, kampret. Masih pagi nih…malu boy. Keluar”
            “Eh resek loh, sana-sana belum selesai nih, tanggung belum keluar” teriaknya dari dalam WC.
            “Dyg nyadar Dyg, ini sekolah bukan rumahmu, kalau di rumahmu  terserahlah”
            “Diam lu….Ahhh..” bentaknya diikuti dengan desahan yang semakin keras.
            “Jangan-jangan udah keluar nih” pikirku.
            “Eh Dyg cepat keluar, loh udah ejakulasi kan? Ntar ketahuan!”
            “Vind, siapa yang ejakulasi”
            Aku kaget setengah mati. Ternyata ada Ravi, anak IPS di samping ku.
            “Ah nggak, maksudku aku sudah ereksi nih mau pipis. Nih si Dygta lama amat keluarnya. Lo ngapain di sini?” tanyaku.
            “Ya mau pipislah, masak mau makan!” jawab Ravi meledekku.
            “Oh iya, aku lupa.”
            “Nggak ke toilet lain, kan masih banyak kosong?” tanya Ravi lagi. Dari kerutan alisnya, ia seperti mencium gelagatku yang mencurigakan.
            Waduh. Aku kebingungan untuk menjawab pertanyaan Ravi yang satu ini.
            “Eh…eh….mungkin aku uda kebelet kali ya, jadi nggak kepikiran.”
            “Oh….” Sahut Ravi dengan mengerutkan dahi. Mungkin dia nggak percaya dengan alasanku.
“Klek”. bunyi Dygta membuka pintu WC. Ia keluar dengan raut muka yang senang. Tampak sekali ia merasa puas.
            “Akhirnya keluar juga, eh tadi lo ngomong ama siapa?” tanya Dygta.
            Aku menarik tangannya dan membawanya pergi dari WC pria.
            “Eh sialan kamu ya, hampir aja aku dituduh yang macam-macam ama Ravi, ngapain lo di dalam tadi. Ah aku tau, pasti lo tadi lagi onani ya! Ngaku aja” ujarku dengan paksa.
            “Ah nggak” jawab Dygta dengan santai.
            “Bual lo, baunya aja masih keciuman”
            “Maksudnya…NGGAK SALAH LAGI. Ha..ha..ha..” jawab Dygta dengan santai sambil tertawa.
            “Dasar kamu ya, nggak mikirkan tempat main embat aja. Gila lo kalau sampe katahuan malulah boy”
            “Alah, eh men lo kan udah tahu aku gimana. Biasa aja kali. Nggak bakal ada yang tahu. Soalnyakan udah aku bersihkan WCnya. Lagian ngapain sewot sih? Lo juga kan sering melakukannya” kilahnya membela diri. Dasar tuh orang, dikasih tahu malah ngebalikin omongan.
            “Ya emang. Tapi nggak separah kamu, aku paling seminggu tiga kali. Nah lo hampir tiap hari, mana nggak pake kenal tempat lagi. Semuanya di hantam. Dasar Hipersex” ledekku sambil menepuk dadanya.
            “Sialan lo, dasar blasteran nggak jelas. Indonesia nggak Bosnia juga nggak”
            “Enak jak. Ya udahlah kita ke kelas sekarang. Kamu belum tahu tempat kita duduk kan?” usulku.
            “Oke, ayo cabut”
Aku dan Dygta langsung aja cabut menuju ke kelas. Lumayan aneh juga ber lama-lama di depan WC berduaan, ama Dygta lagi. Ntar dipikiran macam-macam lagi sama siswa lain. Kan gak lucu sama sekali jika di madding tiba-tiba ada gossip yang menyatakan kalau aku dan Dygta adalah pasangan homo. Gila….. mau taruh di mana nih muka kalau sampai keluar berita kayak gitu. Tapi kupikir-pikir ngapain juga dipikirin, kalaupun suatu saat ada berita seperti itu muncul. Biasa aja lagi, soalnyakan kita memang bukan pasangan homo tetapi pasangan pecinta wanita sejati. Sesampainya dikelas kami langsung dudk di atas bangku yang telah dipilihkan Pasha, Rino dan Hardi. Aku masih penasaran dengan peristiwa tadi, kenapa dia tiba-tiba masturbasi di WC.
“Oh ya Dyg, apa sih yang kamu lihat sempe-sampe lo nggak bisa nahan kayak gitu? Gila kamu ya…kalau sampe ketahuan siswa lain atau tim madding penggosip kelas pari itu, mampus lo” ujarku.
“Yah lo, udah lulus jadi sahabat gue masih pake nanya lagi aku lihat apaan. Ya lihat itulah…masak aku lihat monyet lewat” jawab Dygta dengan santai dan sedikit meledekku. Emang dasar tuh anak, sama sekali nggak nyambung dan cuek mampus.
“Kalau itu aku juga tahu kali kalau lo lihat gituan, anak kecil juga tahu kalau orang lagi terangsang abis liat apaan! Maksudku itu siapa yang kamu intip. Atau jangan-jangan lo tadi masuk dan ngintip di WC cewek ya”
“Jangan asal main tebak woy, eh gini-gini aku juga bisa kapok digebukin ama cewek-cewek yang ada di WC kemaren-kemaren ketika aku ngintip mereka satu persatu. Gila aja udah empat kali aku ketahuan. Masih mending digebukin, ini di kelitikin, ditelanjangin plus di arak-arak. Kayak gitu lagi? Mendingan aku baca FHM biar terangsang”
“Trus apaan yang lo liat” tanyaku lagi dengan sedikit memaksa.
“Penasaran banget sih? Yang pastinya tadi aku lihat dada sexy dari seorang wanita. Kancing baju atasnya kebuka, yah jadi sedikit kelihatanlah. Eh tapi biar sedikit aku langsung ON men!” jelasnya dengan nada yang berapi-api.
“Siapa ceweknya” tanyaku karena semakin penasaran.
“Eits…sorry, ini bukan untuk konsumsi publik. Just for me! Aku nggak mau kamu ikut-ikutan ngonsumsi juga” jawabnya dengan nada sedikit ketus.
“Ah resek kamu…emangnya aku sebejat itu apa? Dasar majat” ledekku.
“Apaan tuh MAJAT?”
“Manusia Bejat” jawabku.
“Ye….lo iri. Daripada lo Blasteran Imposibble!” balasnya.
“Mendingan aku bapakku bule ganteng, nah bapakmu?”
“Itukan bapak lo, faktanya kan lo itu jelek nggak kayak bapak lo”
Aku hanya tertawa dan kujitak kepalanya sekali. Itulah Dygta, lengkapnya Dygta Adhif Prasetya. Dia temanku yang paling akrab seperti saudara sendiri. Biasa main PS bareng dan ngerjain tugas bareng. Kadang-kadang kita juga jalan bareng sama pacar-pacar kita, waktu aku masih punya pacar. Meskipun dia teman terbaik, dia juga teman teraneh yang pernah aku kenal. Orangnya rada-rada aneh, super cuek, suka slengehan, nggak tahu malu dan satu lagi yang paling menonjol yaitu HYPERSEX. Nggak boleh lihat yang bersifat “Buka-bukaan” alias cewek seksi dan bohay yang pake pakaian minim. Kalau sudah melihat yang gituan maunya ke WC terus. Pernah suatu hari ketika aku dan dia main PS3 di rumahnya, kan kita mau ganti kaset permainan yang telah bosan kami mainkan. Terus dia mengambil kasetnya yang disimpannya di dalam lemari bajunya yang ada di pojok kanan kamarnya. Eh baru saja membuka pintu lemari pakaiannya dan belum aja kasetnya diambil dia malah langsung lari keluar kamar cepat-cepat, seperti orang kesetanan. Aku penasaran apa yang membuat Dygta lari ketika ia membuka lemarinya, awalnya kupikir tangannya terkena paku yang nancap di pintu lemari. Ketika aku buka lemarinya betapa terkejutnya aku. Ternyata di bagian bagian belakang pintu lemarinya banyak foto wanita telanjang!! Pantesan aja dia langsung lari ke belakang, nggak lain dang nggak bukan pasti ke WC buat melepasin hasratnya yang tiba-tiba muncul ketika melihat foto-foto itu. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Eh ngapain lo ngelihat aku sambil geleng-geleng kepala gitu. Lo sarap ya?”
Pertanyaan Dygta mengejutkanku.
“Ah nggak..cuma kasihan aja sama kamu, kasihan ama sakit jiwanya” umpatku.
“Dasar lo..eh, Rino, Pasha dan Hardi mana?”
“Mereka sih tadi ada di DPR, di bawah poon rindang” jawabku.
“Ke sana yok! Aku belum ada ketemu mereka nih”.
Come on”
Kami berdua menuju DPR buat nemuin Pasha, Rino dan Hardi. Setelah ketemu, kami saling ngobrol dan bercanda. Secerah siang ini kami berlima bercanda satu sama lain, saling ngoceh dan bercerita pengalaman dan kesan lebih lanjut terhadap liburan kemaren. Kami berlima, khususnya aku dan Dygta emang sahabat sejati yang tak terpisahkan.

***

            Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, rasanya baru saja aku ketemu dengan Dygta dan teman-teman lain sekarang jam tanganku telah menunjukkan pukul 12.15. aku harus pulang kerumah sekarang, begitupula Dygta, Pasha, Rino dan Hardi. Kami sepakat pulang bersama-sama sampai di pertigaan jalan Ahmad Yani. Setelah itu kami akan berpencar satu sama lain karena mereka ada urusan masing-masing. Di jalan Darma, aku dan Dygta beriringan, karena ada yang aku obrolin sama dia.
            “Eh Dyg, gimana kemaren pulang ke Toho, misimu untuk kembali dengan Gina berhasil nggak?” tanyaku.
            “Apaan, nggak sama sekali. Rupanya dia udah punya cowok di sana. Malas juga aku, gengsi dong”.
            “Oh, jadi sekarang nggak ada niat lagi untuk ngejar-ngejar dia. Tapikan kata lo kemaren lo cinta mati sama dia. Apa nggak terlalu terburu-buru buat ngegolin keputusan untuk tidak mengejar dia lagi?”
            “Siapa bilang? Aku ngejar dia itu cuma ngejar tubuhnya aja” jawab Dygta selembe.
            “Apa? Parah kamu. Men… kamu masih kelas dua. Masih terlalu kecil buat mikir yang gituan”
            “Ndak masalah. Lagipula aku juga sudah ada perasaan sama cewek lain” ucapnya.
            “Siapa” tanyaku penasaran.
            “Ntar deh aku kasih tau, aku juga sebenarnya belum yakin dengan apa yang aku rasakan. Eh udah pertigaan tuh, sampai disini ya, aku mau ke Bandara dulu. Mau jemput bibiku”
            “Oke” jawabku.
            Aku mengatrol naik gas motorku ketika berbelok ke pertigaan Ahmad Yani. Aku berharap agar dapat cepat sampai di rumah, soalnya aku mau istirahat. Gila… baru aja setengah hari nangkring di sekolah sudah membuat aku capek. Mungkin aku terlalu nyantai di rumah selama dua minggu, nggak ada olah raga, nggak ada aktifitas berat yang dilakukan makanya hari ini ketika di porsir semua otot menjadi terkejut. Ketika aku sampai di dekat kantor Gubernur, tiba-tiba aku terkejut karena melihat seseorang yang lagi berdiri di bawah pohon. Seorang wanita yang rasanya familiar bagiku. Aku menurunkan kecepatan motorku ketika berada di depan kantor Gubernur Kalimantan Barat. Kulihat dengan teliti.
            “Yuni” teriakku dalam hati.
            Itu Yuni, seorang wanita yang pernah kugoreskan di dalam hatiku. Seorang wanita yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia juga sekolah di SMA yang sama dengan ku, Cuma dia anak kelas E sedangkan aku anak kelas A. letak kelas kami berdua sangat berjauhan. Semenjak cintaku ditolak olehnya aku kami kehilangan kontak, jarang sekali ketemu, kekantin dan ngobrol bareng seperti dulu.  Sekarang dia berubah sekali, sudah memakai jilbab panjang. Sangat kontras dengan penampilannya yang dulu. Aku masih ingat memori yang terjadi pada kami berdua pada saat PDKT dulu. Dia yang mengajakku untuk ikut masuk ekskul PMR di sekolahku, sebenarnya aku nggak ada niat sama sekali untuk masuk tapi dia sangat memaksa sekali agar aku mau ikut sampai-sampai, perlengkapan buat MOSnya pun semua dia yang urusin. Aku tinggal datang aja membawa diri. Memang benar, pada saat MOSnya berlangsung semua barang perlengkapanku dia yang membawakan. Tidak hanya disitu, keberuntunganku datang kembali. Dalam kelompok MOS ternyata kami berdua satu kelompok. Aku sangat senang pada saat itu dapat berduaan dengannya, kami saling ngobrol dan becandaan sepuas-puasnya dan yang membuatku lebih senang lagi ketika kami masuk ke pos uji mental, disitu kami disodorin dengan barang-barang yang menggelikan seperti cacing, ulat, usus ayam, Lumpur dan lain-lain. Pada saat diuji, mata kami ditutup dengan slayer sehingga tidak bisa melihat apa-apa, rupanya si Yuni takut cacing. Ketika tangannya di olesi senior dengan cacing ia berteriak ketakutan sambil memeluk aku erat-erat. Aku bukan malah kaget tapi malah senang ia mau memelukku, rasanya aku ingin lama-lama dipeluk oleh dia, ingin merasakan kehangatan itu lebih lama lagi.
Dari kejadian itu aku merasa sangat yakin bahwa ia mulai jatuh cinta kepadaku. Apalagi pada saat dia komplen dengan nama panggilan MOS ku “CIUM KAK”. Ketika aku dipanggil ama senior-senior aku harus meneriakkan nama itu, sebenarnya aku suka ketika senior-senior cewek yang memanggilku. Siapa juga yang nggak senang dicium sama kakak-kakak senior yang cantik, tapi aku paling geli bila yang memanggil itu senior laki-laki. Emangnya aku homo apa? Now way. Karena aku berteriak seperti itu ketika di panggil dia langsung marah.
“Cobalah nanamu tuh diganti aja. Gete’ benar aku dengernya. Kayak playboy cap cacing” ujarnya.
Aku sih nggak bisa ngapa-ngapain karena nama itu emang dikasih seperti itu dan tidak bisa diganggu-gugat. Tapi aku maklum dengan perkataannya, biasalah orang yang cemburu seperti itu. Mendengar ia berbicara seperi itu malah membuat aku senang, berarti ia benar-benar cinta denganku makanya dia cemburu.
Hingga suatu saat aku yakin dengan cintanya kepadaku, maka kuniatkan diri ini untuk menembaknya. Ketika aku berusaa untuk menembaknya, tiba-tiba saja ada teman baikku yang tidak setuju. Namanya Reana. Dia bilang dia nggak suka dengan Yuni, katanya Yuni itu orangnya terlalu manja untuk seseorang seperti diriku. Pokoknya di nggak setuju banget kalau aku jadian sama Yuni. Reana itu temanku dari kecil, sehingga aku tidak bisa melawan atau melanggar apa katanya. Pada saat itu aku bingung sekali, apa aku lebih memilih persahabatan yang sudah aku jalin dari kecil dengan Reana atau lebih memilih cintaku kepada Yuni. Akhirnya aku putuskan untuk menembak Yuni dengan sebuah surat yang berisi:


Dengan penuh cinta,
Yuni yang aku sayangi, dalam surat ini aku ingin sekali mengatakan bahwa aku benar-benar sayang kepadamu lebih dari rasa sayangku kepada diriku sendiri. Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini secara langsung melalui mulutku agar kamu tahu dan percaya bahwa kali ini aku tidak hanya sekedar main-main, tapi aku tidak bisa karena aku terbentur sebuah persahabatan yang sudah lama aku jalin. Aku mohon kamu mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku harap, kamu mau menjadi sekedar teman bagi diriku. Tempat ku berbagi segala suka dan duka. Aku ingin kamu jadi pacarku. Dan jika kamu memang berniat membalas cintaku dan mau menjadi pacarku aku harap kita dapat menjalani secara Backstreet terlebih dahulu.
Demikian surat ini aku tulis dengan penuh rasa rasa kasih. Aku harap engkau mengerti dan menjawab apa yeng aku tanyakan tentang perasaan ini.


Meqsedvind Hadzovic


            Sebenarnya aku sangat malu dengan pernyataanku yang melalui surat itu. Seperti laki-laki yang tidak “laki” saja. tapi apa yang harus kuperbuat lagi selain itu. Demi persahabatan dan demi cintaku. Dua hari aku menunggu dengan sangat gelisah akan sebuah jawaban yang akan Yuni berikan kepadaku sampai akhirnya surat balasan itu sampai ke tanganku melalui Hesty, teman terdekatnya. Aku deg-degan ketika membuka amplop suratnya walaupun aku sangat yakin bawa ia juga mencintaiku. Kubaca surat itu.

            Vindra yang kusayang,
            Apa lagi yang harus aku lakukan untuk menandakan bahwa aku juga sangat sayang kepadamu. Aku ingin jadi pacarmu…tempatmu untuk berbagi, tempat sandaranku di sekolah ini. Tapi mengetahui keadaaanmu seperti ini aku tidak bisa menerimamu menajdi pacarku. Karena kamu belum cukup dewasa dan masih belum bisa menerimaku apa adanya di depan teman-temanmu. Dan aku sangat yakin bahwa persahabatan yang sudah lama terjalin itu jauh lebih penting daripada rasa sayangmu kepadaku yang baru satu tahun.
            Maafkan aku yang tidak bisa menerimamu untuk sekarang ini. Aku tidak ingin memposisikan diriku sebagai pilihan hidupmu yang akan menghancurkan persahabatan kalian. Tidak ingin………!!!!


Dengan sangat menyesal, dari hatiku

Yuniza Tri Astari

Aku tidak bisa apa-apa setelah membaca surat itu. Rasanya hati ini beku karena tidak bisa menggapai keinginan yang datang dari hati akibat suatu benteng persahabatan. Aku juga tidak bisa marah dengan Reana atas penolakan Yuni kepadaku. Aku benar tidak bisa apa-apa. Yang jelas sampai saat ini, sampai detik ini rasa sayang dan cintaku kepada Yuni masih masih ada tersimpan di hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura