Apa definisimu mengenai kata "cinta". Bagi sunny pada saat ia masih
duduk di sekolah dasar, cinta adalah menyukai seseorang. kedewasaan, apa
itu kedewasaan, baginya kedewasaan adalah keberanian mengatakan "I love
you". semenjak ia mengenal amelia, pemikirannya semakin berubah.
kedewasaan adalah keberanian untuk mengatakan dan memahami frasa "i love
us". namun kenyataan sangat berbeda, Sunny, namanya Sunny, inilah
cerita Sunny.
P.S. cerita ini tidak menang dalam lomba omnibook cerita cinta kota :P
P.S. cerita ini tidak menang dalam lomba omnibook cerita cinta kota :P
Matahari
Terakhir di Langit
Ungaran
dan Pontianak
By: SunnyChristian
Semarang, 4 September
2011
Aku terbangun!
Aku melihat jam bekerku, 08.41 PM.
Oh
my god! Pukul 09.00 aku ada kelas, filsafat
biologi. Aku mengambil handphone ku, dan ada tiga panggilan tidak
terjawab. Aku buka dan ternyata Fahri.
“Ya Tuhan, maaf Ri aku kesiangan”
gumamku.
Aku bergegas
mandi, seperti biasa jika kesiangan mandiku adalah mandi bebek karena waktu
sudah mepet. Sebenarnya aku ada janji dengan Fahri pukul 08.00 tadi,
membicarakan masalah proposal penelitian yang akan kami ajukan ke sebuah pusat
pengembangan riset dan teknologi di suatu instansi pemerintah.
Hanya sekitar
lima menit aku mandi, langsung berpakaian. Tiba-tiba handphone ku berdering.
Aku mengira kalau yang menelfon itu adalah Fahri. Langsung saja aku mengangkat
panggilan handphone ku.
“Maaf Ri, sebentar
lagi aku berangkat” jawabku sedikit teriak.
“Hallo, Reza?”
Aku terdiam,
bukan Fahri tetapi suara seorang wanita.
“Iya, maaf saya
pikir teman saya. Oh ya saya berbicara dengan siapa?”
“Kayaknye tergopoh-gopoh”
balas si wanita itu dengan sedikit tertawa kecil.
Aku hanya
membalas tertawa. Kemudian kami berdua diam sejenak.
“Kayaknye kamu
sudah lupa dengan aku sekarang, SUNNY”
“SUMMER?????”
jawabku sedikit berteriak.
“Kamek
benar kan?” pertanyaannya menghantamku.
Aku masih sedikit terkejut dengan “kedatangannya yang mendadak”.
“Apenye?”
tanyaku.
“I see the truth from your eyes!”
jawabnya dengan sedikit agak tertawa.
Aku bisa
membayangkan wajahnya ketika mengatakan kalimat itu. Wajah menggoda tapi penuh
misteri yang selalu membuat aku kebingungan dan hampir terlihat berantakan
dihadapannya.
“I don’t know, you never tell me” jawabku
datar.
“Masih belum faham ugak kamu, Reza?
Aku hanya diam,
namun aku mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
You
will
never
forget me!” ucapnya.
Aku hanya diam
dan memejamkan mataku. Memori-memori lama mulai menginfeksi otakku lagi.
Menjalar seperti akar yang mencengkeram
setiap partikel tanah.
What
do you want from me Sunshine!
...
Pontianak, 4 Agustus 2005
Hari ini adalah
hari ke delapan aku masuk kelas dua
SMA. Setelah namaku, Syahreza Pahlevi, telah masuk ke dalam daftar kelas 2A,
aku merasakan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupku, berhasil masuk ke
dalam kategori kelas unggulan di sekolahku yang merupakan salah satu sekolah
menengah umum yang cukup populer. Hal ini bukanlah perjalanan yang sangat
mudah, dalam setahun aku harus mempunyai track
record yang bagus pada pelajaran inti dari sains. Tidak hanya itu,
persaingan yang cukup ketat memacuku untuk tetap berusaha mencapai kelas itu,
dan aku berhasil.
Sialnya hari ini
aku terlambat. Sudah dua malam aku didera insomnia. Aku tidak tahu apa
penyebabnya. Aku sudah mencoba memejamkan mata tetapi tetap tidak bisa
terlelap. Baru dua hari aku merasa irama sirkadianku mulai berubah. Aku berlari sekencang
mungkin di koridor sekolah. Kulihat ruang kelasku sudah tertutup. Aku
memperlambat langkahku kemudian bergegas ke taman sekolah menunggu pelajaran
jam pertama selesai. Masuk terlambat sama juga menghantar nyawa. Sudah gak
boleh masuk, dimarahi pula, daripada malu lebih baik tidak masuk sama sekali.
Aku duduk di bawah pohon flamboyan, sembari menunggu jam pertama selesai.
“Kayaknye
ini bukan karakteristik kamu”.
Suara seorang
perempuan yang berasal dari belakangku bergaung ditelingaku. Aku menoleh ke
arah asal suara tersebut. Dia adalah Amelia Al-Kadri.
“Aok, seharusnya, kamek
sudah kehilangan satu kesempatan hari ini” jawabku dengan sedikit tersenyum.
Melihatnya dengan tatapan yang sedikit tajam membuatnya mendekat kepadaku.
“You are very passionate, i just love that”
jawabnya dengan membalas tatapan yang sama. Aku mulai melemah. Pandanganku
kalah, seperti biasa, selalu kalah.
Ia sedikit tersenyum.
“Tadak gak,
kamek
sudah menyerah” jawabku datar dan kali ini tidak menatapnya.
“Hampir semue orang akan menyerah
jika keinginan utamanya tadak
tercapai” balasnya.
“Aok,
salah satunye
aku!”
“Bukan, i see the truth from your eyes” jawabnya
pelan.
“I give up, kamu tahu ape yang kamek
bicarakan” jawabku dengan intonasi sedikit sinis di akhir kalimat.
“That’s not the point” jawabnya datar.
“And then?” tanyaku sedikit bernada
datar.
“I don’t want to tell you” balasnya
dengan sebuah senyuman. Senyuman yang sedikit membuat guratan bangga di
wajahnya. Oh Amelia, aku tidak pernah bisa menebak apa maumu, maksudmu, dan ...
isi hatimu.
........................................................
Pontianak, Januari 2007
Duniaku seakan
berputar-putar. Setelah menghabiskan waktu selama 12 jam tanpa istirahat
melayani pesta tahunan di kampusku, aku merasa sudah tidak berdaya. Inilah nasib
sebagai mahasiswa “Golongan Baru”
yang pastinya pikiran dan tenaga bakal digodok dan dimanfaatkan habis-habisan
oleh mahasiswa “Golongan lama”.
Setibanya di rumah aku langsung saja mandi. Siraman air yang mengalir ditubuhku
membuat aku sedikit lebih santai.
Aku menjatuhkan
tubuhku ke atas kasur. Terlelap dan tidur dengan nyenyak adalah tujuan utamaku.
Aku mengambil HP ku dan mengeceknya, tidak ada sms ataupun panggilan ketika aku
mandi. Aku memejamkan mataku. “BIP” tiba-tiba saja dering pesanku memecah
kesunyian kamarku. Aku yang hampir saja terlelap menjadi terjaga. Ku ambil HP
ku dan ku buka sebuah sms dari kontak yang bernama “Amelia Alkadri”. Oh my god!
Sunny,
Sunny....
Apa
kabarmu, kabarku baik-baik saja.
Sunny,
Sunny....
Melihatmu,
menyentuhmu itu yang kumau.
Aku terdiam,
antara sadar dan tidak, aku mengingat kembali cerita itu. Setelah hampir satu
tahun aku tidak melihatnya, mendengar kabarnya, ataupun menghubunginya padahal
aku tahu dia juga kuliah satu universitas denganku. Aku sedikit bertanya-tanya
dengan lirik lagu soundtrack film cinta pertama ini dan
kesekian kalinya aku tidak menemukan jawabannya. Namun yang aku tahu, semenjak
itu ia selalu memanggilku SUNNY.
...
Pontianak, 6 Februari 2009
Tiga
puluh menit telah terlewat dengan sia-sia ketika aku
menunggunya di depan pintu kos. Sudah aku sms maupun telfon tetapi tidak ada
respon sama sekali. Aku lihat dari jendela garasi, Black Titan kesayangannya
berdiri dengan kondisi tegap dan rapi. Hanya satu alasan dia tidak menjawabku,
Mandi! Aku berniat menambah waktu lima menit lagi untuk menunggu.
Tik...tok...lima menit pun berlalu dan dia tak kunjung keluar. Akhirnya aku
mengeluarkan sebuah bungkusan plastik dari tasku. Isinya ada sepuluh DVD film
bergenre romance. Kemaren siang
tiba-tiba saja dia mengirim sebuah sms kepadaku. Padahal sudah hampir dua bulan
lebih kami tidak berkomunikasi. Hal itu sudah biasa, ketika dia kembali
menemuiku lewat sms atau telfon secara tiba-tiba, entah kapan dimana waktu yang
tidak bisa aku perkirakan, tetap saja aku senang.
Aku letakkan
kantong berisi dvd itu kemudian aku pulang. Aku pulang tanpa melihat matahari,
rasanya kegelapan semakin menyertai perjalananku. Jalanan sudah sangat sepi,
padahal baru saja pukul 09.00 pm. Semua orang kayaknya pada lagi galau.
Nada SMS dari
HPku berbunyi. Aku berhenti di daerah trotoar Ahmad Yani. Aku buka smsnya dan
ternyata Syareva.
“Kamu di mane? Maaf tadi kamek mandi”
Kubalas singkat.
“Selamat menikmati........SUMMER!”
Tak lama
kemudian, aku mendapat balasan lagi.
“Kamu marah ke????” ape itu SUMMER???”
Maunya marah,
tapi tiba-tiba saja aku teringat pertemuan pertama dengan dia. Aku matikan Hp
ku dan melanjutkan perjalanan menuju kost tercinta.
...
Pontianak, 25 April 2000
Hari ini adalah
hari yang super sibuk. Aku dan lima teman sekelasku disuruh bersih-bersih
sekolah dasar yang notabene adalah sekolah bertingkat pertama yang ada di kota
khatulistiwa ini. Dengan jumlah murid yang terbatas dan kami harus membersihkan
seluruh ruangan yang akan dipergunakan ujian akhir nasional membuatku dan teman-teman
sekelasku capek, namun semangat kami selalu membara seperti matahari yang
selalu membara di langit Kota Pontianak.
Aku dan
teman-temanku beristirahat di sebuah bangku dekat tangga. Semua kelas sudah
bersih, sudah dipel, dan foto-foto peserta ujian pun sudah di tempel di
jendela. Ada beberapa anak dari sekolah lain datang hanya untuk melihat lokasi
atau kelas mana yang akan mereka tempati. Semua tidak membuat aku memperhatikan
kecuali seseorang. Gadis kecil itu menaiki tangga perlahan. Aku memperhatikannya
tanpa berkedip dan tak terasa kepalaku bergerak searah dengan pergerakan
kakinya.
“Permisi” sahut
gadis itu ketika melewati kami. Kulitnya putih bersih, matanya sedikit lebar
dan tajam, rambut ikal tergerai sebahu menambah aroma menawan yang tercium
sangat tajam di hidungku. “Siapa anak perempuan itu” batinku dengan penasaran
(cinta monyet). Teman-temanku melihat ada yang aneh dengan diriku. Aku menoleh
ke arah mereka. Mereka mulai menunjukkan wajah-wajah seolah-olah bersiap untuk
menyerangku. Salah satu dari mereka, si koplak dan bocor mulai berbicara.
“Oy
budak-budak, Reza suke same
budak
perempuan yang baru lewat tadi”. Aku menjadi salah tingkah. Sontak saja aku
memukul kepala si koplak dan kemudian lari. Aku malu dan takut. Malu karena diolok teman-temanku dan takut kalau
perempuan tadi mendengar teriakan teman-temanku yang tentu saja tidak jauh
darinya.
Satu jam
kemudian aku kembali naik ke tingkat dua. Kulihat tidak ada lagi anak-anak yang
ada di sana. Si koplak dan teman-teman yang lain juga sudah tidak ada, termasuk
perempuan mempesona tadi. Perlahan-lahan aku mendekati kelas tempat di mana
perempuan itu berdiri. Aku lihat foto-foto peserta ujian yang tertempel di
jendela. Aku penasaran ingin tahu siapa nama perempuan itu dan kini aku
mendapatkannya.
Amelia Al-Kadri,
SDN 09 Pontianak Barat!
...
Pontianak,
Agustus 2000
Hari ini adalah yang tidak
bersahabat. Hari perdanaku melanjutkan sekolah menengah tingkat pertama yang
disertai dengan hujan deras dan angin yang lumayan kencang. Aku sedikit basah,
namun aku tetap bersemangat karenateringat perempuan yang bernama Amelia
Alkadri itu.
“Apakah dia masuk SMP yang sama
denganku?”
Pertanyaan itu selalu terucap dari
mulutku. Aku mencoba mencari tahu. Aku telusuri semua papan pengumuman di
sekolah itu. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan ijuk, sia-sia, aku tidak
menemukannya. Aku menghela nafas. Tapi aku sedikit tertawa, apa yang aku
pikirkan. Anak seumuran seperti aku bisa-bisanya sudah berfikiran dengan yang
namanya “perasaan”. Apa aku terlalu cepat untuk memikirkan hal seperti ini,
atau aku memang sudah beranjak dewasa. Apa sih dewasa itu? Apakah dengan
memiliki sebuah “perasaan” sudah dikategorikan dewasa? Aku tidak tahu apa itu
cinta bagi orang dewasa, seperti sepupuku yang sudah memiliki pacar pada saat
SMA, atau pamanku yang sedang kuliah di Universitas Tanjungpura Pontianak.
Apakah semuanya sama dengan aku yang baru akan menjalani pendidikan di SMP.
Semakin memikirkannya, aku semakin penasaran. Tetapi aku percaya, semakin aku
membiarkan “perasaan” itu tumbuh, statusku akan berubah menjadi sepert orang
dewasa. Kesimpulannya kedewasaan itu percintaan.
Dewasa itu berani untuk mengatakan I Love You.
…
Pontianak, 7 Februari 2009
I
Love Us.
Entah mengapa
kalimat ini mulai merasuki pikiranku. Naluriku mengatakan bahwa apa yang
dikatakan oleh Tom Hansen di (500) days
of summer itu memang sangat benar. Menyatakan cinta kepada orang yang
memang benar kita cintai itu tidak hanya berkata: i love you!. Aku masih ingat ketika pertama kali masuk SMP aku
memiliki pendapat bahwa dewasa itu berani untuk bilang I love you kepada orang yang kita sukai. Namun sekarang pemikiranku
sedikit tergeser. Pikiranku mengatakan “ i
love you” memiliki makna yang bersifat egois dan individualistis. Tentu
saja itu sangat tidak dewasa. Tapi kini sudah berlalu, percuma saja aku menabuh
suara “i love us” tapi kenyataannya
semua sudah kelihatan buram. Aku dan dia seperti tidak akan bersama.
Tiba-tiba saja
HP ku bergetar. Ada SMS masuk, kemudian aku buka. Dari Amelia
Iya,
Aku memang SUMMER FINN. KAMU MEMANG SPESIAL UNTUKKU, tapi aku tak pernah mau
bersamamu. Maybe you’re right i just wanna play, karena aku SUMMER FINN :’-)
...
Pontianak, April 2008
Kamu
adalah lelaki spesial yang ada hatiku. Tiap detik kalimat itu terus
bernyayi di dalam otakku, rasanya aku tidak dapat mendefinisikan arti kalimat
itu meskipun aku telah mencoba menguraikannya per kata. Apa maksud dengan frasa
lelaki spesial yang berada di puncak
bukit hatiku. Apakah itu artinya dari semua pacarnya aku adalah lelaki yang
paling ia cintai? Apakah Lelaki spesial
merujuk lelaki yang ia inginkan dengan segala sifat dan karakternya, dan yang berada dipuncak bukit hatiku
merujuk bahwa aku adalah lelaki yang seharusnya mendampinginya? Apa yang
sebenarnya ada di dalam pikirannya? Mengapa aku ini tidak nyata baginya padahal
ia tahu apa yangaku rasakan. Sampai sekarang aku tidak mendapatkannya, bukannya
aku tidak pernah bertanya, tapi dia yang tidak pernah menjawab dengan jelas. Otakku
mulai membeku dan kaku, rasanya tidak ada impuls yang membuat aku tidak
bergerak maupun berfikir. Sejenak aku teringat pembicaraan bersamanya, tiga jam
yang lalu.
“Aku ini ape?” tanyaku setelah sekitar
lima menit kami duduk tanpa berbicara.
“Kenape ke
kamu ni?” balasnya dengan nada agak sedikit agak tinggi.
“Kenape?
Kamu bilang kenape?
Aku ini ape? Ape yang sedang kite
lakukan? Ape
yang kamu inginkan dari aku?
Kamu sudah punye
pacar, tetapi kite
malah seperti ini. Apa maumu?”
“Aku tidak mau membicarakannyw” sergahnya. Ia
berbalik arah, tidak memandangku seperti sebelumnya. Aku menariknya, memaksanya
untuk melihat wajahku.
“Kamu sudah tahu apa yang aku rasakan, bagaimana
perasaanku kepadamu. Tahu kamu sudah punya pacar seharusnya kamu tahu itu sudah
membuatku sangat berantakan, tapi mengapa kamu lebih memilih untuk bermain
perasaan yang aku punya dengan membuat aku seperti ini?” ucapku setengah
berteriak karena emosiku sudah mulai terpancing. Tubuhnya mulai gemetar, aku
sedikit melemaskan cengkramanku. Kulihat matanya mulai basah, pantulan sinar
lampu memberitahuku. Dia melepaskan dirinya dariku dan mulai menangis.
“Stop! Kamu
menyakiti aku” jawabnya sedikit terisak.
“Kamu dan aku saling menyakiti satu sama lain, terlebih
lagi aku menyakiti diriku sendiri untuk bermain denganmu seperti ini yang
seharusnya aku tahu kalau kamu
tadak pernah.......”
“Kamu tu
adalah lelaki spesial yang berada puncak bukit hatiku. Awak yang teratas”
potongnya dengan nada membalas, keras. Aku terkejut dengan apa yang barusan ia
katakan.
“Lalu kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan,
seperti mereka? Dygta, Tio dan dua orang lain yang tidak aku kenal. Kenapa aku
tidak?” Tanyaku.
“KARENA
KAMU TIDAK AKAN PERNAH NYATA BAGIKU!”
Aku
hanya diam, tidak ada respon apa-apa, hanya memandang wajahnya sesaat. Kemudian
aku pergi meninggalkannya. TIDAK AKAN PERNAH NYATA BAGIKU. Aku tidak dapat lagi
menerjemahkannya, karena pikiranku telah pergi entah kemana.
Sejenak aku
memejamkan mataku setelah mengingat percakapan itu. Nonsense, tidak masuk akal. Semua ini tidak dapat aku cerna.
Semakin aku berfikir semakin otakku mengatakan kamu tidak akan pernah bisa,
sampai kapanpun. Semuanya ini hanya membuat kamu berantakan karena sebuah
cinta. Ya, hanya cinta saja yang bisa membuatmu berantakan.
...
Ungaran, 13 Mei 2012
Semburat sinar keemasan sudah tergambar
dengan lembutnya memenuhi sebagian kanvas ruang langit bagian timur Jawa
Tengah. Walaupun sang pencerah belum tergambar dengan sempurna, cahayanya telah
menggambarkan keindahan gabungan warna pada kanvas yang selalu bisa membuat
hangat jiwa-jiwa yang melihatnya. Termasuk aku, jiwa dan hatiku mulai
menghangat ketika sang pencerah dan kilauan warnanya tergambar dengan sempurna.
Sunrise.
Sunshine
Sayangnya apa yang ada di dalam
hatiku saat ini tidak seindah sentuhan sinar pada kanvas langit bumi lawang
sewu yang mulai muncul dari sisi timur. Entah bagaimana aku bisa mengatakannya,
bahwa hari ini, tanggal 13 Mei 2012 adalah hari pernikahannya. Amelia Alkadri
bersama lelaki yang sederajat dengannya.
...
Pontianak,
13 Mei 2012
Amelia
terlihat sangat sempurna. Pagi yang menawan telah menyambutnya dan mengatakan
bahwa hari ini adalah hari besar bagi diary kehidupannya. Hari ini dia akan
menulis sejarahnya sendiri dengan balutan songket merah berbenang emas serta
baju kurungnya yang menawan. Jamang keemasan telah tertata megah di atas
mahkotanya dengan untaian melati yang terlihat rapi.
Perempuan
melayu itu pergi mendekati jendela. Mentari terlebih dahulu menyambutnya,
membelai wajahnya yang telah berias. Sinar mentari menerpa membuat ia tampak
lebih menawan. Sayangnya senyuman mentari hanya dia balas dengan diam dan
tatapan yang kosong. Sesekali dia memainkan jarinya yang telah terlukis inai di
sela-sela jendela dan bergumam dengan nada yang terdengar sayup. SUNNY. Dia
mengulangnya tiga kali dan melanjutkan kembali gumamnya: MELIHATMU, MENYENTUHMU
ITU YANG KUMAU. Dia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang dengan
nama SUNNY. Wajahnya sedikit ragu, namun seketika air matanya mengalir ketika
operator yang menjawabnya. Ia tersandar sejenak, setelah itu dia beranjak dari
jendela itu, seperti apa yang dilakukan mentari yang juga meninggalkannya
bersembunyi di balik pepohonan. Mentari terakhir bagi sunny di langit
khatulistiwa.
...
Ungaran, 13 Mei 2012
Aku merasakan
wajahku disentuh olehnya. Kubuka mataku perlahan, aku melihat, merasakan sang
mentari tepat berada di hadapanku. Cahayanya memenuhi seluruh tubuhku. Ku
biarkan semuanya terlihat olehnya, termasuk air mataku yang memantulkan kembali
cahayanya. Aku sering menangis, tapi aku merasa inilah puncaknya dan aku tidak
akan pernah tahan lagi untuk membendungnya. Kubiarkan semuanya mengalir
sepuasku.
My
sunshine. You are my sunshine. My last sunshine.
Aku meringkuk di
atas batu dan mulai menyembunyikan wajahku seolah tak ingin terlihat lagi
baginya. Air mataku masih saja tetap mengalir diiringi dengan nada sumbang yang lepas melalui
bibirku.
“Maafkan aku,
aku saja yang akan pergi”
“maafkan aku
karena membuat diriku tidak nyata bagimu”
“Maafkan aku,
karena aku egois”
“Maafkan aku, tidak
memakai songket dan tanjak itu untuk duduk bersamamu”
“Maaf.......”
Aku melihat sang
mentari. Mentari terakhir bagi Sunny di
langit Ungaran.
...
Pontianak,
13 Mei 2012
Lelaki
bertanjak kuning itu telah tiba bersama iringan tar, pokok telok,
hantaran-hantarannya. Tubuhnya tegap dan wajahnya tampak cemerlang terbalut
senyum yang menawan. Ia sadar bahwa dia akan menuliskan penanya ke diary indah
sang perempuan. Dia duduk di atas pelaminan megah bernuansa kuning keemasan
berbalur merah marun khas melayu, menunggu bidadarinya untuk mengikat sumpah
bersama.
Perempuan
itu muncul perlahan akibat balutan songket merah berbenang emas yang sedikit
mengganggu geraknya. Dia mengangkat wajahnya tegak, suara gemerisik jamang
keemasan mengiringi langkahnya. Dia tampak sayu, namun sang lelaki senyumnya
semakin melebar. Hingga dia duduk bersama lelaki itu, raut wajahnya masih tetap
sama hingga semuanya terjadi.
...
Ungaran, 13 Mei 2012
Kali ini aku
cukup puas dengan segala kegundahan. Lelah, sedih, hancur mungkin telah menjadi
satu. Entah apa yang harus aku lakukan aku juga tidak tahu. Semua yang aku
kenang selama dua belas tahun tidak tahu harus aku apakan. Eternal sunshine of the spotless mind. Seandainya saja memang ada
suatu jasa yang menawarkan program yang benar-benar dapat menghilangkan semua
kenangan pahit ini tanpa menghapus ingatan secara keseluruhan.
Aku mencoba
meyakinkan diriku sendiri bahwa pepatah umum bahwa cinta tidak harus memiliki
itu benar adanya. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima. Dulu aku percaya
segala sesuatu akan hilang dengan sendirinya dengan waktu. Kata orang, waktu
adalah obat utama dalam menyembuhkan segalanya. Waktu berlalu, semua berlalu.
Namun apa yang ada dengan berlalunya waktu? tidak ada yang berubah, kecuali
fisikku, memori pun tidak. Aku menjadi pesimis dengan waktu. Waktu tidak akan
mengubah segalanya. Aku berjalan tanpa ujung, terus menapaki arah timur seperti
bunga matahari yang selalu mengarah pada sinar sang mentari terbit. You are my last sunshine.
Terjemahan bahasa daerah
Kayaknye: sepertinya
Tergopoh-gopoh: tergesa-gesa
Kamek: saya
Apenye: apanya
Ugak: juga
Aok: iya
Tadak gak: tidak juga
Semue: semua
Awak (Pontianak): kamu
Budak-budak: teman-teman/ orang

Komentar
Posting Komentar