Langsung ke konten utama

When She called me SUNNY

Apa definisimu mengenai kata "cinta". Bagi sunny pada saat ia masih duduk di sekolah dasar, cinta adalah menyukai seseorang. kedewasaan, apa itu kedewasaan, baginya kedewasaan adalah keberanian mengatakan "I love you". semenjak ia mengenal amelia, pemikirannya semakin berubah. kedewasaan adalah keberanian untuk mengatakan dan memahami frasa "i love us". namun kenyataan sangat berbeda, Sunny, namanya Sunny, inilah cerita Sunny.

P.S. cerita ini tidak menang dalam lomba omnibook cerita cinta kota :P




Matahari Terakhir di Langit
Ungaran dan Pontianak
By: SunnyChristian

                        
Semarang, 4 September 2011
Aku terbangun! Aku melihat jam bekerku, 08.41 PM.
Oh my god! Pukul 09.00 aku ada kelas, filsafat biologi. Aku mengambil handphone ku, dan ada tiga panggilan tidak terjawab. Aku buka dan ternyata Fahri.
“Ya Tuhan, maaf Ri aku kesiangan” gumamku.
Aku bergegas mandi, seperti biasa jika kesiangan mandiku adalah mandi bebek karena waktu sudah mepet. Sebenarnya aku ada janji dengan Fahri pukul 08.00 tadi, membicarakan masalah proposal penelitian yang akan kami ajukan ke sebuah pusat pengembangan riset dan teknologi di suatu instansi pemerintah.
Hanya sekitar lima menit aku mandi, langsung berpakaian. Tiba-tiba handphone ku berdering. Aku mengira kalau yang menelfon itu adalah Fahri. Langsung saja aku mengangkat panggilan handphone ku.
Maaf Ri, sebentar lagi aku berangkat” jawabku sedikit teriak.
“Hallo, Reza?”
Aku terdiam, bukan Fahri tetapi suara seorang wanita.
“Iya, maaf saya pikir teman saya. Oh ya saya berbicara dengan siapa?”
Kayaknye tergopoh-gopoh” balas si wanita itu dengan sedikit tertawa kecil.
Aku hanya membalas tertawa. Kemudian kami berdua diam sejenak.
“Kayaknye kamu sudah lupa dengan aku sekarang, SUNNY”
“SUMMER?????” jawabku sedikit berteriak.
Kamek benar kan?” pertanyaannya menghantamku. Aku masih sedikit terkejut dengan “kedatangannya yang mendadak”.
Apenye?” tanyaku.
I see the truth from your eyes!” jawabnya dengan sedikit agak tertawa.
Aku bisa membayangkan wajahnya ketika mengatakan kalimat itu. Wajah menggoda tapi penuh misteri yang selalu membuat aku kebingungan dan hampir terlihat berantakan dihadapannya.
I don’t know, you never tell me” jawabku datar.
“Masih belum faham ugak kamu, Reza?
Aku hanya diam, namun aku mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
You will never forget me!” ucapnya.
Aku hanya diam dan memejamkan mataku. Memori-memori lama mulai menginfeksi otakku lagi. Menjalar seperti akar yang mencengkeram setiap partikel tanah.
What do you want from me Sunshine!
...
Pontianak, 4 Agustus 2005
Hari ini adalah hari ke delapan aku masuk kelas dua SMA. Setelah namaku, Syahreza Pahlevi, telah masuk ke dalam daftar kelas 2A, aku merasakan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupku, berhasil masuk ke dalam kategori kelas unggulan di sekolahku yang merupakan salah satu sekolah menengah umum yang cukup populer. Hal ini bukanlah perjalanan yang sangat mudah, dalam setahun aku harus mempunyai track record yang bagus pada pelajaran inti dari sains. Tidak hanya itu, persaingan yang cukup ketat memacuku untuk tetap berusaha mencapai kelas itu, dan aku berhasil.
Sialnya hari ini aku terlambat. Sudah dua malam aku didera insomnia. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Aku sudah mencoba memejamkan mata tetapi tetap tidak bisa terlelap. Baru dua hari aku merasa irama sirkadianku mulai berubah. Aku berlari sekencang mungkin di koridor sekolah. Kulihat ruang kelasku sudah tertutup. Aku memperlambat langkahku kemudian bergegas ke taman sekolah menunggu pelajaran jam pertama selesai. Masuk terlambat sama juga menghantar nyawa. Sudah gak boleh masuk, dimarahi pula, daripada malu lebih baik tidak masuk sama sekali. Aku duduk di bawah pohon flamboyan, sembari menunggu jam pertama selesai.
Kayaknye ini bukan karakteristik kamu”.
Suara seorang perempuan yang berasal dari belakangku bergaung ditelingaku. Aku menoleh ke arah asal suara tersebut. Dia adalah Amelia Al-Kadri.
Aok, seharusnya, kamek sudah kehilangan satu kesempatan hari ini” jawabku dengan sedikit tersenyum. Melihatnya dengan tatapan yang sedikit tajam membuatnya mendekat kepadaku.
You are very passionate, i just love that” jawabnya dengan membalas tatapan yang sama. Aku mulai melemah. Pandanganku kalah, seperti biasa, selalu kalah. Ia sedikit tersenyum.
Tadak gak, kamek sudah menyerah” jawabku datar dan kali ini tidak menatapnya.
“Hampir semue orang akan menyerah jika keinginan utamanya tadak tercapai” balasnya.
Aok, salah satunye aku!”
“Bukan, i see the truth from your eyes” jawabnya pelan.
I give up, kamu tahu ape yang kamek bicarakan” jawabku dengan intonasi sedikit sinis di akhir kalimat.
That’s not the pointjawabnya datar.
And then?” tanyaku sedikit bernada datar.
I don’t want to tell you” balasnya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang sedikit membuat guratan bangga di wajahnya. Oh Amelia, aku tidak pernah bisa menebak apa maumu, maksudmu, dan ... isi hatimu.
........................................................
Pontianak, Januari 2007
Duniaku seakan berputar-putar. Setelah menghabiskan waktu selama 12 jam tanpa istirahat melayani pesta tahunan di kampusku, aku merasa sudah tidak berdaya. Inilah nasib sebagai mahasiswa “Golongan Baru yang pastinya pikiran dan tenaga bakal digodok dan dimanfaatkan habis-habisan oleh mahasiswa “Golongan lama”. Setibanya di rumah aku langsung saja mandi. Siraman air yang mengalir ditubuhku membuat aku sedikit lebih santai.
Aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Terlelap dan tidur dengan nyenyak adalah tujuan utamaku. Aku mengambil HP ku dan mengeceknya, tidak ada sms ataupun panggilan ketika aku mandi. Aku memejamkan mataku. “BIP” tiba-tiba saja dering pesanku memecah kesunyian kamarku. Aku yang hampir saja terlelap menjadi terjaga. Ku ambil HP ku dan ku buka sebuah sms dari kontak yang bernama “Amelia Alkadri”. Oh my god!
Sunny, Sunny....
Apa kabarmu, kabarku baik-baik saja.
Sunny, Sunny....
Melihatmu, menyentuhmu itu yang kumau.
Aku terdiam, antara sadar dan tidak, aku mengingat kembali cerita itu. Setelah hampir satu tahun aku tidak melihatnya, mendengar kabarnya, ataupun menghubunginya padahal aku tahu dia juga kuliah satu universitas denganku. Aku sedikit bertanya-tanya dengan lirik lagu soundtrack film cinta pertama ini dan kesekian kalinya aku tidak menemukan jawabannya. Namun yang aku tahu, semenjak itu ia selalu memanggilku SUNNY.
...
Pontianak, 6 Februari 2009
Tiga puluh menit telah terlewat dengan sia-sia ketika aku menunggunya di depan pintu kos. Sudah aku sms maupun telfon tetapi tidak ada respon sama sekali. Aku lihat dari jendela garasi, Black Titan kesayangannya berdiri dengan kondisi tegap dan rapi. Hanya satu alasan dia tidak menjawabku, Mandi! Aku berniat menambah waktu lima menit lagi untuk menunggu. Tik...tok...lima menit pun berlalu dan dia tak kunjung keluar. Akhirnya aku mengeluarkan sebuah bungkusan plastik dari tasku. Isinya ada sepuluh DVD film bergenre romance. Kemaren siang tiba-tiba saja dia mengirim sebuah sms kepadaku. Padahal sudah hampir dua bulan lebih kami tidak berkomunikasi. Hal itu sudah biasa, ketika dia kembali menemuiku lewat sms atau telfon secara tiba-tiba, entah kapan dimana waktu yang tidak bisa aku perkirakan, tetap saja aku senang.
Aku letakkan kantong berisi dvd itu kemudian aku pulang. Aku pulang tanpa melihat matahari, rasanya kegelapan semakin menyertai perjalananku. Jalanan sudah sangat sepi, padahal baru saja pukul 09.00 pm. Semua orang kayaknya pada lagi galau.
Nada SMS dari HPku berbunyi. Aku berhenti di daerah trotoar Ahmad Yani. Aku buka smsnya dan ternyata Syareva.
Kamu di mane? Maaf tadi kamek mandi
Kubalas singkat.
Selamat menikmati........SUMMER!”
Tak lama kemudian, aku mendapat balasan lagi.
Kamu marah ke????” ape itu SUMMER???”
Maunya marah, tapi tiba-tiba saja aku teringat pertemuan pertama dengan dia. Aku matikan Hp ku dan melanjutkan perjalanan menuju kost tercinta.
...
Pontianak, 25 April 2000
Hari ini adalah hari yang super sibuk. Aku dan lima teman sekelasku disuruh bersih-bersih sekolah dasar yang notabene adalah sekolah bertingkat pertama yang ada di kota khatulistiwa ini. Dengan jumlah murid yang terbatas dan kami harus membersihkan seluruh ruangan yang akan dipergunakan ujian akhir nasional membuatku dan teman-teman sekelasku capek, namun semangat kami selalu membara seperti matahari yang selalu membara di langit Kota Pontianak.
Aku dan teman-temanku beristirahat di sebuah bangku dekat tangga. Semua kelas sudah bersih, sudah dipel, dan foto-foto peserta ujian pun sudah di tempel di jendela. Ada beberapa anak dari sekolah lain datang hanya untuk melihat lokasi atau kelas mana yang akan mereka tempati. Semua tidak membuat aku memperhatikan kecuali seseorang. Gadis kecil itu menaiki tangga perlahan. Aku memperhatikannya tanpa berkedip dan tak terasa kepalaku bergerak searah dengan pergerakan kakinya.
“Permisi” sahut gadis itu ketika melewati kami. Kulitnya putih bersih, matanya sedikit lebar dan tajam, rambut ikal tergerai sebahu menambah aroma menawan yang tercium sangat tajam di hidungku. “Siapa anak perempuan itu” batinku dengan penasaran (cinta monyet). Teman-temanku melihat ada yang aneh dengan diriku. Aku menoleh ke arah mereka. Mereka mulai menunjukkan wajah-wajah seolah-olah bersiap untuk menyerangku. Salah satu dari mereka, si koplak dan bocor mulai berbicara.
Oy budak-budak, Reza suke same budak perempuan yang baru lewat tadi”. Aku menjadi salah tingkah. Sontak saja aku memukul kepala si koplak dan kemudian lari. Aku malu dan takut. Malu karena diolok teman-temanku dan takut kalau perempuan tadi mendengar teriakan teman-temanku yang tentu saja tidak jauh darinya.
Satu jam kemudian aku kembali naik ke tingkat dua. Kulihat tidak ada lagi anak-anak yang ada di sana. Si koplak dan teman-teman yang lain juga sudah tidak ada, termasuk perempuan mempesona tadi. Perlahan-lahan aku mendekati kelas tempat di mana perempuan itu berdiri. Aku lihat foto-foto peserta ujian yang tertempel di jendela. Aku penasaran ingin tahu siapa nama perempuan itu dan kini aku mendapatkannya.
Amelia Al-Kadri, SDN 09 Pontianak Barat!
...
            Pontianak, Agustus 2000
            Hari ini adalah yang tidak bersahabat. Hari perdanaku melanjutkan sekolah menengah tingkat pertama yang disertai dengan hujan deras dan angin yang lumayan kencang. Aku sedikit basah, namun aku tetap bersemangat karenateringat perempuan yang bernama Amelia Alkadri itu.
            “Apakah dia masuk SMP yang sama denganku?”
            Pertanyaan itu selalu terucap dari mulutku. Aku mencoba mencari tahu. Aku telusuri semua papan pengumuman di sekolah itu. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan ijuk, sia-sia, aku tidak menemukannya. Aku menghela nafas. Tapi aku sedikit tertawa, apa yang aku pikirkan. Anak seumuran seperti aku bisa-bisanya sudah berfikiran dengan yang namanya “perasaan”. Apa aku terlalu cepat untuk memikirkan hal seperti ini, atau aku memang sudah beranjak dewasa. Apa sih dewasa itu? Apakah dengan memiliki sebuah “perasaan” sudah dikategorikan dewasa? Aku tidak tahu apa itu cinta bagi orang dewasa, seperti sepupuku yang sudah memiliki pacar pada saat SMA, atau pamanku yang sedang kuliah di Universitas Tanjungpura Pontianak. Apakah semuanya sama dengan aku yang baru akan menjalani pendidikan di SMP. Semakin memikirkannya, aku semakin penasaran. Tetapi aku percaya, semakin aku membiarkan “perasaan” itu tumbuh, statusku akan berubah menjadi sepert orang dewasa. Kesimpulannya kedewasaan itu percintaan.
            Dewasa itu berani untuk mengatakan I Love You.
Pontianak, 7 Februari 2009
I Love Us.
Entah mengapa kalimat ini mulai merasuki pikiranku. Naluriku mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Tom Hansen di (500) days of summer itu memang sangat benar. Menyatakan cinta kepada orang yang memang benar kita cintai itu tidak hanya berkata: i love you!. Aku masih ingat ketika pertama kali masuk SMP aku memiliki pendapat bahwa dewasa itu berani untuk bilang I love you kepada orang yang kita sukai. Namun sekarang pemikiranku sedikit tergeser. Pikiranku mengatakan “ i love you” memiliki makna yang bersifat egois dan individualistis. Tentu saja itu sangat tidak dewasa. Tapi kini sudah berlalu, percuma saja aku menabuh suara “i love us” tapi kenyataannya semua sudah kelihatan buram. Aku dan dia seperti tidak akan bersama.
Tiba-tiba saja HP ku bergetar. Ada SMS masuk, kemudian aku buka. Dari Amelia
            Iya, Aku memang SUMMER FINN. KAMU MEMANG SPESIAL UNTUKKU, tapi aku tak pernah mau bersamamu. Maybe you’re right i just wanna play, karena aku SUMMER FINN :’-)
...

Pontianak, April 2008
            Kamu adalah lelaki spesial yang ada hatiku. Tiap detik kalimat itu terus bernyayi di dalam otakku, rasanya aku tidak dapat mendefinisikan arti kalimat itu meskipun aku telah mencoba menguraikannya per kata. Apa maksud dengan frasa lelaki spesial yang berada di puncak bukit hatiku. Apakah itu artinya dari semua pacarnya aku adalah lelaki yang paling ia cintai? Apakah Lelaki spesial merujuk lelaki yang ia inginkan dengan segala sifat dan karakternya, dan yang berada dipuncak bukit hatiku merujuk bahwa aku adalah lelaki yang seharusnya mendampinginya? Apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya? Mengapa aku ini tidak nyata baginya padahal ia tahu apa yangaku rasakan. Sampai sekarang aku tidak mendapatkannya, bukannya aku tidak pernah bertanya, tapi dia yang tidak pernah menjawab dengan jelas. Otakku mulai membeku dan kaku, rasanya tidak ada impuls yang membuat aku tidak bergerak maupun berfikir. Sejenak aku teringat pembicaraan bersamanya, tiga jam yang lalu.
            Aku ini ape?” tanyaku setelah sekitar lima menit kami duduk tanpa berbicara.
            “Kenape ke kamu ni?” balasnya dengan nada agak sedikit agak tinggi.
            “Kenape? Kamu bilang kenape? Aku ini ape? Ape yang sedang kite lakukan? Ape yang kamu inginkan dari aku? Kamu sudah punye pacar, tetapi kite malah seperti ini. Apa maumu?”
            “Aku tidak mau membicarakannyw” sergahnya. Ia berbalik arah, tidak memandangku seperti sebelumnya. Aku menariknya, memaksanya untuk melihat wajahku.
            “Kamu sudah tahu apa yang aku rasakan, bagaimana perasaanku kepadamu. Tahu kamu sudah punya pacar seharusnya kamu tahu itu sudah membuatku sangat berantakan, tapi mengapa kamu lebih memilih untuk bermain perasaan yang aku punya dengan membuat aku seperti ini?” ucapku setengah berteriak karena emosiku sudah mulai terpancing. Tubuhnya mulai gemetar, aku sedikit melemaskan cengkramanku. Kulihat matanya mulai basah, pantulan sinar lampu memberitahuku. Dia melepaskan dirinya dariku dan mulai menangis.
            “Stop! Kamu menyakiti aku” jawabnya sedikit terisak.
            “Kamu dan aku saling menyakiti satu sama lain, terlebih lagi aku menyakiti diriku sendiri untuk bermain denganmu seperti ini yang seharusnya aku tahu kalau kamu tadak pernah.......”
            Kamu tu adalah lelaki spesial yang berada puncak bukit hatiku. Awak yang teratas” potongnya dengan nada membalas, keras. Aku terkejut dengan apa yang barusan ia katakan.
            “Lalu kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan, seperti mereka? Dygta, Tio dan dua orang lain yang tidak aku kenal. Kenapa aku tidak?” Tanyaku.
“KARENA KAMU TIDAK AKAN PERNAH NYATA BAGIKU!”
Aku hanya diam, tidak ada respon apa-apa, hanya memandang wajahnya sesaat. Kemudian aku pergi meninggalkannya. TIDAK AKAN PERNAH NYATA BAGIKU. Aku tidak dapat lagi menerjemahkannya, karena pikiranku telah pergi entah kemana.
Sejenak aku memejamkan mataku setelah mengingat percakapan itu. Nonsense, tidak masuk akal. Semua ini tidak dapat aku cerna. Semakin aku berfikir semakin otakku mengatakan kamu tidak akan pernah bisa, sampai kapanpun. Semuanya ini hanya membuat kamu berantakan karena sebuah cinta. Ya, hanya cinta saja yang bisa membuatmu berantakan.
...
Ungaran, 13 Mei 2012
            Semburat sinar keemasan sudah tergambar dengan lembutnya memenuhi sebagian kanvas ruang langit bagian timur Jawa Tengah. Walaupun sang pencerah belum tergambar dengan sempurna, cahayanya telah menggambarkan keindahan gabungan warna pada kanvas yang selalu bisa membuat hangat jiwa-jiwa yang melihatnya. Termasuk aku, jiwa dan hatiku mulai menghangat ketika sang pencerah dan kilauan warnanya tergambar dengan sempurna.
            Sunrise. Sunshine
            Sayangnya apa yang ada di dalam hatiku saat ini tidak seindah sentuhan sinar pada kanvas langit bumi lawang sewu yang mulai muncul dari sisi timur. Entah bagaimana aku bisa mengatakannya, bahwa hari ini, tanggal 13 Mei 2012 adalah hari pernikahannya. Amelia Alkadri bersama lelaki yang sederajat dengannya.

...
Pontianak, 13 Mei 2012
Amelia terlihat sangat sempurna. Pagi yang menawan telah menyambutnya dan mengatakan bahwa hari ini adalah hari besar bagi diary kehidupannya. Hari ini dia akan menulis sejarahnya sendiri dengan balutan songket merah berbenang emas serta baju kurungnya yang menawan. Jamang keemasan telah tertata megah di atas mahkotanya dengan untaian melati yang terlihat rapi.
Perempuan melayu itu pergi mendekati jendela. Mentari terlebih dahulu menyambutnya, membelai wajahnya yang telah berias. Sinar mentari menerpa membuat ia tampak lebih menawan. Sayangnya senyuman mentari hanya dia balas dengan diam dan tatapan yang kosong. Sesekali dia memainkan jarinya yang telah terlukis inai di sela-sela jendela dan bergumam dengan nada yang terdengar sayup. SUNNY. Dia mengulangnya tiga kali dan melanjutkan kembali gumamnya: MELIHATMU, MENYENTUHMU ITU YANG KUMAU. Dia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang dengan nama SUNNY. Wajahnya sedikit ragu, namun seketika air matanya mengalir ketika operator yang menjawabnya. Ia tersandar sejenak, setelah itu dia beranjak dari jendela itu, seperti apa yang dilakukan mentari yang juga meninggalkannya bersembunyi di balik pepohonan. Mentari terakhir bagi sunny di langit khatulistiwa.
...
Ungaran, 13 Mei 2012
Aku merasakan wajahku disentuh olehnya. Kubuka mataku perlahan, aku melihat, merasakan sang mentari tepat berada di hadapanku. Cahayanya memenuhi seluruh tubuhku. Ku biarkan semuanya terlihat olehnya, termasuk air mataku yang memantulkan kembali cahayanya. Aku sering menangis, tapi aku merasa inilah puncaknya dan aku tidak akan pernah tahan lagi untuk membendungnya. Kubiarkan semuanya mengalir sepuasku.
My sunshine. You are my sunshine. My last sunshine.
Aku meringkuk di atas batu dan mulai menyembunyikan wajahku seolah tak ingin terlihat lagi baginya. Air mataku masih saja tetap mengalir diiringi dengan nada sumbang yang lepas melalui bibirku.
“Maafkan aku, aku saja yang akan pergi”
“maafkan aku karena membuat diriku tidak nyata bagimu”
“Maafkan aku, karena aku egois”
“Maafkan aku, tidak memakai songket dan tanjak itu untuk duduk bersamamu”
 “Maaf.......”
Aku melihat sang mentari. Mentari terakhir bagi Sunny di langit Ungaran.
...
Pontianak, 13 Mei 2012
Lelaki bertanjak kuning itu telah tiba bersama iringan tar, pokok telok, hantaran-hantarannya. Tubuhnya tegap dan wajahnya tampak cemerlang terbalut senyum yang menawan. Ia sadar bahwa dia akan menuliskan penanya ke diary indah sang perempuan. Dia duduk di atas pelaminan megah bernuansa kuning keemasan berbalur merah marun khas melayu, menunggu bidadarinya untuk mengikat sumpah bersama.
Perempuan itu muncul perlahan akibat balutan songket merah berbenang emas yang sedikit mengganggu geraknya. Dia mengangkat wajahnya tegak, suara gemerisik jamang keemasan mengiringi langkahnya. Dia tampak sayu, namun sang lelaki senyumnya semakin melebar. Hingga dia duduk bersama lelaki itu, raut wajahnya masih tetap sama hingga semuanya terjadi.
...
Ungaran, 13 Mei 2012
Kali ini aku cukup puas dengan segala kegundahan. Lelah, sedih, hancur mungkin telah menjadi satu. Entah apa yang harus aku lakukan aku juga tidak tahu. Semua yang aku kenang selama dua belas tahun tidak tahu harus aku apakan. Eternal sunshine of the spotless mind. Seandainya saja memang ada suatu jasa yang menawarkan program yang benar-benar dapat menghilangkan semua kenangan pahit ini tanpa menghapus ingatan secara keseluruhan.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa pepatah umum bahwa cinta tidak harus memiliki itu benar adanya. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima. Dulu aku percaya segala sesuatu akan hilang dengan sendirinya dengan waktu. Kata orang, waktu adalah obat utama dalam menyembuhkan segalanya. Waktu berlalu, semua berlalu. Namun apa yang ada dengan berlalunya waktu? tidak ada yang berubah, kecuali fisikku, memori pun tidak. Aku menjadi pesimis dengan waktu. Waktu tidak akan mengubah segalanya. Aku berjalan tanpa ujung, terus menapaki arah timur seperti bunga matahari yang selalu mengarah pada sinar sang mentari terbit. You are my last sunshine.



Terjemahan bahasa daerah
Kayaknye: sepertinya
Tergopoh-gopoh: tergesa-gesa
Kamek: saya
Apenye: apanya
Ugak: juga
Aok: iya
Tadak gak: tidak juga
Semue: semua
Awak (Pontianak): kamu
Budak-budak: teman-teman/ orang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura