Back
to School!
Namaku Meqsedvind
Hadzovic. Nama yang kedengarannya cukup aneh bagi seorang anak Indonesia.
Ya iyalah…biasanyakan nama anak Indonesia
itu diambil dari berbagai suku yang ada. contohnya kalau orang jawa kisaran
nama yang diberikan semua serba O misalnya Prayitno atau Sudarmono. Kalau orang
batak ada Togar, poltak. Biasa juga ada nama-nama yang sangat islami, misalnya
Muhammad Abdul Wahab, nama-nama nabi seperti Musa, Isa, Idris dan 25 nabi
lainnya dan berbagai macam nama umum yang sering terdengar di Indonesia seperti
Yustito, Ferry, Andi, Wisnu dan lain-lain. Bagi orang-orang yang belum tahu
sisilah keluargaku pasti akan
bertanya-tanya kenapa namaku kedengaran seperti nama-nama orang yang
berkebangsaan Russia atau
berkebangsaan Serbia
dan sekitarnya.
Hm……….
Harus ku akui, Aku
memang keturunan campuran, atau bahasa keren di Indonesia biasanya disebut
blasteran. Aku adalah seorang laki-laki berdarah Indonesia-Bosnia-Herzegovina,
ibuku berasal dari Mempawah salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Barat
dan bapakku berasal dari Sarajevo,
ibukota Bosnia-Herzegovina. Kalau dipikir-pikir jauh amat, gimana ketemunya?
Yah namanya juga jodoh! Awalnya mereka bertemu pada saat bapakku bekerja di
salah satu perusahaan swasta di Pontianak
dan ibuku juga bekerja pada perusahaan yang sama. Karena sering ketemu, tumbuhlah benih-benih cinta
diantara mereka berdua. Enam bulan pacaran terus menikah dan sekarang telah
memiliki dua orang anak yaitu aku dan adikku, Almaghveera Hadzovic. Sebenarnya
aku dan keluargaku akan pindah ke Sarajevo dan menjadi warga Negara
Bosnia-Herzegovina, tapi tiba-tiba pada tahun 1992 terjadi peperangan antar
etnik antara umat Kristen Orthodoks Serbia dengan muslim Bosnia, jadi kami dicegah
kakek untuk pindah ke sana. Lama-kelamaan bapakku pun berubah pikiran untuk
pindah kesana dan lebih memilih untuk menjadi warga Negara Indonesia. Karena
itu kami tetap tinggal di Indonesia dan kini kami sekeluarga tinggal di
Pontianak.
Kadang-kadang aku suka
sebel sama teman-teman atau tetangga yang melihatku. Apalagi kalau aku jalan sama vira adikku. Kata mereka
aku nggak ada sekali tampak seperti keturunan Bosnia. Kalau adikku ia, rambutnya
pirang, iris matanya biru dan kulitnya putih sedangkan aku rambutku hitam, iris
mataku coklat dan aku tidak berkulit putih, kadang-kadang aku diledekin “anak
angkat kali”. Padahalkan wajar-wajar aja, ibuku kan orang Indonesia juga,
pastinya secara fenotip bisa jadi aku nurun dari ibuku, soalnya aku pernah baca
salah satu konsep di genetika yang disebut criss-cross
inheritance. Konsep ini mengatakan bahwa anak laki-laki akan lebih dominan
sifatnya seperti ibunya sedangkan anak perempuan akan lebih dominant sifat yang
diturunkan dari bapaknya. Jadi tidak perlu dipertanyakan lagi kenapa aku tidak
mirip dengan bapakku. Dan untungnya Vira bersekolah di luar, jadi sekarang aku
jarang lagi dibanding-bandingkan.
Huffff….
Sekarang aku
masih bersekolah, tepatnya aku baru akan naik kelas dua SMA. Saat ini aku
sedang menunggu detik-detik masuk ke sekolah yang sudah hampir dua minggu aku
tinggalkan. Biasalah habis ujian semester dan setelah pembagian rapor kan selalu ada liburnya.
***
Pagi ini sangat cerah sekali, matahari bersinar
dengan terangnya dan birunya langit menandakan keceriaan hari ini. Aku
senang sekali dengan hari ini, karena hari ini aku kembali bersekolah. Sudah
dua minggu aku libur, libur kenaikan kelas. Rasanya sumpek banget. Udah nggak
liburan kemana-mana, teman-teman yang lain nggak ada pula soalnya mereka rata-rata
pergi liburan keluar kota.
Sumpek-sumpek deh aku sendirian, Cuma nonton tv, dan main gitar. Apaan….! Nggak
asyik sama sekali.
Tapi tenang
saja, hari ini aku akan kembali bertemu dengan mereka, ngumpul bareng dan
ngobrol bareng lagi. Mereka semua pada gokil dan lucu abis. Nggak ketemu mereka
dunia terasa sepi. Itu yang membuat aku bersemangat sekolah hari ini.
Kulihat
jam dinding sudah menunjukkan hampir jam tujuh, aku langsung saja bergegas aku
pergi ke sekolah dengan motorku dihari pertama masuk sekolah ini. Untuk hari
pertama ini terlambat sedikit tidak apa-apalah. Belum juga belajar, palingan
cuma cari tempat duduk baru doang. Ngomong-ngomong
tentang kelas mudah-mudahan tahun ini tidak ada rolling kelas seperti apa yang terjadi dengan seniorku tahun lalu. Payah banget kalau mau misah-misah lagi
ama teman-teman lain.
“Semoga saja ini tidak
akan terjadi” pikirku.
Namanya saja sudah saling
kompak satu sama lain, jadi kalau sudah misah dan gabung sama teman-teman lain
yang nggak dikenal, belum tentu teman-teman dari kelas lain bisa segokil dengan
teman-temanku dikelas ini.
Sekolahku, SMA Pertiwi
Pontianak Selatan kira-kira sudah tinggal 1 Km lagi. Aku saja sudah hampir
keluar dari jalan protokol utama di kota ini. Perlu lima menit lagi untuk
sampai di halaman sekolah. Kunaikkan kecepatan motorku hingga 80 Km per jam
pokonya nggak perduli dengan polisi yang menjaga di pertigaan jalan ini. Aku rasa polisi itu juga suka dengan yang
namanya ngebut-ngebut. Tak lama aroma sekolahku sudah tercium oleh hidungku.
Rasanya sekolahku sudah semakin dekat. Kupalingkan wajahku dan kumelihat…aku
sudah berada di depan gerbang sekolah. Langsung saja aku ke dalam area sekolah
dan kuparkirkan motorku di parkiran kendaraan siswa. Baru saja aku meninggalkan
halaman parkir, kudengar ada suara orang berteriak memanggil namaku.
“Woi…Vin,
Vindra”
Aku
menoleh ke arah mereka, tepatnya di bawah pohon akasia di sudut gerbang
sekolah. Ternyata mereka adalah
Pasha, Rino dan Hardi.
“Sini” teriak mereka lagi
sambil melambaikan tangan tanda memanggilku.
“Yup….tunggu sebentar”
teriakku sambil memarkir motor dengan benar.
Setelah itu aku berlari
menuju pohon akasia itu untuk menghampiri mereka.
“Woi…apa kabar sobat? Dua
minggu nggak ketemu kelihatan makin kering aja badan lo” ledek Pasha sambil
berjabat tangan denganku.
“Kering…kering! Muke lo tu yang kering nggak
mandi dua minggu. Orang perut aku makin melar kayak gini dibilang kering”
solotku sambil terengah-engah, habis berlari buat nayemperin mereka ini.
Mereka bertiga mentertawakan aku ketika
aku nyolot tadi.
“Vind, apa kabar lo?” tanya Rino.
“Baik…baik, lo Har, No?”
tanyaku balik.
“So pasti baik, seperti
yang kamu lihat sekarang” jawab Rino dan ardi hampir serempak.
“Eh, kalian waktu liburan kemaren pada kemana sih?
Aku datengin rumah kalian satu per satu pada kosong semua. Mana HP kalian semua nggak ada yang aktiv
satupun lagi, pada liburan ke hutan ya men?!”
solotku.
“Kasian deh lo, kalau aku
sih kemaren liburan ke Putussibau men,
tempat sepupuku. Gila seru abis…pergi ke Danau Sentarum tempatnya mantep banget,
airnya, hutannya, gunungnya pokoknya serasa seperti di surga” cerita Pasha
serius dan bersemangat.
“Yeee… emangnya lo tahu
surga kayak gimana bentuknya?” ledekku.
“Suka-suka akulah, itukan definisi aku.
Mulut-mulut aku” balas Pasha tidak mau kalah.
“Kalau aku kemaren ke Sumedang Vind kerumah nenek
aku. Terus, karena aku masih pake Simpati lama yang masih ada roamingnya kan
bisa mahal kalau pake nomor itu terus, jadi aku ganti kartu waktu di sumedang. Tapi itulah, aku lupa sms kamu dengan
Hardi dan Pasha juga. Mungkin aku keasyikan liburan kali ya” ujar Hardi.
”Alah, alasan aja tuh!
Masa sama kita-kita aja bisa lupa? Palingan lo lagi enakan pacaran dengan cewek
Sumedang, iya kan? Makanya lo lupa sama kita-kita” ledek Pasha lagi. Emang dia
peledek sejati.
”Ah nggak kok! Beneran.
Sumpah deh” bela Hardi.
Aku hanya tersenyum saja. Aku percaya dengan perkataan
Hardi daripada omongan Pasha. Seorang Hardi gitu loch! Yang sangat kaku sama
cewek. Bukannya Hardi yang macarin cewek, yang ada tuh cewek yang macarin
Hardi.
“Kalau kamu Pas, kenapa
Hpmu nggak aktif?” tanyaku lagi kepada Pasha.
“Itu dia aku lupa komboin
nomor fleksiku sebelum masuk ke Putussibau, jadinya sampai di sana Hpnya nggak
bisa dipakai”
“Kalau gue Vind liburan ke
Sambas. Gila men… aku kenalan sama cewek Semparuk, namanya Annisa.
Sumpah…cantik abisss. Putih, hidungnya mancung, muluslah pokoknya” ujar Rino
dengan penuh semangat.
Aku dan Pasha refleks
memandang ke arah Rino sedangkan Hardi diam aja, tidak menunjukkan ekspresi
yang sama dengan aku dan Pasha.
“Yang benar No?? terus…terus?” tanya kami
serempak.
“Terus aku nggak mau kalian tahu, makanya Hpku
sengaja aku non-aktifkan selama aku di sana. Akukan orangnya paling nggak tahan
kalau nggak smsan sama kalian kalau
aku ketemu sama cewek. Nah untuk cewek yang satu ini aku nggak rela berbagi
sama kalian. Kalian yang ngebayanginnya aja aku sudah nggak rela” jawab Rino
dengan wajah yang sengaja di sedih-sedihkan.
“Ah…Resek loh” tukas aku dan Pasha sambil menjitak
kepalanya secara bergantian. Aku, Hardi dan Pasha tertawa terbahak-bahak
melihat Rino meringis kesakitan . sekali-kali ia tampak mengusap kepalanya.
“Eh… stop. Vind, lo udah
ke kelas belum?” tanya Rino mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia malu ketika kami menertawakan dia.
“Belum, aku aja belum tau
kelas kita dimana?”
“Kelas kita di ruang bekas
kelas 3 IPA 2, tapi tenang aja Vind aku udah pilihkan tempat buat lo ama CS-an
mu itu” potong Pasha.
“Oke. Thanks banget ya.
Kalau gitu aku ke kelas dulu, liat-liat suasana kelas dan teman-teman lain
sekalian mau tukar bangku kalau bangku pilihan kamu jelek”.
“Alah, kalaupun jelek sesuai juga kan dengan tuh
muka. Dasar…Indo nggak…blasteran nggak. Nggak jelas.
“Sialan lo” umpatku.
Aku berjalan menuju ke
kelasku yang tahun lalu bekas 3 IPA2. ruangannya tepat berada di koridor paling
belakang. Kelasku yang baru itu lumayan terpencil letaknya, tepatnya berbatasan
dengan hutan akasia di bagian ujung sekolah. Butuh waktu kurang lebih selama
tiga menit untuk nyampe ke sana. Mana nggak jauh, ini sekolah bentuknya panjang
banget seperti gerbong kereta api. Kalau waktu aku kelas satukan kelasku letaknya
di koridor depan, dekat dengan aula utama. Jadi nggak perlu berjalan jauh-jauh
seperti ini. Tinggal masuk aula, jalan sedikit dan sampai deh!
”Gila...sial amat dapat
kelas jauh begini. Kalau terlambat bisa ribet nih!” pikirku sambil berjalan
cepat.
“Dubraaakk”
Aku menabrak seseorang di
depan laboratorium Kimia. Kami berdua terjatuh di lantai dan buku orang yang
kutabrak tadi berserakan di lantai.
“Aduh…maaf-maaf, aku nggak
sengaja” ucapku sambil mencoba untuk berdiri.
“Nggak
apa-apa Vind, aku juga nggak lihat ke depan tadi”
Kulihat wajahnya, ternyata
Reeva. Ia sibuk mengemaskan buku komiknya yang berserakan di lantai.
“Reeva, sekali lagi sori
banget ya, aku terburu-buru jadi nggak bisa hati-hati” ucapku. Kubantu dia
untuk mengambil dan merapikan komiknya yang berserakan itu.
”Sekali lagi, maaf ya”
kuulurkan tanganku.
Ia mengambil uluran
tanganku dan berdiri.
“Ga apa-apa, biasa aja lagi”
“Ya udah, aku ke kelas dulu” pamitku.
“Oke…kelas kita di sana!”
“Aku udah tahu kok,
thanks ya”
“Iya”
Kutinggalkan
Syareeva. Namanya lengkapnya Syareeva Amelia Gustaf. Teman sekelasku. Orangnya
baik, anggun tapi agak pendiam. Kulitnya putih, rambutnya sebahu dan berwarna
hitam sekali. sayangnya tubuhnya mungil. Aku dengan Reeva baru sekarang ini aja
dekat, padahal aku sudah lama satu sekolah sama dia apalagi selama tiga tahun
aku sekelas sama dia waktu SMP dulu.. Cuma dulunya Syareeva itu orangnnya jutek
banget, agak maskulin dan sombongnya minta ampun makanya aku malas banget
ngobrol sama dia. Salah sedikit aja kalau ngobrol sama dia langsung aja dia
ngomong “kutinju kamu” atau “kutendang kamu”. Pokoknya nyebelin. Entah kesetanan
apa ketika sudah duduk di bangku SMA ini dia jadi berubah 180º menjadi agak sok
feminim, anggun dan cantik. Mungkin dia berubah karena dia mikir kalau
lama-lama jadi serem kayak dulu nggak ada yang mau sama dia kali, makanya dia
berubah. Siapa coba yang mau ama cewek maskulin yang nyebelin. Hanya cowok
sakit jiwa yang mau sama jika kelakuannya seperti itu. Sebenarnya aku harus
bersyukur dengan perubahannya dia, ya setidaknya masih ada satu cewek manis
yang mungkin suatu saat bisa aku gaet. Who knows? Ha…ha…maunya.
Aku sudah sampai di kelas. Kulihat ramai juga teman-teman sekelasku yang
lain. Ada yang sibuk betulin posisi bangku dan meja. Ada juga cewek-cewek yang
sudah pada ngegosip.
“Awal amat ngegosipnya Bu”
ledekku.
“Inikan masuk pertama
kali, tentunya masih hot. Kalau udah basikan nggak seru tau” solot mereka tak
mau kalah. Emang ya yang namanya geng penggosip itu baru masuk aja udah ada
berita terkini. Gila....infotaintment aja kalah saing!.
Aku tertawa kecil
mendengarnya. Ada lagi temanku yang lagi berantem saling berebutan bangku dan
meja, seperti dua orang wanita yang saling berebutan pacar.
“Ta…Mi… daripada rebutan bangku dan meja kayak
gitu, lebih baik rebutan aku aja! Ngga rugi, dijamin halal” ledekku lagi.
“Ih najis tralala…trilili”
sahut mereka serempak kemudian melanjutkan pertengkaran lagi.
Aku tertawa lagi dan kini
agak terbahak-bahak, kenapa dari tadi kelakuan yang aku lihat pada seperti
orang yang sakit jiwa ya? Pada bocor semua, mungkin kelamaan libur kali. Jadi
tingkah mereka jadi aneh bin ajaib.
Dari tadi aku celingak-celinguk, aku bingung bangku
mana yang Pasha pilihkan. Aku baru ingat kalau mereka tidak kasih tahu ke aku
bangku yang mana telah mereka caplok. Kulihat di bangku paling pojok kanan ada
Marsha salah satu teman cewek sekelasku yang lumayan cantik dan seksi. Kuhampiri dia.
“Marsya… tadi Rino, Pasha,
dan Hardi ada milih bangku nggak?” tanyaku sambil duduk di atas mejanya.
“Lihat.
Tuh bangkunya di barisan keempat, bangku nomor empat” jawabnya. Ia menunjuk ke
arah bangku yang telah ia jelaskan.
“Oh…Trims Baby!” ucapku
sambil menyentuh dagunya.
“Oh ya…dia juga milihin
bangku buat kamu, tuh tepat di depannya” sambung Marsha.
“Oke…sekali lagi Trims”
ucapku dan berlalu menuju kebangku yang sudah dipilihkan oleh mereka bertiga.
“Gila…..mereka bertiga tepi amat milihin aku
tempat duduk. Jereng nih
mataku kalau lihat ke papan tulis” sahutku tanpa sadar.
Aku duduk sebentar dan
menyimpan tasku. Rasanya aku merasakan ada sesuatu yang lupa, sepertinya ada
yang kurang. Kurang lengkap gitu. Buku pastinya bukan soalnya belum ada buku
paket sama sekali. Uang juga bukan, malahan aku tadi dikasih bapakku lebih.
Cewek juga bukan karena sampai saat ini aku masih jombloers sejati. Apaan ya?
“Vind, pacar kesayanganmu
yang cantik dan seksi itu mana? Kok nggak kelihatan dari tadi?” ucap Marsya
dengan memandangku dengan tatapan yang meledek.
Pertanyaan marsha yang secara tiba-tiba dan aneh
itu membuat aku kaget.
“Pacarku
yang cantik dan seksi? pacar yang mana?” tanyaku
Gimana aku nggak kaget
sampai saat ini aja aku masih jombloers sejati sejak aku ditolak Yuni, anak kelas
E di sekolahku satu tahun yang lalu dan sampai sekarang aku belum ada nembak
cewek lagi setelah itu. Jadi pacar darimana? Dari Pegadaian?
“Ah pura-pura lupa”
“Iya siapa? Mana ada aku
pacar” kilahku.
“Itu loh…si seksi Dygta”
ucapnya dengan santai kemudian tertawa terbahak-bahak. Sepertinya apa yang
telah ia katakana kepadaku itu adala ketoprak humor yang membuat dia tertawa
seperti itu. Sebel!
“Dygta??? Ah kampret lo.
Lo pikir aku Homoers apa!” teriakku bernada dan bergaya seperti seorang banci.
Marsha tertawa
terbahak-bahak.
“Eh siapa tahu, soalnya
kan kalian sangat akrab banget. Sangat intim sekali”
“Lekong bo…..Puas lo”
jawabku.
“Puas!, tapi aku masih
belum percaya!” ledek Marsha lagi.
“Kalau nggak percaya ayo
kita buktikan di WC” tantangku.
“Nggak mau…! Enak aja,
emangnya aku cewek apaan!” sewot Marsha.
“”Abis kalah…” balasku..
Ketawa Marsha semakin
menjadi-jadi. Enak aja…masa aku dibilang homo. Aku ini masih normal kali,
walaupun sekarang aku belum mendapatkan seorang pacar tapi aku tetap pecinta
seorang wanita sejati, Cuma masalah belum beruntung aja sampai sekarang masih
belum mendapatkan seorang pacar. Kalau mau bukti ayo kita buktikan. Itu
tantanganku. Tapi benar juga dengan perkataan Marsha, dari tadi aku belum
melihat batang hidung si Dygta. Pantas aja dari tadi rasanya ada yang terlupakan,
seperti ada yang kurang. Maklumlah kita berdua serasa sudah seperti saudara,
kalau satu aja nggak ada terasa epinya.
“Hm…kemana dia ya? Apa
masih pulang kampung ?, payah nih kalau nggak ada dia hari ini. Nggak seru”
pikirku.
Komentar
Posting Komentar