Langsung ke konten utama

SEGITIGA (BAB 1)

Back to School!

Namaku Meqsedvind Hadzovic. Nama yang kedengarannya cukup aneh bagi seorang anak Indonesia. Ya iyalah…biasanyakan nama anak Indonesia itu diambil dari berbagai suku yang ada. contohnya kalau orang jawa kisaran nama yang diberikan semua serba O misalnya Prayitno atau Sudarmono. Kalau orang batak ada Togar, poltak. Biasa juga ada nama-nama yang sangat islami, misalnya Muhammad Abdul Wahab, nama-nama nabi seperti Musa, Isa, Idris dan 25 nabi lainnya dan berbagai macam nama umum yang sering terdengar di Indonesia seperti Yustito, Ferry, Andi, Wisnu dan lain-lain. Bagi orang-orang yang belum tahu sisilah keluargaku pasti akan  bertanya-tanya kenapa namaku kedengaran seperti nama-nama orang yang berkebangsaan Russia atau berkebangsaan Serbia dan sekitarnya.
Hm……….
Harus ku akui, Aku memang keturunan campuran, atau bahasa keren di Indonesia biasanya disebut blasteran. Aku adalah seorang laki-laki berdarah Indonesia-Bosnia-Herzegovina, ibuku berasal dari Mempawah salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Barat dan bapakku berasal dari Sarajevo, ibukota Bosnia-Herzegovina. Kalau dipikir-pikir jauh amat, gimana ketemunya? Yah namanya juga jodoh! Awalnya mereka bertemu pada saat bapakku bekerja di salah satu perusahaan swasta di Pontianak dan ibuku juga bekerja pada perusahaan yang sama. Karena sering ketemu, tumbuhlah benih-benih cinta diantara mereka berdua. Enam bulan pacaran terus menikah dan sekarang telah memiliki dua orang anak yaitu aku dan adikku, Almaghveera Hadzovic. Sebenarnya aku dan keluargaku akan pindah ke Sarajevo dan menjadi warga Negara Bosnia-Herzegovina, tapi tiba-tiba pada tahun 1992 terjadi peperangan antar etnik antara umat Kristen Orthodoks Serbia dengan muslim Bosnia, jadi kami dicegah kakek untuk pindah ke sana. Lama-kelamaan bapakku pun berubah pikiran untuk pindah kesana dan lebih memilih untuk menjadi warga Negara Indonesia. Karena itu kami tetap tinggal di Indonesia dan kini kami sekeluarga tinggal di Pontianak.
            Kadang-kadang aku suka sebel sama teman-teman atau tetangga yang melihatku. Apalagi  kalau aku jalan sama vira adikku. Kata mereka aku nggak ada sekali tampak seperti keturunan Bosnia. Kalau adikku ia, rambutnya pirang, iris matanya biru dan kulitnya putih sedangkan aku rambutku hitam, iris mataku coklat dan aku tidak berkulit putih, kadang-kadang aku diledekin “anak angkat kali”. Padahalkan wajar-wajar aja, ibuku kan orang Indonesia juga, pastinya secara fenotip bisa jadi aku nurun dari ibuku, soalnya aku pernah baca salah satu konsep di genetika yang disebut criss-cross inheritance. Konsep ini mengatakan bahwa anak laki-laki akan lebih dominan sifatnya seperti ibunya sedangkan anak perempuan akan lebih dominant sifat yang diturunkan dari bapaknya. Jadi tidak perlu dipertanyakan lagi kenapa aku tidak mirip dengan bapakku. Dan untungnya Vira bersekolah di luar, jadi sekarang aku jarang lagi dibanding-bandingkan.
Huffff….
Sekarang aku masih bersekolah, tepatnya aku baru akan naik kelas dua SMA. Saat ini aku sedang menunggu detik-detik masuk ke sekolah yang sudah hampir dua minggu aku tinggalkan. Biasalah habis ujian semester dan setelah pembagian rapor kan selalu ada liburnya.

***
           
Pagi ini sangat cerah sekali, matahari bersinar dengan terangnya dan birunya langit menandakan keceriaan hari ini. Aku senang sekali dengan hari ini, karena hari ini aku kembali bersekolah. Sudah dua minggu aku libur, libur kenaikan kelas. Rasanya sumpek banget. Udah nggak liburan kemana-mana, teman-teman yang lain nggak ada pula soalnya mereka rata-rata pergi liburan keluar kota. Sumpek-sumpek deh aku sendirian, Cuma nonton tv, dan main gitar. Apaan….! Nggak asyik sama sekali.
Tapi tenang saja, hari ini aku akan kembali bertemu dengan mereka, ngumpul bareng dan ngobrol bareng lagi. Mereka semua pada gokil dan lucu abis. Nggak ketemu mereka dunia terasa sepi. Itu yang membuat aku bersemangat sekolah hari ini.
            Kulihat jam dinding sudah menunjukkan hampir jam tujuh, aku langsung saja bergegas aku pergi ke sekolah dengan motorku dihari pertama masuk sekolah ini. Untuk hari pertama ini terlambat sedikit tidak apa-apalah. Belum juga belajar, palingan cuma cari tempat duduk baru doang. Ngomong-ngomong tentang kelas mudah-mudahan tahun ini tidak ada rolling kelas seperti apa yang terjadi dengan seniorku tahun lalu. Payah banget kalau mau misah-misah lagi ama teman-teman lain.
            “Semoga saja ini tidak akan terjadi” pikirku.
            Namanya saja sudah saling kompak satu sama lain, jadi kalau sudah misah dan gabung sama teman-teman lain yang nggak dikenal, belum tentu teman-teman dari kelas lain bisa segokil dengan teman-temanku dikelas ini.
            Sekolahku, SMA Pertiwi Pontianak Selatan kira-kira sudah tinggal 1 Km lagi. Aku saja sudah hampir keluar dari jalan protokol utama di kota ini. Perlu lima menit lagi untuk sampai di halaman sekolah. Kunaikkan kecepatan motorku hingga 80 Km per jam pokonya nggak perduli dengan polisi yang menjaga di pertigaan jalan ini. Aku rasa polisi itu juga suka dengan yang namanya ngebut-ngebut. Tak lama aroma sekolahku sudah tercium oleh hidungku. Rasanya sekolahku sudah semakin dekat. Kupalingkan wajahku dan kumelihat…aku sudah berada di depan gerbang sekolah. Langsung saja aku ke dalam area sekolah dan kuparkirkan motorku di parkiran kendaraan siswa. Baru saja aku meninggalkan halaman parkir, kudengar ada suara orang berteriak memanggil namaku.
            “Woi…Vin, Vindra”
            Aku menoleh ke arah mereka, tepatnya di bawah pohon akasia di sudut gerbang sekolah. Ternyata mereka adalah Pasha, Rino dan Hardi.
            “Sini” teriak mereka lagi sambil melambaikan tangan tanda memanggilku.
            “Yup….tunggu sebentar” teriakku sambil memarkir motor dengan benar.
            Setelah itu aku berlari menuju pohon akasia itu untuk menghampiri mereka.
            “Woi…apa kabar sobat? Dua minggu nggak ketemu kelihatan makin kering aja badan lo” ledek Pasha sambil berjabat tangan denganku.
            “Kering…kering! Muke lo tu yang kering nggak mandi dua minggu. Orang perut aku makin melar kayak gini dibilang kering” solotku sambil terengah-engah, habis berlari buat nayemperin mereka ini.
            Mereka bertiga mentertawakan aku ketika aku nyolot tadi.
            “Vind, apa kabar lo?” tanya Rino.
            “Baik…baik, lo Har, No?” tanyaku balik.
            “So pasti baik, seperti yang kamu lihat sekarang” jawab Rino dan ardi hampir serempak.
            “Eh, kalian waktu liburan kemaren pada kemana sih? Aku datengin rumah kalian satu per satu pada kosong semua. Mana HP kalian semua nggak ada yang aktiv satupun lagi, pada liburan ke hutan ya men?!” solotku.
            “Kasian deh lo, kalau aku sih kemaren liburan ke Putussibau men, tempat sepupuku. Gila seru abis…pergi ke Danau Sentarum tempatnya mantep banget, airnya, hutannya, gunungnya pokoknya serasa seperti di surga” cerita Pasha serius dan bersemangat.
            “Yeee… emangnya lo tahu surga kayak gimana bentuknya?” ledekku.
            “Suka-suka akulah, itukan definisi aku. Mulut-mulut aku” balas Pasha tidak mau kalah.
            “Kalau aku kemaren ke Sumedang Vind kerumah nenek aku. Terus, karena aku masih pake Simpati lama yang masih ada roamingnya kan bisa mahal kalau pake nomor itu terus, jadi aku ganti kartu waktu di sumedang. Tapi itulah, aku lupa sms kamu dengan Hardi dan Pasha juga. Mungkin aku keasyikan liburan kali ya” ujar Hardi.
            ”Alah, alasan aja tuh! Masa sama kita-kita aja bisa lupa? Palingan lo lagi enakan pacaran dengan cewek Sumedang, iya kan? Makanya lo lupa sama kita-kita” ledek Pasha lagi. Emang dia peledek sejati.
            ”Ah nggak kok! Beneran. Sumpah deh” bela Hardi.
            Aku hanya  tersenyum saja. Aku percaya dengan perkataan Hardi daripada omongan Pasha. Seorang Hardi gitu loch! Yang sangat kaku sama cewek. Bukannya Hardi yang macarin cewek, yang ada tuh cewek yang macarin Hardi.
            “Kalau kamu Pas, kenapa Hpmu nggak aktif?” tanyaku lagi kepada Pasha.
            “Itu dia aku lupa komboin nomor fleksiku sebelum masuk ke Putussibau, jadinya sampai di sana Hpnya nggak bisa dipakai”
            “Kalau gue Vind liburan ke Sambas. Gila men… aku kenalan sama cewek Semparuk, namanya Annisa. Sumpah…cantik abisss. Putih, hidungnya mancung, muluslah pokoknya” ujar Rino dengan penuh semangat.
            Aku dan Pasha refleks memandang ke arah Rino sedangkan Hardi diam aja, tidak menunjukkan ekspresi yang sama dengan aku dan Pasha.
            “Yang benar No?? terus…terus?” tanya kami serempak.
            “Terus aku nggak mau kalian tahu, makanya Hpku sengaja aku non-aktifkan selama aku di sana. Akukan orangnya paling nggak tahan kalau nggak smsan sama kalian kalau aku ketemu sama cewek. Nah untuk cewek yang satu ini aku nggak rela berbagi sama kalian. Kalian yang ngebayanginnya aja aku sudah nggak rela” jawab Rino dengan wajah yang sengaja di sedih-sedihkan.
            “Ah…Resek loh” tukas aku dan Pasha sambil menjitak kepalanya secara bergantian. Aku, Hardi dan Pasha tertawa terbahak-bahak melihat Rino meringis kesakitan . sekali-kali ia tampak mengusap kepalanya.
            “Eh… stop. Vind, lo udah ke kelas belum?” tanya Rino mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia malu ketika kami menertawakan dia.
            “Belum, aku aja belum tau kelas kita dimana?”
            “Kelas kita di ruang bekas kelas 3 IPA 2, tapi tenang aja Vind aku udah pilihkan tempat buat lo ama CS-an mu itu” potong Pasha.
            “Oke. Thanks banget ya. Kalau gitu aku ke kelas dulu, liat-liat suasana kelas dan teman-teman lain sekalian mau tukar bangku kalau bangku pilihan kamu jelek”.
            “Alah, kalaupun jelek sesuai juga kan dengan tuh muka. Dasar…Indo nggak…blasteran nggak. Nggak jelas.
            “Sialan lo” umpatku.
            Aku berjalan menuju ke kelasku yang tahun lalu bekas 3 IPA2. ruangannya tepat berada di koridor paling belakang. Kelasku yang baru itu lumayan terpencil letaknya, tepatnya berbatasan dengan hutan akasia di bagian ujung sekolah. Butuh waktu kurang lebih selama tiga menit untuk nyampe ke sana. Mana nggak jauh, ini sekolah bentuknya panjang banget seperti gerbong kereta api. Kalau waktu aku kelas satukan kelasku letaknya di koridor depan, dekat dengan aula utama. Jadi nggak perlu berjalan jauh-jauh seperti ini. Tinggal masuk aula, jalan sedikit dan sampai deh!
            ”Gila...sial amat dapat kelas jauh begini. Kalau terlambat bisa ribet nih!” pikirku sambil berjalan cepat.
            “Dubraaakk”
            Aku menabrak seseorang di depan laboratorium Kimia. Kami berdua terjatuh di lantai dan buku orang yang kutabrak tadi berserakan di lantai.
            “Aduh…maaf-maaf, aku nggak sengaja” ucapku sambil mencoba untuk berdiri.
            “Nggak apa-apa Vind, aku juga nggak lihat ke depan tadi”
            Kulihat wajahnya, ternyata Reeva. Ia sibuk mengemaskan buku komiknya yang berserakan di lantai.
            “Reeva, sekali lagi sori banget ya, aku terburu-buru jadi nggak bisa hati-hati” ucapku. Kubantu dia untuk mengambil dan merapikan komiknya yang berserakan itu.
            ”Sekali lagi, maaf ya” kuulurkan tanganku.
            Ia mengambil uluran tanganku dan berdiri.
            “Ga apa-apa, biasa aja lagi”
            “Ya udah, aku ke kelas dulu” pamitku.
            “Oke…kelas kita di sana!”
            “Aku udah tahu kok, thanks ya”
            “Iya”
            Kutinggalkan Syareeva. Namanya lengkapnya Syareeva Amelia Gustaf. Teman sekelasku. Orangnya baik, anggun tapi agak pendiam. Kulitnya putih, rambutnya sebahu dan berwarna hitam sekali. sayangnya tubuhnya mungil. Aku dengan Reeva baru sekarang ini aja dekat, padahal aku sudah lama satu sekolah sama dia apalagi selama tiga tahun aku sekelas sama dia waktu SMP dulu.. Cuma dulunya Syareeva itu orangnnya jutek banget, agak maskulin dan sombongnya minta ampun makanya aku malas banget ngobrol sama dia. Salah sedikit aja kalau ngobrol sama dia langsung aja dia ngomong “kutinju kamu” atau “kutendang kamu”. Pokoknya nyebelin. Entah kesetanan apa ketika sudah duduk di bangku SMA ini dia jadi berubah 180º menjadi agak sok feminim, anggun dan cantik. Mungkin dia berubah karena dia mikir kalau lama-lama jadi serem kayak dulu nggak ada yang mau sama dia kali, makanya dia berubah. Siapa coba yang mau ama cewek maskulin yang nyebelin. Hanya cowok sakit jiwa yang mau sama jika kelakuannya seperti itu. Sebenarnya aku harus bersyukur dengan perubahannya dia, ya setidaknya masih ada satu cewek manis yang mungkin suatu saat bisa aku gaet. Who knows? Ha…ha…maunya.
            Aku sudah sampai di kelas. Kulihat ramai juga teman-teman sekelasku yang lain. Ada yang sibuk betulin posisi bangku dan meja. Ada juga cewek-cewek yang sudah pada ngegosip.
            “Awal amat ngegosipnya Bu” ledekku.
            “Inikan masuk pertama kali, tentunya masih hot. Kalau udah basikan nggak seru tau” solot mereka tak mau kalah. Emang ya yang namanya geng penggosip itu baru masuk aja udah ada berita terkini. Gila....infotaintment aja kalah saing!.
            Aku tertawa kecil mendengarnya. Ada lagi temanku yang lagi berantem saling berebutan bangku dan meja, seperti dua orang wanita yang saling berebutan pacar.
            “Ta…Mi… daripada rebutan bangku dan meja kayak gitu, lebih baik rebutan aku aja! Ngga rugi, dijamin halal” ledekku lagi.
            “Ih najis tralala…trilili” sahut mereka serempak kemudian melanjutkan pertengkaran lagi.
            Aku tertawa lagi dan kini agak terbahak-bahak, kenapa dari tadi kelakuan yang aku lihat pada seperti orang yang sakit jiwa ya? Pada bocor semua, mungkin kelamaan libur kali. Jadi tingkah mereka jadi aneh bin ajaib.
Dari tadi aku celingak-celinguk, aku bingung bangku mana yang Pasha pilihkan. Aku baru ingat kalau mereka tidak kasih tahu ke aku bangku yang mana telah mereka caplok. Kulihat di bangku paling pojok kanan ada Marsha salah satu teman cewek sekelasku yang lumayan cantik dan seksi. Kuhampiri dia.
            “Marsya… tadi Rino, Pasha, dan Hardi ada milih bangku nggak?” tanyaku sambil duduk di atas mejanya.
            “Lihat. Tuh bangkunya di barisan keempat, bangku nomor empat” jawabnya. Ia menunjuk ke arah bangku yang telah ia jelaskan.
            “Oh…Trims Baby!” ucapku sambil menyentuh dagunya.
            “Oh ya…dia juga milihin bangku buat kamu, tuh tepat di depannya” sambung Marsha.
            “Oke…sekali lagi Trims” ucapku dan berlalu menuju kebangku yang sudah dipilihkan oleh mereka bertiga.
            “Gila…..mereka bertiga tepi amat milihin aku tempat duduk. Jereng nih mataku kalau lihat ke papan tulis” sahutku tanpa sadar.
            Aku duduk sebentar dan menyimpan tasku. Rasanya aku merasakan ada sesuatu yang lupa, sepertinya ada yang kurang. Kurang lengkap gitu. Buku pastinya bukan soalnya belum ada buku paket sama sekali. Uang juga bukan, malahan aku tadi dikasih bapakku lebih. Cewek juga bukan karena sampai saat ini aku masih jombloers sejati. Apaan ya?
            “Vind, pacar kesayanganmu yang cantik dan seksi itu mana? Kok nggak kelihatan dari tadi?” ucap Marsya dengan memandangku dengan tatapan yang meledek.
            Pertanyaan marsha yang secara tiba-tiba dan aneh itu membuat aku kaget.
            “Pacarku yang cantik dan seksi? pacar yang mana?” tanyaku
            Gimana aku nggak kaget sampai saat ini aja aku masih jombloers sejati sejak aku ditolak Yuni, anak kelas E di sekolahku satu tahun yang lalu dan sampai sekarang aku belum ada nembak cewek lagi setelah itu. Jadi pacar darimana? Dari Pegadaian?
            “Ah pura-pura lupa”
            “Iya siapa? Mana ada aku pacar” kilahku.
            “Itu loh…si seksi Dygta” ucapnya dengan santai kemudian tertawa terbahak-bahak. Sepertinya apa yang telah ia katakana kepadaku itu adala ketoprak humor yang membuat dia tertawa seperti itu. Sebel!
            “Dygta??? Ah kampret lo. Lo pikir aku Homoers apa!” teriakku bernada dan bergaya seperti seorang banci.
            Marsha tertawa terbahak-bahak.
            “Eh siapa tahu, soalnya kan kalian sangat akrab banget. Sangat intim sekali”
            “Lekong bo…..Puas lo” jawabku.
            “Puas!, tapi aku masih belum percaya!” ledek Marsha lagi.
            “Kalau nggak percaya ayo kita buktikan di WC” tantangku.
            “Nggak mau…! Enak aja, emangnya aku cewek apaan!” sewot Marsha.
            “”Abis kalah…” balasku..
            Ketawa Marsha semakin menjadi-jadi. Enak aja…masa aku dibilang homo. Aku ini masih normal kali, walaupun sekarang aku belum mendapatkan seorang pacar tapi aku tetap pecinta seorang wanita sejati, Cuma masalah belum beruntung aja sampai sekarang masih belum mendapatkan seorang pacar. Kalau mau bukti ayo kita buktikan. Itu tantanganku. Tapi benar juga dengan perkataan Marsha, dari tadi aku belum melihat batang hidung si Dygta. Pantas aja dari tadi rasanya ada yang terlupakan, seperti ada yang kurang. Maklumlah kita berdua serasa sudah seperti saudara, kalau satu aja nggak ada terasa epinya.
            “Hm…kemana dia ya? Apa masih pulang kampung ?, payah nih kalau nggak ada dia hari ini. Nggak seru” pikirku.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura