Syareeva, Gadis
Yang Membuat Dygta Tak Berdaya
Kulihat
Dygta berjalan pulang menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Sudah
tiga hari setelah kejadian makan bakso semeja dengan Syareeva, dia tampak diam
tidak karuan seperti orang yang ling-lung. Sudah aku tanya berulang-ulang
sampai doer rasanya mulutku tapi tidak juga ia jawab apa penyebab dia seperti
itu. Dugaan awalku sih masih seperti yang kemaren, perubahannya ini pasti ada
hubungannya dengan Syareeva. Analisaku mengatakan bahwa ia sedang dimabuk
cinta. Dengan Syareeva. Tapi itu masih belum pasti, karena aku ingin tahu dari
mulutnya sendiri. Aku juga nggak mau jadi sotoy.
Aku
kejar Dygta yang sudah berada di samping motornya.
“Dygta,
tunggu!” teriakku sambil berusaha untuk cepat sampai di parkiran.
Dia
menoleh kearahku dan turun kembali dari motornya.
“Dygta,
kamu kenapa sih? Kenapa kamu berubah seperti ini. Sok melankolis. Ada apa
sebenarnya?” tanyaku sambil ngos-ngosan akibat lari tidak karuan mengejarnya.
“Ada
apa? Aku biasa-biasa aja!”
“Eh
men, aku udah kenal lo lama sekali. Udah lima tahun. Aku tahu
sifat lo. Aku tidak pernah melihat lo sperti ini! Ada apa
sebenarnya?
“Sotoy
lo. Aku nggak ada apa-apa juga, lo tuh
kali yang sok sensitive. Nebak aja nih” kilahnya. Dygta itu, meskipun bejat tpi
matanya gak bisa bohong.
“Mata
lo itu men yang nggak bisa bohong, aku
tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Ayolah teman, aku ini
sahabatmu. Apapun masalah lo pasti aku bantu”
“Benar Vind, tidak ada apa-apa”
“Eh,
jangan bilang kalo lo udah menghamili anak orang ya! Ayo ngaku
siapa yang lo hamili?” ucapku dengan serius. Sebenarnya ini kuucapkan hanya
bertujuan untuk memancingnya saja agar dia keceplosan dengan apa yang sedang
dirahasiakannya.
“Eh
pantatmu, siapa yang menghamili anak orang! Jangan sembarangan nuduh donk.
Orang lagi sedang jatuh cinta dibilang menghamili anak orang”
“Nah
benar tuh analisa aku, ketahuan kan kalau lo lagi jatuh cinta. Ah cemen lo,
gitu aja pake main rahasia-rahasiaan? Gete’ banget sih lo”
Aku
tertawa terbahak-bahak dengan keceplosannya. Dygta jadi salah tingkah,
melihatku juga dia agak malu-malu.
“Eh
Vind, jangan teriak-teriak donk! Entar si dia dengar” ujarnya dengan ekspresi
wajah yang cemas.
“Siapa?
Syareeva. Tenang, dia nggak bakalan tahu soalnya Syareeva sudah pulang dari tadi”
“Kok
tahu aku suka sama Syareeva?”
“Pake
nanya lagi. Ya iyalah aku tahu, secara sikap lo aneh banget ketika kita mau
makan bakso bareng tiga hari yang lalu. Model kamu kayak gitu aku nggak tahu
kalau kamu ada apa-apanya dengan Syareeva? Bego amat gue”
“Lagak lo, sok-sokan”
“Eh
MAJAT, tumben lo lebay banget ketika menyukai seorang Syareeva sampe-sampe diam
kayak orang sarap selama tiga hari? Perasaan, waktu kamu suka sama Erly nggak
kayak gitu deh, yang ada lo tambah gairah bukannya tambah loyo seperti ini,
kenapa?”
Dygta
diam sesaat. Ia tampak gelisah, menoleh ke sana kemari. Seperti
takut di dengari orang lain.
“Ceritanya
di distro aku aja, sekalian jaga distro” ajaknya.
“Oke”
Bergegas
kami meninggalkan sekolah menuju Distro miliknya, distro yang telah ia buka
selama satu tahun, distro yang lumayan lengkap dalam menyediakan fashion yang
lagi trend bagi anak muda, mulai dari kaos, jaket, syal, blazer, celana jeans
panjang dan pendek sampai ke berbagai macam topi. Distro ini tidak jauh
letaknya dengan rumahnya, paling Cuma berjarak seratus meter. Tempatnya cukup
strategis, di tepi jalan M Isya. Jalan yang ramai dilalui oleh para siswa dan
mahasiswa. Selama ini aku sering membantu dalam hal pengepakan dan penjagaan
distronya itu. Kadang-kadang kami juga sambil ngerjakan tugas di sana ketika
belum ada peengunjung. Lumayanlah buat seru-seruan, modalnya sih jelas bukan
dari dia, tapi dari abangnya yang kini telah sukses menjadi konselor Arsitek di
sebuah perusahaan di Jakarta. Aku sih nggak di gaji untuk jaga-jaga distronya,
paling-paling dikasih bingkisan baju, celana atau topi setiap dua bulan sekali.
Lumayanlah buat pengiritan dalam hal pakaian.
Tidak
lama kami sampai di distronya, kulihat bang Fery sepupunya juga sudah keluar.
Maklum, waktunya untuk jaga sudah habis. Kini giliran Dygta yang jaga. Aku dan
Dygta masuk ke dalam Distro. Udara dingin yang keluar dari AC menyegarkanku
dari udara panas. Aku duduk di bangku jaga sedangkan Dygta kebelakang untuk
mengambil air minum. tidak lama ia keluar dengan membawa dua gelas jus jeruk.
“Aku
juga nggak tahu kenapa aku bisa seperti ini, kau juga bingung. Semenjak aku
suka sama dia, perasaanku jadi aneh” ujar Dygta sambil menyerahkan satu gelas
jus jeruk kepadaku.
“Lo
aneh ya! Seperti orang kemasukan jin diam, kenapa ketika kamu menyukai Syareeva
saja kamu menjadi sok-sok seperti ini?”
“Aku
juga nggak mengerti Vind. Entah mengapa aku merasa kali ini aku
sangat menginginkan seorang wanita untuk….”
“Untuk
memuaskan nafsu?” potongku cepat.
“Palakmu,
kebiasaan suka motong pembicaraan orang. Udah gitu viktor lagi. Maksud aku tuh baru
kali ini aku merasa sangat menginginkan seorang wanita untuk aku sayangi
setulus hati”.
“Ceileh,
sok romantis lo. Tapi baguslah, paling tidak kamu bisa mengerti bagaiana
menyukai seorang wanita yang disebabkan perasaan hati, daripada suka sama
wanita karena gairahmu yang timbul akibat keseksiannya. Well, baguslah”.
“Dari
tadi lo kerjaannya meledek melulu. Bilang kalau mau bantu aku kek, apa kek”.
“Iya
deh, aku bantu kamu untuk mendapatkan Syareeva. Tapi aku heran deh, kenapa kamu
bisa suka sama dia? Apa alasannya?”.
“Hmm..
apa ya? Dia itu baik, cantik, putih, orangnya asyik walaupun agak pendiam, tapi
yang penting ituloh…sexy. Bohay abis!”.
“Tuhkan
penyakit boroknya datang lagi. Baru aja nyebutin untuk serius. Muke lo
bejat” ledekku.
“Iye
be. Cuma becanda, ehh tapi lo bener mau bantu akukan?”.
“Yah
untuk sekedar mengecap sedikit kecantikan dan keseksiannya sih…boleh juga”.
Jawabku dengan sedikit tersenyum.
“Nggak
mungkin, aku yakin kamu bukan seorang pengkhianat. Walaupun kamu Cuma becanda,
aku yakin kamu nggak akan berbuat seperti itu padaku”.
“Ya iyalah, aku bukan orang yang
seperti itu. Pegang janji aku”
Pastinya
yang ada dipikiranku sekarang ini adalah Dygta temanku. Masa sih aku mau
mengkhianati dia. Lagian siapa juga yang suka sama Syareeva. Imposibble banget.
Secara kita berdua kuarang dekat, palingan kalau ngobrol yang nggak
penting-penting banget dan yang paling penting di dalam hati ini aku masih
memendam rasa suka dan sayangku kepada Yuni, cintaku pada pandangan pertama.
Aku bukan tipe orang yang seperti Dygta, bisa mencintai dua orang sekaligus
dalam waktu yang bersamaan. Kata hatiku sekarang ini masih menyebutkan kata
Yuni dengan jelas. Bukan Syareeva, dan mungkin sama sekali tidak akan pernah
terjadi. Teman lebih penting bagiku daripada hal lain yang dapat merusak
persahabatan.
***
Aku masih
teringat dengan pernyataan Dygta tadi siang tentang keseriusannya menyukai
Syareeva. Aku tertawa sejadi-jadinya di atas tempat tidurku. Yang kutertawakan
itu bukannya karena ia jatuh cinta dengan seorang yang bernama Syareeva, tapi
sikapnya yang berubah ketika jatuh cinta dengan Syareeva. Seperti orang sarap
yang oonnya minta ampun ditanbah sok ke”lebay”an. Asli bukan dia banget.
Biasanya kalau dia sudah kenal atau jatuh cinta sama cewek, gete’nya tidak
ketolongan, bukannya diam salah tingkah malahan semakin bergairah. Aku jadi
semakin heran. Sulap apa yang Syareeva pakai sehingga bisa membuat Dygta
menjadi seperti itu. Apa kecantikannya, keseksiannya atau kebaikan dan
keanggunannya. Entahlah? Semakin aku memikirkannya semakin bertambah bingung
kepala ini. Pastinya yang aku tahu bahwa Syareeva sosok wanita yang sudah
berhasil merubah imagenya yang dulu tomboy minta ampun menjadi seorang wanita
anggun pembius para pria.
Malam makin
bertambah larut, dinginnya udara dari luarpun sangat menyerang tubuh. Aku
memang sudah agak mengantuk, rasanya kalau tubuh ini di baringkan sebentar
mungkin sudah terlelap. Tiba-tiba saja aku teringat wajah Yuni. Wajah yang kini
mengisi hatiku kembali. Mengingatnya semakin membuatku ingin cepat-cepat
menyongsong pagi, ingin benar-benar melihat wajahnya secara nyata sedang turun
dari bis kota dan berjalan di sepanjang koridor sekolah.
“Beep”.
HPku berbunyi. Ada sms yang nasuk. Kuambil HPku yang ada di atas meja
komputerku. Kubuka, ternyata dari Dygta:
“Bule Imposibble, lagi
ngapain lo? Aku nggak bisa tidur nih, kepikiran Syareeva terus”
Kubalas smsnya. Kamipun berdialog lewat sms.
“Belum JAT, kenapa lo
kepikiran Syareeva? Kepikiran apa?”
“Kepikiran kapan aku
bisa ML dengannya. Ha….ha…”
“Emang lo ya manusia
bejat, nggak bisa sehari nggak lepas dari pikiran-pikiran seperti itu. Eh kalau
aku ya, cewek yang aku suka nggak bakalan pernah kupikirkan seperti itu”.
“Alah, jaim banget sih
lo men. Biasa aja kali”.
“Bukannya gitu, orang
yang kita cintai itu asset, masa mau kita apa-apain sebelum waktunya?”
“Iya kalau sampe nanti.
Kalau enggak, rugi dong nggak dapat apa-apa”.
“Ah, payah lo. Berarti
lo memang masih maen-maen dengan Eva”.
“Ya nggak lah fren, aku
benar-benar kok”.
“Gitu dong. Kasihan kan
Eva lo mainin. Eh ngomong-ngomong, kapan lo mau datengin Yuni untuk cari
informasi? Sekali lo lagi jatuh cinta aja janji dengan aku dilupakan!”
“Iya aku ingat, lusa deh
aku janji mau datengin dia. Tapi kamu juga harus usaha sendiri juga. Jangan
semua juga yang harus aku handle”.
‘Ya iyalah…masak ya
Habibie ya nurul ‘ain. Lagu arab kali”.
“Oke deh kalau begitu. Aku mau tidur
dulu, lo tu tidur. Jangan suka sendirian malam-malam, ntar pikiran lo tambah
jorok”.
“Yang ada lo kali ganggu
aku yang mau tidur”.
Aku
menyimpan HPku kembali ke atas meja computer. Rasanya mataku sudah tinggal tiga
watt lagi. Sebelum aku tidur, kusempatkan aku melihat pemandangan di luar
jendela. Banyak sekali bintang yang bertaburan dilangit, seperti taman bintang.
Kutatapi hamparan pemandangan yang terindah di alam itu dengan seksama. Aku
merasakan kedamaian di hati, rasa cinta di hati ini seolah terasa terisi penuh
kembali. Entah dengan siapa, aku juga kabur yang penting hati ini terasa penuh
sesak. Penuh sesak oleh merahnya cinta. aku terkesima dengan pemandangannya,
aku membayangkan bahwa ada wajah yang terlukis ole banyaknya bintang. Awalnya
wajah itu kabur karena berpendar oleh cahaya bintang. Lama-kelamaan, gambaran
wajah itu semakin jelas. Kulihat dengan teliti. Aku terkejut bukan main.
“SYAREEVA”
teriakku halus.
Karena aku
terkejut karena gambaran wajah itu, aku menutup jendela kamarku dan berlari
menuju tempat tidurku.
“Ya Tuhan!
Apa yang kupikirkan. Kenapa wajah Syareeva yang muncul?” ucapku heran.
Aku tidak
mencintainya kenapa aku melihat wajahnya! Aku menjadi takut sekali.
“Tenang
Vindra, itu Cuma perasaanmu saja. non sense. Lagipula yang suka sama Syareeva
bukannya aku tetapi Dygta. Aku tidak boleh sekali-kali merebutnya dari Dygta.
Lagipula aku sedang jatuh cinta lagi dengan Yuni. Ya nggak mungkinlah!”
hiburku.
Aku
mengantuk sekali. Baru saja aku merebahkan tubuhku, aku mulai terpejam.
Tertidur dengan membawa bayang wajah Yuni di dalam pikiranku, bukan bayangan
yang baru saja aku lihat. Bayangan Syareeva. Hal ini harus
kulakukan. Bisa dibilang terpaksa dan demi…
Komentar
Posting Komentar