Cinta Lama Bersemi
Kembali (CLBK)
Ada sesuatu
yang terungkit kembali ketika terbangun dari tidurku setelah aku melihat Yuni
di depan kantor Gubernur tiga hari yang lalu. Rasa sayang di hati ini mulai
kembali mencuat ke permukaan ketika melihatnya kembali. Entah mengapa setelah
pertemuan itu, hati ini selalu berkata “Yuni aku masih mengharapkanmu”. Rasanya
aku ingin cepat-cepat pergi ke sekolah untuk bertemu dan memandang wajahnya,
memantau gerak-geriknya ataupun ngobrol bareng bersamanya.
Jam dinding
di kamarku baru saja menunjukkan pukul 04.45 dini hari. Segera aku beranjak
dari tempat tidur untuk sholat subuh. Meskipun aku bukan anak Rohis dan agamis,
aku masih ingat sama Tuhan, yah walaupun kadang-kadang aku masih suka malas
sholatnya. Selesai sholat aku berdoa kepada Allah, Tuhanku.
“Ya Tuhan,
engkau anugerahi setiap manusia dengan perasaan cinta. Aku berdoa kepadamu
untuk berharap dekatkan Yuni padaku jika ia milikku. Amin”.
Aku
pandangi fotoku bersama Yuni yang terletak di atas meja belajarku. Foto yang
diambil kira-kira satu tahun yang lalu, jauh sebelum ia mengenakan jilbab. Aku
teringat kembali dengan kisah yang ada difoto itu. Kisah yang terjadi ketika
kami jalan-jalan ke pantai Samudera berdua pada saat libur lebaran. Pada saat
itu kami sedang gencar-gencarnya untuk PDKT dan saling mengenal lebih dekat
satu sama lain. Setelah kami berdua capek bermain ombak dilaut dan membuat
istana pasir di pinggiran pantai, Siang itu kami duduk bersandar dibawah pohon
cemara laut tinggi dan tua yang ada di tepi pantai samudera. Kami berbicara
tentang cinta dan permasalahannya. Masih ingat di dalam otakku suatu pertanyaan
yang aku lontarkan kepadanya. Ketika itu aku bertanya kepadanya tentang
hambatan, hambatan dalam percintaan.
“Yun,
apakah kamu tahu kapan cinta itu terhalang oleh tembok yang dapat memisahkan
satu sama lain?” tanyaku sambil meraih tangannya untuk kupegang.
Ia terdiam
sejenak dan mengelus rambutnya yang tergerai oleh tiupan angin pantai.
“Bagiku,
cinta itu akan terhalang oleh tiga hal. Tiga hal yang bisa membuatku tidak lagi
dapat mencintai seseorang” jawabnya sambil memandang wajahku.
“Apa itu”
“Yang
pertama adalah halangan dari orang tua, karena jika orang tuaku tidak
menyetujui orang yang aku pilih, maka aku akan ikut mereka. Meninggalkan orang
yang aku cintai”
Aku
mengeeratkan genggaman tanganku dengan tangannya. Yuni kemudian memalingkan
pandangannya ke arah laut.
“Terus
ketika cintaku ataupun cinta orang yang mencintaiku terbentur dengan
persahabatan. Aku sangat tidak ingin memposisikan diriku untuk menjadi suatu
pilihan bagi orang yang mencintaiku. Karena menurutku suatu persahabatan itu
lebih penting”
“Apa karena
itu kamu juga akan mengalah dan meninggalkan orang itu?” tanyaku.
“Iya. Aku
akan mengalah demi persahabatan”.
“Terus yang
ketiga?” tanyaku lagi
“Yang
ketiga adalah tiga sudut cinta alias cinta segitiga. Lebih baik aku mengalah
daripada kehilangan harga diri karena berebut cinta” jawabnya.
“Kamu
benar, itulah penghalang cinta yang sebenarnya” lirihku sambil memandang kea
rah langit.
“Eh Vind,
kenapa kamu bertanya seperti itu? Melankolis banget sih pertanyaanmu. Kita
masih awal SMA kali!! Belum sampai ketahap seperti itu. Lagian kalau saat SMA
itukan cintanya masih cinta-cintaan.
Aku hanya
cengengesan.
“Oh ya,
tolong lepasin tangannya dong…sakit dari
tadi” pintanya dengan wajah yang sedikit meringis.
“Eh, maaf-maaf”
Tiga hal
itulah yang ia katakan kepadaku pada saat itu dan salah satu dari tiga hal
itulah yang membuat kami tidak saling menyatu sampai saat ini. Demi mempertahankan
persahabatanku dengan Reana, Yuni lebih memilih meninggalkanku persis seperti
apa yang pernah ia bilang kepadaku saat itu. Aku sangat menyesal kenapa hal itu
bisa terjadi kepadaku disaat aku benar-benar menginginkannya dan menyayanginya
dengan sepenuh hati. Tiba-tiba saja mataku berkaca-kaca Karena menginangat hal
itu semua. Rasanya kejadian ini seperti butiran debu yang masuk kedalam mataku,
hanya sedikit pedih yang dirasa tapi dapat membuat mata berkaca dan
mengeluarkan air mata.
***
Pagi yang sangat cerah dengan matahari yang
bersinar terang. Awan-awan tipis terlihat bergerak karena tertiup angin.
Kulihat jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 07.10. aku sudah terlambat masuk
kelas pertama hari ini. Untungnya aku sudah berada di depan sekolahku. Aku
berlari menuju ke kelasku.
“Resek
nih kelas jauh amat” ucapku.
Aku
terus berlari hingga beberapa menit kemudian aku sampai de depan kelasku.
Kulihat Pak Nino sudah mengajar pelajaran Biologi. Aku mencoba-coba masuk tanpa
permisi.
“Vindra,
kenapa kamu terlambat?” tanya Pak Nino dengan nada tegas.
Aku
berhenti berjalan.
“E….maaf
pak tadi saya….”
“Kesiangan”
potong Pak Nino.
“Eh…bukan
pak, tadi motor saya bocor” jawabku.
“Alah…itukan
alasan klasik, ya sudah kamu…”
“Boleh
masuk pak?” potongku dengan cepat.
“Dengarkan
saya dulu, karena kamu terlambat sepuluh menit maka kamu tidak boleh masuk
pelajaran pertama. Untuk itu jam pelajaran pertama ini kamu harus membereskan
sampah di depan aula sekolah” ujar Pak Nino panjang lebar.
“Iya
pak” kataku sambil membalikkan badan.
Aku
keluar dari kelas menuju halaman depan aula sekolah untuk memungut sampah.
“Sial,
gara-gara ngelamunin Yuni aku jadi terlambat datang ke sekolah. Mana pake acara
pungut sampah segala lagi! Habis deh kegantengan aku kena sampah” ujarku kesal.
Aku
langsung menunaikan apa yang diperintahkan oleh Pak Nino untuk memungut sampah
yang berserakan di sekitar pohon yang ada di aula. Gila…sampah daunnya banyak
banget, bagaikan tumpikan pasir di padang pasir. pusing aku memandanggnya.
“Antisipasi
global warming sih boleh-boleh aja menanam banyak pohon, tapi kalau udah
sampahnya kayak gini ribet juga ngurusinnya, mana sendiri lagi mungutinnya.
Huh….” Solotku kesal sambil mencoba mungutin sampahnya satu per satu.
“Jangan
sewot gitulah Vind, kerjain aja”.
Suara
seorang wanita yang suaranya familiar di telingaku mengejutkanku. Aku
menoleh kebelakang.
“Yuni!!
Ngapain kamu di sini?” teriakku tanpa sadar.
“Ngapain
lagi aku di sini kalau bukan dihukum” jawabnya halus.
“Jadi
kamu terlambat juga?” tanyaku.
“Iya,
tadi pagi Jembatan tol macet, makanya aku terlambat”.
Yuni
lalu memungut sampah satu persatu yang ada di dekat pohon akasia sebelahku. Aku
memandang wajahnya dengan serius. Sekarang dia semakin manis, sampai-sampai
jantungku berdegub kencang ketika melihatnya yang sedang mengumpulkan
sampah-sampah daun. Aku tersenyum-senyum sendiri memandang wajahnya. Rasanya
ada sesuatu di dalam hati yang membuatku tidak berdaya seperti ini. Tuhan
memang baik Karena doaku tadi pagi telah Ia kabulkan sekarang ini yaitu agar
aku bisa dekat dengannya. Aku semakin senang.
“Syukur
Alhamdulillah….” Ucapku tanpa sadar.
“Syukur
apa Vind?” tanya Yuni refleks mendengar ucapanku.
Aku
terkejut bukan main. Aku jadi salah tingkah.
“Eh…Eh..maksudku
syukur ada yang Bantu ngumpulin sampah sebanyak ini”
Aku
membalikkan badanku menahan rasa malu. Untung aku nggak terlalu banyak
keceplosannya. Kalau tersebut semuanya kan aku yang malu.
“Vind,
sudah lama ya kita nggak ketemu, di koridor ataupun di kantin juga tidak pernah
sama sekali kita bertemu. Aneh ya…padahal kitakan satu sekolah” tanya Yuni mendekatiku.
Aku
berdiri dan mendekatinya.
“Yah
taulah, sekolah kita kan panjangnya minta ampun sedangkan kelas kamu nun jauh
di sana dari kelasku. Wajar saja” jawabku.
“Tapi
kamu nggak bermaksud mengindari aku kan?”
Pertanyaan
Yuni yang satu ini mengejutkan aku.
“Nggak
lah Yun, Ehmm…Yun maaf yang yang….”
“Udahlah
Vind, aku nggak permasalahkan lagi tentang yang dulu. Aku udah anggap itu semua
masa lalu. Jangan di ungkit lagi. Oke?” potongnya ketika aku mau membicarakan
sesuatu.
Aku
hanya menganggukkan kepala. Ia lari dari hadapanku entah kemana. Mungkin masuk
ke dalam kelasnya. Aku menundukkan kepalaku dan memejamkan mataku seraya
menahan sedikit rasa cinta yang muncul lagi di hati ini. Aku tidak bisa apa-apa
selain menahan diri dari itu semua.
“Yuni,
sampai sekarang aku masih mengharapkanmu” lirihku.
Tapi
sayang, ia tak mendengar sedikitpun dengan apa yang aku ucap.
***
“Vind,
ngapain lo terlambat tadi pagi?” tanya Dygta sambil menjegal leherku.
Aku
mencoba melepaskan tangannya dari leherku.
“Biasalah,
akukan juga manusia. Bisa terlambat” jawabku dengan setengah meledek dan
menyindir.
“Yah itu juga aku tahu kali.
Maksudku itu apa sebabnya”
“Mau
tahu sebabnya?” tanyaku lagi.
Dygta
hanya menganggukkan kepalanya.
“Ini
disebabkan oleh wanita…”
“Ada
apa? Kamu menabrak seorang wanita sampe mati? Atau lo ngelihat wanita seksi di tepi
jalan sehingga kamu menabrak tiang listrik? Tapi kok kamu nggak ada luka-luka?”
potongnya dengan mimik wajah yang sik perhatian.
“Nabrak tiang listrik bapak lo! Senang ya doain teman celaka!” ujarku
geram dan menjitak kepalanya.
“Terus apa
dong…”.
“Makanya
dengerin dulu penjelasan orang. Tadi itu aku terlambat gara-gara aku memikirkan
seorang wanita yang ada dihati ini”. Ucapku bangga.
“Alah
kirain aku kenapa, kirain karena melihat wanita seksi di jalan. Gitu aja
bangga. Payah…!” sewot Dygta.
“Lo
iye pikiran ngeres, yang ada di otak Cuma wanita seksi doang. Makan tuh seksi”
aku juga ikut-ikutan sewot.
“Yeee…emang
aku suka. Eh…berarti sekarang lo lagi jatuh cinta. Sama siapa? Sama Tukinem,
Parinah atau Kak Jipat?” ledeknya. Emang dasar tuh anak nggak sah kalau nggak
ngeledek aku.
“Ngatinem
sekalian.”
“Nggak…
Cuma bercanda. He…he… eh emangnya siapa?”
“Dengan
Yuni….” Jawabku.
“Apa????
Lo CELEBEK??
“CELEBEK??
Apaan tuh?” tanyaku penasaran.
“Cinta
lama bersemi kembali dodol!!” jawabnya.
“Itu
tu CLBK, bukannya CELEBEK” sewotku.
“Ah…sama
aja. Tapi Vind, yang bener lo jatuh cinta sama dia lagi? Bukannya lo udah kena
tolak dia dulu. Apa nggak malu?”
“itukan
dulu, siapa tahu dia mau lagi menerimaku. Lagipula Reana pun udah mengerti aku!
Jadi apa salahnya aku berusaha lagi” timpalku.
“Iya
aku tahu, tapikan dia yang dulu beda sama yang sekarang. Lagipula lo
kan udah lama lost contact sama dia”.
“Sok inggris banget sih lo. Ya
nggak apa-apa aku akan coba dulu. Tapi kamu maukan bantu aku?”
“Ok. Up to you lah. Kalau aku sih siap bantu”
jawabnya.
“Gitu
dong, itu baru temanku”.
“Ya
udah…kantin yuk” ajak Dygta.
“Eh,
tapi yang lain mana? Pasha, Rino dan Hardi mana?”
“Tau…tadi
sih pas waktu istirahat tiba mereka bertiga langsung kabur. Ndak
tahu kemana. Ya udahlah, come on kita ke kantin! Aku sudah lapar banget”
“Lets go”
Dygta
emang selalu bantu aku dalam segala hal termasuk dalam hal mengejar cinta, yah
walaupun dia orangnya agak sedikit bocor alias sinting. Dia memang teman
terbaikku yang selalu mau membantu aku. Pada cerita dulu ketika pertama kali
aku mengejar Yuni dia selalu ada di sampingku untuk membantu. Saking seriusnya
dia bantu aku untuk pendekatanku dengan Yuni pada awal masuk SMA, sampai-
sampai pernah dia dikejar-kejar sama polisi. Pada waktu itu aku minta tolong
sama dia untuk menyelidiki dimana rumah Yuni, sebenarnya aku pengen minta dia
untuk tanya sama salah satu teman Yuni dari kelas E. eh ternyata dia punya
rencana lain. Dua hari setelah aku minta bantuannya, tiba-tiba dia berperilaku
aneh, sepulang sekolah angsung pulang dan meninggalkanku. Aku berpikir dia akan
melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Aku penasaran dan kuikuti dia. Aku terkejut
Karena melihat dia sedang membuntuti seorang wanita yang sedang berjalan. Aku ikuti
dia terus secara diam-diam. Kulihat cewek itu pun merasa dia diikuti oleh
seseorang. Aku menjadi semakin penasaran, sebenarnya siapa cewek yang sedang
dikejarnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tidak lama setelah
keluar dari jalan Hamka menuju jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan kantor dinas
kehutanan Pontianak tiba-tiba saja cewek itu berteriak maling. Aku terkejut
bukan main, apalagi Dygta tingkahnya sudah tidak karuan lagi ketika para
pejalan kaki lain siap-siap mengejar dan endak menghajarnya dan kulihat cewek
itu naik sebuah oplet. Ia berlari menuju halaman depan kantor Kehutanan
Pontianak untuk menyelamatkan diri. Aku juga bergegas menuju ke sana.
Ketika aku
sampai di sana, hampir saja orang-oarng akan menghajarnya. Aku berteriak
sekencang-kencangnya untuk tidak memukul Dygta. Aku menghampiri kerumunan itu
dan aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Panjang lebar aku menjelaskan
kepada orang-orang itu apa yang akan dilakukan oleh Dygta, untungnya
orang-orang itu percaya denganku dan meninggalkan kami. Aku langsung menghampiri
Dygta.
“Vind,
thanks ya atas bantuannya. Untung ada lo, kalau nggak..aduh aku nggak tahu deh
nasibku”
“Eh
MAJAT…sarap lo ya, ngapain lo nguntitin cewek kayak gitu? Lo mau memperkosa
apa?” tanyaku sedikit membentak.
“Kentutmu,
emangnya aku sebejat itu apa” jawabnya sambil berdiri.
“Terus lo
mau apa dan siapa cewek tadi?”.
“Mau tahu
siapa? Itu Yuni oon!” jawabnya sambil menjitak kepalaku.
“Yuni? Mau
ngapain lo?” tanyaku lagi.
“Ya mau
nguntitin dialah biar tau alamatnya dimana. Kan lo yang minta!”
“ya ampun
Dygta, lo itu bocor banget sih. Akukan cuma minta ditanyain sama teman
sekelasnya bukan ngikutin. Gila lo ya, kalau lo tadi di keroyok gimana? Kalau
sampe masuk kantor polisi gimana? Aku juga pasti yang di salahkan” ujarku
kesal.
“Ya maaf
deh, akukan Cuma mau bantu kamu dengan caraku sendiri” belanya.
“Bantu sih
bantu, tapi dipikir dulu dong akibat yang akan ditimbulkan. Udahlah sekarang
ayo naik” kataku sambil menaiki motorku yang kuparkirkan di depan.
“Mau kemana kita”
“Yah mau
ngejar Yuni lah biar tahu rumahnya dimana” jawabku enteng dengan tertawa kecil.
“Ah resek lo,
ternyata mau juga kan ikut saran aku” jawabnya lalu naik dibelakangku.
Akhirnya
kami berdua mengikuti Oplet yang dinaiki oleh Yuni hingga Oplet itu berhenti di
sebuah rumah di tepi jalan raya Johar. Aku senang. Berkat ide Dygta yang
spektakuler ini kau jadi bisa tahu alamat Yuni secara lengsung. Emang tidak
sia-sia pengorbanan Dygta buatku, walaupun hampir celaka aku tetap senang.
Aku dan
Dygta makan bakso Bu Atik yang terkenal enaknya di sekolah. kami memang sering
ke sini untuk makan siang ketika istirahat kedua, rasanya bakso di kantin ini
sudah mendarah daging bagi lambung kami. Kalau nggak makan bakso di sini nggak
makan namanya. Kadang-kadang kalau aku atau Dygta lagi banyak uang, kami saling
traktir secara bergantian, tapi Dygta yang sering traktir aku. Secara gitu
Dygta kan anak juragan ayam di Toho. Aku sih enjoy-enjoy aja ditraktir, merasa
morotin enggak..merasa dikasihanin ama dia juga enggak. Santai aja. Makan bakso
kali ini aku yang traktir, karena tadi ia bilang berniat mau bantu aku meraih
cintaku kembali dengan Yuni, yah Cuma sekedar rasa terimakasih aja dengan niat
baiknya. Apa salahnya kan?.
“Vind, Dyg. Lagi makan ya”
Suara
seorang wanita dari arah bangku samping mengejutkan kami berdua. Aku dan Dygta
menoleh ke arahnya. Ternyata itu Syareeva.
“Eh
Eva, iya kita lagi makan,nggak lagi di WC” jawabku dengan sedikit meledek.
Aku
lihat Dygta hanya diam dan sedikit salah tingkah. Aneh.
“Kamu
juga mau makan bakso kan?” tanyaku.
“Iya..”
jawabnya tersenyum.
“Kalau
gitu gabung sini aja sama kita, iya kan Dyg?” usulku. Aku menepuk tangan Dygta
untuk meminta persetujuan.
Dygta
terkejut bukan main. Seperti orang yang mendengar suara bom meledak.
“Eh….i…ii..ya
boleh” jawab Dygta sedikit terbata.
“Kalau
tidak mengganggu, boleh juga”.
Aku
menggelengkan kepala sebagai tanda tidak mengganggu kami. Syareeva menuju ke
bangku kami dan duduk di kursi yang terletak di samping Dygta. Kulihat Dygta
semakin kelihatan gugup. Tampak dari matanya ada sesuatu yang ia simpan di hati.
Sesuatu yang tidak aku dan Syareeva tahu apa itu.
“Dyg,
kok kamu diam saja? sakit ya” tanya Eva.
“Iya
nih, kok kamu jadi sok malu-malu kucing kayak gini?” timpalku.
Dygta
hanya memandang kami berdua.
“Ada
apa sih? Datang bulan ya Bu” tanyaku lagi dengan campuran sedikit ledekan.
“Datang
bulan kentutmu, nggak aku jadi nggak enak perut aja. Mungkin aku kebanyakan
makan cabe kali ya” jawabnya.
“Bukannya
kamu suka makan cabe” tanya Syareeva sedikit heran.
“Tau
nih, kenapa sekarang perutku nggak enak. Ehmm…aku ke WC dulu ya” pamit Dygta.
Aku
mengerutkan dahiku.
“Ya
udahlah sana ke WC, tapi jangan macam-macam ya. Benar-benar
ke WC loh” kataku.
“Ya
iyalah…masak Ya Thoybah…marawis kali”.
Aku
dan Syareeva tertawa kecil. Dygta meninggalkan kami berdua.
“Ya
udahlah santai aja, tuh bakso pesananmu udah datang. Ayo kita
makan sama-sama” usulku.
Syareeva
hanya mengangguk saja.
Aku
dan Syareeva kemudian makan bersama. Sambil menunggu kedatangan Dygta dari WC,
kami berbicara satu sama lain. Tidak banyak sih yang dibicarakan, Cuma
berbicara tentang pelajaran baru yang kami dapatkan di kelas tiga ini. Sebagai
selingan juga kami membicarakan tentang Dygta dan kedekatan kami sebagai teman
baik. Begitu juga dia bercerita tentang kehidupannya dengan teman-teman yang
lain. Yang penting kami sama-sama senang saja mendengar cerita yang kami
lontarkan.
“Udah
lima belas menit nih, masak Dygta nggak balik-balik sih? Jangan-jangan dia
pingsan lagi di dalam WC” ucap Syareeva sedikit cemas.
“Ah
nggak mungkin dia itu pingsan di WC. Kalaupun dia pingsan di WC, pasti WC udah miscall aku dari tadi memberi tahu aku
kalau si Dygta itu pingsan. Soalnya kan WC juga sohibnya dalam melakukan
sesuatu” ledekku dengan tujuan agar Syareeva tidak cemas, padahal di dalam
hatiku aku juga mencemaskan dia.
“Apa
yang terjadi dengan Dygta” pikirku di dalam hati.
Pertanyaan
itu aku kaitkan dengan keadaan. Keadaan ketika Syareeva datang, ia langsung
berubah. Aku menjadi agak yakin dengan analisaku.
“Jangan-jangan….?
Komentar
Posting Komentar