Langsung ke konten utama

SEGITIGA (BAB 3)



Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK)

Ada sesuatu yang terungkit kembali ketika terbangun dari tidurku setelah aku melihat Yuni di depan kantor Gubernur tiga hari yang lalu. Rasa sayang di hati ini mulai kembali mencuat ke permukaan ketika melihatnya kembali. Entah mengapa setelah pertemuan itu, hati ini selalu berkata “Yuni aku masih mengharapkanmu”. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi ke sekolah untuk bertemu dan memandang wajahnya, memantau gerak-geriknya ataupun ngobrol bareng bersamanya.
Jam dinding di kamarku baru saja menunjukkan pukul 04.45 dini hari. Segera aku beranjak dari tempat tidur untuk sholat subuh. Meskipun aku bukan anak Rohis dan agamis, aku masih ingat sama Tuhan, yah walaupun kadang-kadang aku masih suka malas sholatnya. Selesai sholat aku berdoa kepada Allah, Tuhanku.
“Ya Tuhan, engkau anugerahi setiap manusia dengan perasaan cinta. Aku berdoa kepadamu untuk berharap dekatkan Yuni padaku jika ia milikku. Amin”.
Aku pandangi fotoku bersama Yuni yang terletak di atas meja belajarku. Foto yang diambil kira-kira satu tahun yang lalu, jauh sebelum ia mengenakan jilbab. Aku teringat kembali dengan kisah yang ada difoto itu. Kisah yang terjadi ketika kami jalan-jalan ke pantai Samudera berdua pada saat libur lebaran. Pada saat itu kami sedang gencar-gencarnya untuk PDKT dan saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Setelah kami berdua capek bermain ombak dilaut dan membuat istana pasir di pinggiran pantai, Siang itu kami duduk bersandar dibawah pohon cemara laut tinggi dan tua yang ada di tepi pantai samudera. Kami berbicara tentang cinta dan permasalahannya. Masih ingat di dalam otakku suatu pertanyaan yang aku lontarkan kepadanya. Ketika itu aku bertanya kepadanya tentang hambatan, hambatan dalam percintaan.
“Yun, apakah kamu tahu kapan cinta itu terhalang oleh tembok yang dapat memisahkan satu sama lain?” tanyaku sambil meraih tangannya untuk kupegang.
Ia terdiam sejenak dan mengelus rambutnya yang tergerai oleh tiupan angin pantai.
“Bagiku, cinta itu akan terhalang oleh tiga hal. Tiga hal yang bisa membuatku tidak lagi dapat mencintai seseorang” jawabnya sambil memandang wajahku.
“Apa itu”
“Yang pertama adalah halangan dari orang tua, karena jika orang tuaku tidak menyetujui orang yang aku pilih, maka aku akan ikut mereka. Meninggalkan orang yang aku cintai”
Aku mengeeratkan genggaman tanganku dengan tangannya. Yuni kemudian memalingkan pandangannya ke arah laut.
“Terus ketika cintaku ataupun cinta orang yang mencintaiku terbentur dengan persahabatan. Aku sangat tidak ingin memposisikan diriku untuk menjadi suatu pilihan bagi orang yang mencintaiku. Karena menurutku suatu persahabatan itu lebih penting”
“Apa karena itu kamu juga akan mengalah dan meninggalkan orang itu?” tanyaku.
“Iya. Aku akan mengalah demi persahabatan”.
“Terus yang ketiga?” tanyaku lagi
“Yang ketiga adalah tiga sudut cinta alias cinta segitiga. Lebih baik aku mengalah daripada kehilangan harga diri karena berebut cinta” jawabnya.
“Kamu benar, itulah penghalang cinta yang sebenarnya” lirihku sambil memandang kea rah langit.
“Eh Vind, kenapa kamu bertanya seperti itu? Melankolis banget sih pertanyaanmu. Kita masih awal SMA kali!! Belum sampai ketahap seperti itu. Lagian kalau saat SMA itukan cintanya masih cinta-cintaan.
Aku hanya cengengesan.
“Oh ya, tolong lepasin tangannya dong…sakit dari  tadi” pintanya dengan wajah yang sedikit meringis.
“Eh, maaf-maaf”
Tiga hal itulah yang ia katakan kepadaku pada saat itu dan salah satu dari tiga hal itulah yang membuat kami tidak saling menyatu sampai saat ini. Demi mempertahankan persahabatanku dengan Reana, Yuni lebih memilih meninggalkanku persis seperti apa yang pernah ia bilang kepadaku saat itu. Aku sangat menyesal kenapa hal itu bisa terjadi kepadaku disaat aku benar-benar menginginkannya dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Tiba-tiba saja mataku berkaca-kaca Karena menginangat hal itu semua. Rasanya kejadian ini seperti butiran debu yang masuk kedalam mataku, hanya sedikit pedih yang dirasa tapi dapat membuat mata berkaca dan mengeluarkan air mata.

***

Pagi  yang sangat cerah dengan matahari yang bersinar terang. Awan-awan tipis terlihat bergerak karena tertiup angin. Kulihat jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 07.10. aku sudah terlambat masuk kelas pertama hari ini. Untungnya aku sudah berada di depan sekolahku. Aku berlari menuju ke kelasku.
            “Resek nih kelas jauh amat” ucapku.
            Aku terus berlari hingga beberapa menit kemudian aku sampai de depan kelasku. Kulihat Pak Nino sudah mengajar pelajaran Biologi. Aku mencoba-coba masuk tanpa permisi.
            “Vindra, kenapa kamu terlambat?” tanya Pak Nino dengan nada tegas.
            Aku berhenti berjalan.
            “E….maaf pak tadi saya….”
            “Kesiangan” potong Pak Nino.
            “Eh…bukan pak, tadi motor saya bocor” jawabku.
            “Alah…itukan alasan klasik, ya sudah kamu…”
            “Boleh masuk pak?” potongku dengan cepat.
            “Dengarkan saya dulu, karena kamu terlambat sepuluh menit maka kamu tidak boleh masuk pelajaran pertama. Untuk itu jam pelajaran pertama ini kamu harus membereskan sampah di depan aula sekolah” ujar Pak Nino panjang lebar.
            “Iya pak” kataku sambil membalikkan badan.
            Aku keluar dari kelas menuju halaman depan aula sekolah untuk memungut sampah.
            “Sial, gara-gara ngelamunin Yuni aku jadi terlambat datang ke sekolah. Mana pake acara pungut sampah segala lagi! Habis deh kegantengan aku kena sampah” ujarku kesal.
            Aku langsung menunaikan apa yang diperintahkan oleh Pak Nino untuk memungut sampah yang berserakan di sekitar pohon yang ada di aula. Gila…sampah daunnya banyak banget, bagaikan tumpikan pasir di padang pasir. pusing aku memandanggnya.
            “Antisipasi global warming sih boleh-boleh aja menanam banyak pohon, tapi kalau udah sampahnya kayak gini ribet juga ngurusinnya, mana sendiri lagi mungutinnya. Huh….” Solotku kesal sambil mencoba mungutin sampahnya satu per satu.
            “Jangan sewot gitulah Vind, kerjain aja”.
            Suara seorang wanita yang suaranya familiar di telingaku mengejutkanku. Aku menoleh kebelakang.
            “Yuni!! Ngapain kamu di sini?” teriakku tanpa sadar.
            “Ngapain lagi aku di sini kalau bukan dihukum” jawabnya halus.
            “Jadi kamu terlambat juga?” tanyaku.
            “Iya, tadi pagi Jembatan tol macet, makanya aku  terlambat”.
            Yuni lalu memungut sampah satu persatu yang ada di dekat pohon akasia sebelahku. Aku memandang wajahnya dengan serius. Sekarang dia semakin manis, sampai-sampai jantungku berdegub kencang ketika melihatnya yang sedang mengumpulkan sampah-sampah daun. Aku tersenyum-senyum sendiri memandang wajahnya. Rasanya ada sesuatu di dalam hati yang membuatku tidak berdaya seperti ini. Tuhan memang baik Karena doaku tadi pagi telah Ia kabulkan sekarang ini yaitu agar aku bisa dekat dengannya. Aku semakin senang.
            “Syukur Alhamdulillah….” Ucapku tanpa sadar.
            “Syukur apa Vind?” tanya Yuni refleks mendengar ucapanku.
            Aku terkejut bukan main. Aku jadi salah tingkah.
            “Eh…Eh..maksudku syukur ada yang Bantu ngumpulin sampah sebanyak ini”
            Aku membalikkan badanku menahan rasa malu. Untung aku nggak terlalu banyak keceplosannya. Kalau tersebut semuanya kan aku yang malu.
            “Vind, sudah lama ya kita nggak ketemu, di koridor ataupun di kantin juga tidak pernah sama sekali kita bertemu. Aneh ya…padahal kitakan satu sekolah” tanya Yuni mendekatiku.
            Aku berdiri dan mendekatinya.
            “Yah taulah, sekolah kita kan panjangnya minta ampun sedangkan kelas kamu nun jauh di sana dari kelasku. Wajar saja” jawabku.
            “Tapi kamu nggak bermaksud mengindari aku kan?”
            Pertanyaan Yuni yang satu ini mengejutkan aku.
            “Nggak lah Yun, Ehmm…Yun maaf yang yang….”
            “Udahlah Vind, aku nggak permasalahkan lagi tentang yang dulu. Aku udah anggap itu semua masa lalu. Jangan di ungkit lagi. Oke?” potongnya ketika aku mau membicarakan sesuatu.
            Aku hanya menganggukkan kepala. Ia lari dari hadapanku entah kemana. Mungkin masuk ke dalam kelasnya. Aku menundukkan kepalaku dan memejamkan mataku seraya menahan sedikit rasa cinta yang muncul lagi di hati ini. Aku tidak bisa apa-apa selain menahan diri dari itu semua.
            “Yuni, sampai sekarang aku masih mengharapkanmu” lirihku.
            Tapi sayang, ia tak mendengar sedikitpun dengan apa yang aku ucap.
***


            “Vind, ngapain lo terlambat tadi pagi?” tanya Dygta sambil menjegal leherku.
            Aku mencoba melepaskan tangannya dari leherku.
            “Biasalah, akukan juga manusia. Bisa terlambat” jawabku dengan setengah meledek dan menyindir.
            “Yah itu juga aku tahu kali. Maksudku itu apa sebabnya”
            “Mau tahu sebabnya?” tanyaku lagi.
            Dygta hanya menganggukkan kepalanya.
            “Ini disebabkan oleh wanita…”
            “Ada apa? Kamu menabrak seorang wanita sampe mati? Atau lo ngelihat wanita seksi di tepi jalan sehingga kamu menabrak tiang listrik? Tapi kok kamu nggak ada luka-luka?” potongnya dengan mimik wajah yang sik perhatian.
            “Nabrak tiang listrik bapak lo! Senang ya doain teman celaka!” ujarku geram dan menjitak kepalanya.
            “Terus apa dong…”.
            “Makanya dengerin dulu penjelasan orang. Tadi itu aku terlambat gara-gara aku memikirkan seorang wanita yang ada dihati ini”. Ucapku bangga.
            “Alah kirain aku kenapa, kirain karena melihat wanita seksi di jalan. Gitu aja bangga. Payah…!” sewot Dygta.
            “Lo iye pikiran ngeres, yang ada di otak Cuma wanita seksi doang. Makan tuh seksi” aku juga ikut-ikutan sewot.
            “Yeee…emang aku suka. Eh…berarti sekarang lo lagi jatuh cinta. Sama siapa? Sama Tukinem, Parinah atau Kak Jipat?” ledeknya. Emang dasar tuh anak nggak sah kalau nggak ngeledek aku.
            “Ngatinem sekalian.”
            “Nggak… Cuma bercanda. He…he… eh emangnya siapa?”
            “Dengan Yuni….” Jawabku.
            “Apa???? Lo CELEBEK??
            “CELEBEK?? Apaan tuh?” tanyaku penasaran.
            “Cinta lama bersemi kembali dodol!!” jawabnya.
            “Itu tu CLBK, bukannya CELEBEK” sewotku.
            “Ah…sama aja. Tapi Vind, yang bener lo jatuh cinta sama dia lagi? Bukannya lo udah kena tolak dia dulu. Apa nggak malu?”
            “itukan dulu, siapa tahu dia mau lagi menerimaku. Lagipula Reana pun udah mengerti aku! Jadi apa salahnya aku berusaha lagi” timpalku.
            “Iya aku tahu, tapikan dia yang dulu beda sama yang sekarang. Lagipula lo kan udah lama lost contact sama dia”.
            “Sok inggris banget sih lo. Ya nggak apa-apa aku akan coba dulu. Tapi kamu maukan bantu aku?”
            “Ok. Up to you lah. Kalau aku sih siap bantu” jawabnya.
            “Gitu dong, itu baru temanku”.
            “Ya udah…kantin yuk” ajak Dygta.
            “Eh, tapi yang lain mana? Pasha, Rino dan Hardi mana?”
            “Tau…tadi sih pas waktu istirahat tiba mereka bertiga langsung kabur. Ndak tahu kemana. Ya udahlah, come on kita ke kantin! Aku sudah lapar banget”
            “Lets go”
            Dygta emang selalu bantu aku dalam segala hal termasuk dalam hal mengejar cinta, yah walaupun dia orangnya agak sedikit bocor alias sinting. Dia memang teman terbaikku yang selalu mau membantu aku. Pada cerita dulu ketika pertama kali aku mengejar Yuni dia selalu ada di sampingku untuk membantu. Saking seriusnya dia bantu aku untuk pendekatanku dengan Yuni pada awal masuk SMA, sampai- sampai pernah dia dikejar-kejar sama polisi. Pada waktu itu aku minta tolong sama dia untuk menyelidiki dimana rumah Yuni, sebenarnya aku pengen minta dia untuk tanya sama salah satu teman Yuni dari kelas E. eh ternyata dia punya rencana lain. Dua hari setelah aku minta bantuannya, tiba-tiba dia berperilaku aneh, sepulang sekolah angsung pulang dan meninggalkanku. Aku berpikir dia akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Aku penasaran dan kuikuti dia. Aku terkejut Karena melihat dia sedang membuntuti seorang wanita yang sedang berjalan. Aku ikuti dia terus secara diam-diam. Kulihat cewek itu pun merasa dia diikuti oleh seseorang. Aku menjadi semakin penasaran, sebenarnya siapa cewek yang sedang dikejarnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tidak lama setelah keluar dari jalan Hamka menuju jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan kantor dinas kehutanan Pontianak tiba-tiba saja cewek itu berteriak maling. Aku terkejut bukan main, apalagi Dygta tingkahnya sudah tidak karuan lagi ketika para pejalan kaki lain siap-siap mengejar dan endak menghajarnya dan kulihat cewek itu naik sebuah oplet. Ia berlari menuju halaman depan kantor Kehutanan Pontianak untuk menyelamatkan diri. Aku juga bergegas menuju ke sana.
Ketika aku sampai di sana, hampir saja orang-oarng akan menghajarnya. Aku berteriak sekencang-kencangnya untuk tidak memukul Dygta. Aku menghampiri kerumunan itu dan aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Panjang lebar aku menjelaskan kepada orang-orang itu apa yang akan dilakukan oleh Dygta, untungnya orang-orang itu percaya denganku dan meninggalkan kami. Aku langsung menghampiri Dygta.
“Vind, thanks ya atas bantuannya. Untung ada lo, kalau nggak..aduh aku nggak tahu deh nasibku”
“Eh MAJAT…sarap lo ya, ngapain lo nguntitin cewek kayak gitu? Lo mau memperkosa apa?” tanyaku sedikit membentak.
“Kentutmu, emangnya aku sebejat itu apa” jawabnya sambil berdiri.
“Terus lo mau apa dan siapa cewek tadi?”.
“Mau tahu siapa? Itu Yuni oon!” jawabnya sambil menjitak kepalaku.
“Yuni? Mau ngapain lo?” tanyaku lagi.
“Ya mau nguntitin dialah biar tau alamatnya dimana. Kan lo yang minta!”
“ya ampun Dygta, lo itu bocor banget sih. Akukan cuma minta ditanyain sama teman sekelasnya bukan ngikutin. Gila lo ya, kalau lo tadi di keroyok gimana? Kalau sampe masuk kantor polisi gimana? Aku juga pasti yang di salahkan” ujarku kesal.
“Ya maaf deh, akukan Cuma mau bantu kamu dengan caraku sendiri” belanya.
“Bantu sih bantu, tapi dipikir dulu dong akibat yang akan ditimbulkan. Udahlah sekarang ayo naik” kataku sambil menaiki motorku yang kuparkirkan di depan.
“Mau kemana kita”
“Yah mau ngejar Yuni lah biar tahu rumahnya dimana” jawabku enteng dengan tertawa kecil.
“Ah resek lo, ternyata mau juga kan ikut saran aku” jawabnya lalu naik dibelakangku.
Akhirnya kami berdua mengikuti Oplet yang dinaiki oleh Yuni hingga Oplet itu berhenti di sebuah rumah di tepi jalan raya Johar. Aku senang. Berkat ide Dygta yang spektakuler ini kau jadi bisa tahu alamat Yuni secara lengsung. Emang tidak sia-sia pengorbanan Dygta buatku, walaupun hampir celaka aku tetap senang.
Aku dan Dygta makan bakso Bu Atik yang terkenal enaknya di sekolah. kami memang sering ke sini untuk makan siang ketika istirahat kedua, rasanya bakso di kantin ini sudah mendarah daging bagi lambung kami. Kalau nggak makan bakso di sini nggak makan namanya. Kadang-kadang kalau aku atau Dygta lagi banyak uang, kami saling traktir secara bergantian, tapi Dygta yang sering traktir aku. Secara gitu Dygta kan anak juragan ayam di Toho. Aku sih enjoy-enjoy aja ditraktir, merasa morotin enggak..merasa dikasihanin ama dia juga enggak. Santai aja. Makan bakso kali ini aku yang traktir, karena tadi ia bilang berniat mau bantu aku meraih cintaku kembali dengan Yuni, yah Cuma sekedar rasa terimakasih aja dengan niat baiknya. Apa salahnya kan?.
            “Vind, Dyg. Lagi makan ya”
            Suara seorang wanita dari arah bangku samping mengejutkan kami berdua. Aku dan Dygta menoleh ke arahnya. Ternyata itu Syareeva.
            “Eh Eva, iya kita lagi makan,nggak lagi di WC” jawabku dengan sedikit meledek.
            Aku lihat Dygta hanya diam dan sedikit salah tingkah. Aneh.
            “Kamu juga mau makan bakso kan?” tanyaku.
            “Iya..” jawabnya tersenyum.
            “Kalau gitu gabung sini aja sama kita, iya kan Dyg?” usulku. Aku menepuk tangan Dygta untuk meminta persetujuan.
            Dygta terkejut bukan main. Seperti orang yang mendengar suara bom meledak.
            “Eh….i…ii..ya boleh” jawab Dygta sedikit terbata.
            “Kalau tidak mengganggu, boleh juga”.
            Aku menggelengkan kepala sebagai tanda tidak mengganggu kami. Syareeva menuju ke bangku kami dan duduk di kursi yang terletak di samping Dygta. Kulihat Dygta semakin kelihatan gugup. Tampak dari matanya ada sesuatu yang ia simpan di hati. Sesuatu yang tidak aku dan Syareeva tahu apa itu.
            “Dyg, kok kamu diam saja? sakit ya” tanya Eva.
            “Iya nih, kok kamu jadi sok malu-malu kucing kayak gini?” timpalku.
            Dygta hanya memandang kami berdua.
            “Ada apa sih? Datang bulan ya Bu” tanyaku lagi dengan campuran sedikit ledekan.
            “Datang bulan kentutmu, nggak aku jadi nggak enak perut aja. Mungkin aku kebanyakan makan cabe kali ya” jawabnya.
            “Bukannya kamu suka makan cabe” tanya Syareeva sedikit heran.
            “Tau nih, kenapa sekarang perutku nggak enak. Ehmm…aku ke WC dulu ya” pamit Dygta.
            Aku mengerutkan dahiku.
            “Ya udahlah sana ke WC, tapi jangan macam-macam ya. Benar-benar ke WC loh” kataku.
            “Ya iyalah…masak Ya Thoybah…marawis kali”.
            Aku dan Syareeva tertawa kecil. Dygta meninggalkan kami berdua.
            “Ya udahlah santai aja, tuh bakso pesananmu udah datang. Ayo kita makan sama-sama” usulku.
            Syareeva hanya mengangguk saja.
            Aku dan Syareeva kemudian makan bersama. Sambil menunggu kedatangan Dygta dari WC, kami berbicara satu sama lain. Tidak banyak sih yang dibicarakan, Cuma berbicara tentang pelajaran baru yang kami dapatkan di kelas tiga ini. Sebagai selingan juga kami membicarakan tentang Dygta dan kedekatan kami sebagai teman baik. Begitu juga dia bercerita tentang kehidupannya dengan teman-teman yang lain. Yang penting kami sama-sama senang saja mendengar cerita yang kami lontarkan.
            “Udah lima belas menit nih, masak Dygta nggak balik-balik sih? Jangan-jangan dia pingsan lagi di dalam WC” ucap Syareeva sedikit cemas.
            “Ah nggak mungkin dia itu pingsan di WC. Kalaupun dia pingsan di WC, pasti WC udah miscall aku dari tadi memberi tahu aku kalau si Dygta itu pingsan. Soalnya kan WC juga sohibnya dalam melakukan sesuatu” ledekku dengan tujuan agar Syareeva tidak cemas, padahal di dalam hatiku aku juga mencemaskan dia.
            “Apa yang terjadi dengan Dygta” pikirku di dalam hati.
            Pertanyaan itu aku kaitkan dengan keadaan. Keadaan ketika Syareeva datang, ia langsung berubah. Aku menjadi agak yakin dengan analisaku.
            “Jangan-jangan….?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura