Langsung ke konten utama

SEGITIGA (BAB 6)



Pertemuan Di Expo

Tiga hari yang kujanjikan itu sudah terlewati. Memang tidak susah aku elupakan Yuni dari dalam pikiranku. Selama itu aku mengalihkan pikiranku ke pelajaran dan persahabatanku. Tapi memang bukan karena pengalihan pikiran itu yang membuatku sukses dalam tiga hari melainkan dari kemaren juga aku telah mengetahui bahwa tidak ada rasa kecewa dengan semua dan tidak ada rasa untuk meratapi itu semua dan aku juga sudah tahu bahwa semua itu hanya persinggahan. Sekarang sudah tidak ada lagi wajah Yuni di dalam pikiranku, sama sekali tidak.
Sekarang ini aku memang sedang memikirkan bagaimana caranya mendekatkan Dygta dengan wanita pujaannya, Syareeva. Dari tadi malam dia datang kerumah untuk membahas trik yang akan digunakan kami agar dia bisa dekat sama syareva. Diskusinya sampai jam 12 malam, entah apa yang di rencanakannya aku juga masi belum mengerti. Katanya akan dia bicarakan lagi hari ini. Yang aku ingat hanyalah rencananya untuk pura-pura menolong Syareeva, pura-pura menyelamatkan buku catatan Matematika Syareeva yang jatuh ke dalam bak sampah. Ada-ada saja idenya, sama dengan kepribadiannya seperti bak sampah.
Aku mengantuk sekali. Rasanya mata ini tinggal lima watt lagi. Ditambah lagi dengan pelajaran Biologi yang di ajar oleh pak Zen yang suaranya mendayu-dayu, seperti menina bobokkan aku. Hanya dalam waktu beberapa detik mata ini terpejam di atas meja belajarku menuju ke alam mimpi. Di dalam mimpi kulihat seseorang yang berjalan mendekatiku. Kulihat latarnya adalah sebuah padang pasir. Kulihat orang itu semakin dekat. Seorang wanita dengan pakaian putih panjang dan berambut panjang terurai. Ada yang aneh ketika dia hampir dekat, wajahnya mirip sekali dengan Syareeva.
“Loh, kenapa Syareeva mirip seperti kuntilanak?” pikirku di dalam mimpi.
Dia terus mendekatiku. Aku tidak merasa ketakutan sama sekali. Kuntilanaknya cantik sekali dan yareeva lagi. Setelah dia berada tepat di depanku dia mengeluarkan sesuatu dari belakang bajunya. Sesuatu benda berwarna merah dan berbentuk love. Aku tertawa geli. Tapi tiba-tiba saja ia melempar benda itu ke arahku.
Pleetak…..Tepat kena di kepalaku. Sakit.
Aku langsung terbangun dan berteriak.
“Woi kunti, lovemu keras amat kayak batu. Sakit tahu”.
Semua siswa di kelas tertawa terbahak-bahak. Aku mengusap kepalaku yang terkena lemparan.
“Vindra, kenapa kamu tidur di kelas”. Teriak pak Zen.
“Maaf pak saya ngantuk”.
“Keluar kamu dari pelajaran saya. Keluarnya pake jalan pocong, cepat!”.
“Iya pak”.
Aku keluar kelas pake jalan pocong. Gila tuh guru udah disuru keluar eh, di kerjain lagi disuruh pakai jalan pocong. Emang pak Zen terkenal dengan ganasnya. Ada yang tidur atau ribut sedikit saja disuruh keluar, nggak boleh ikut pelajaran dia lagi pada hari itu. Di luar kelas aku ling-lung dengan mimpiku tadi.
“Gila…apaan maksud mimpi tadi. Masa aku dilempar love sama kuntilanak yang mirip sama Syareeva” ujarku pelan.
Daripada aku sendirian memikirkan mimpi yang tidak jelas tadi aku langsung pergi ke kantin mak Ijah. Kebetulan dari rumah tadi aku belum makan karena terlambat. Di kantin masih juga aku terpikir dengan mimpi itu.
Sesampainya di kantin aku langsung memesan mie goreng dan jus alpukat kesukaanku. Aku memilih duduk di bangku paling pojok, dekat dengan kasir.
 Gila-gilaan aja, masa aku dilempar sama kuntilanak yang mirip dengan Syareeva. Emangnya tuh kunti jatuh cinta sama aku apa?. Ungguh-sungguh mimpi yang sangat aneh. Seumur-umur aku belum pernah dapat mimpi seperti itu. Palingan mimpi setan, mimpi pembunuhan dan yang pasti terjadi adalah mimpi basah. Biasalah.
“Non-sense, imposibble, semuanya lah. Kenapa sekarang ini aku sering melihat Syareeva di dalam bayangan?”
Mie goreng dan jus alpukat yang telah aku pesan sudah datang. Kini giliran perut ini menyantap. Aku makan dengan lahapnya, persis seperti orang yang tidak kebagian jatah makan selama seminggu. Soalnya lapar banget. Dari liburan kemaren aku jadi sering makan, sekarang aja sudah naik dua kilo lagi berat badanku. Aduh-aduh.

***

“Vind, ngapain lo tadi di kelas? Mimpi apaan sih lo? Kok pake nyebut kunti ngelempar segala!”
Tanya Vindra menyusulku di kantin. Pastinya dia tahu aku ada di sini. Yah soalnya Cuma disini saja,di kantin ini kalau aku mau jajan.
“Mimpiin kuntilanak. Gila tuh kunti melempar kepalaku dengan benda berbentuk hati, kena ke kepala aku. Sakit banget man. Tapi aku heran, kenapa sakitnya benar-benaran ya? Padahal itukan Cuma di dalam mimpi!” ujarku kepadanya sambil mengusap kepalaku yang sepertinya benjol.
“Lo bodo amat sih! Yang melempar lo itu bukan kunti tapi pak Zen. Gila lo di lempar pake penghapus papan tulis tahu. Lo sih tidur! Udah tahu yang ngajar pak Zen”.
“Apa? Pak Zen yang ngelempar kepala aku?”
“Ya iyalah, masak ya salam. Lo tuh ketahuan tidur, makanya dia melempar kamu pake penghapus papan tulis”.
“Lo gimana sih, bangunin aku kek. Sakit tahu kena lempar.”
“Yeee… dasar lo aja tidur kayak kebo’ udah di bangun-bangunin masih aja nggak mau bangun. Malah tambah ngiler lagi.” Sewot Dygta.
“Inikan gara-gara lo juga. Gara-gara ngomongin trik lo buat ngedeketin Syareeva sampe jam 12 malam, mana aku nggak ngantuk”.
“Alasan banget sih lo, aku aja nggak ngantuk!”.
Aku sewot saja. Dygta terdiam sebentar.
 “O iya Vind, trik kemaren yang kita bicarakan itu tidak jadi. Trik menyelamatkan buku matematikanya itu aku rasa jadul banget. Nggak ngepas kalau di terapkan di zaman sekarang ini.” Ucapnya dengan mata yang berbinar-binar.
Aku terkejut setengah mampus.
“Apa? Nggak jadi! Apa gunanya kita memikirkannya semalam? Sampe-sampe aku ketiduran di kelas gara-gara kurang tidur tadi?” sewotku.
“Tenang…tenang. Aku udah dapat cara yang paling jitu untuk mendapatkan perhatian Syareeva dan untuk memuluskan jalannya rencana, aku butuh bantuan lo.”
“Emangnya aku harus ngapain?”
“Sekarangkan lagi ada Expo computer di gedung PCC, lo ajak dia untuk pergi ke sana! Terus ketika lo nyampe disana dan jalan-jalan di expo selama sepulu menitlah kira-kira kamu tinggalkan dia sendirian”.
“Apa!” teriakku terkejut. Tiba-tiba saja ekspresiku berubah.
“Tenang men, bilang aja kamu mau ke WC, ntar kamu pulang”. Sambung Dygta lagi.
“Nggak bisa! Masa aku biarin dia sendirian di sana!” teriakku lagi.
“Dengar dulu bule oon, dengar dulu aku belum selesai cerita”.
Aku duduk lagi untuk mendengarkan lanjutan trik yang akan di mainkannya.
“Aku nanti sudah stand by di sana. Ntarkan dia nunggu lo kelamaan. Nanti biar aku pura-pura jumpa dia disana dan menawarkan pulang bareng. Gimana?” ucapnya sambil mengedipkan mata kepadaku.
Mendengarkan apa yang dia rencanakan rasanya meruntuhkan batinku. Aku merasa tidak setuju saja dengan idenya kali ini. Rasanya di rencana kali ini aku merasa termanfaatkan dan terjelekkan. Entah kenapa kali ini aku agak tidak ikhlas untuk membantunya. Kucoba untuk bernegosiasi dengannya.
“Itu sih enak di lo nggak enak di aku. Masak kamu tega membuat image aku di depan Syareeva hancur seperti itu. Dipikirnya nanti aku orang yang tidak bertanggung jawab. Aku nggak mau.”
“Vind, bukannya aku bermaksud untuk menjatuhkan kamu di depan Syareeva. Tapi untuk kali ini saja aku minta tolong kepadamu untuk membantuku. Masak aku terus bantu kamu!”.
Aku diam saja. perkataan itu membuat aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Vind, lagipula apa perduli dia menganggap kamu seperti itu! Toh kamu juga nggak ada niat untuk mencintai dia kan? Untuk apa kamu merasa di rendahkan di depan dia”.
“Dyg, bukan itu masalahnya..”.
Dygta memotong perkataanku.
“Oke..oke. kalau begitu gini saja. nanti kamu telfon dia aja kalau kamu buru-buru pulang karena ada sesuatu hal yang penting. Pasti dia akan bilang ada aku di sampingnya dan mendengar itu kamu yakinkan dia kalau dia harus pulang dengan aku. Gimana?”
Aku menganggukan kepala. Rasanya kali ini aku memang tidak ikhlas membantunya. Aku tidak tahu kenapa dengan aku, dan apa yang aku rasakan. Tapi yang jelas, belakangan ini aku sering melihat bayangan wajah Syareeva dan beberapa hari belakangan ini aku merasa sakit jika Dygta memintai tolong kepadaku agar mereka bisa bersatu.
“Woi fren, kalian ini makan di kantin nggak ngajak-ngajak kami, resek kalian berdua nih.”
Suara Pasha mengejutkan kami. Di belakang Pasha juga ada Hardi dan Rino.
“Eh, kali ini ada bisnis apa lagi nih? Bisnis cewek ya?” tanya Hardi sambil duduk di kursi tepat sebelah kursi Dygta.
“Ya iyalah Har, masa lagi bisnis banci!” jawab Dygta ketus sambil memeparagakan gaya banci.
“Ih jijai deh. Siapa nih ceweknya? Kasih tau dong sama kita-kita!” kini giliran Rino yang berbicara gaya banci membalas ledekan Dygta.
“Mau tau aja” ucap Dygta.
“Huuuuuuuuuu..” teriak Pasha, Rino dan Hardi serempak.
“Vind, siapa sih?” tanya Pasha yang masih saja penasaran, siapa yang kami bisniskan.
Aku hanya menengadahkan tangan tanda tidak tahu.
“Payah nih kalian, nggak mau berbagi kesenangan” sewot Rino.
“Masalah cewek bukan untuk di bagi-bagi. Enak saja. ntar kalian juga tahu sendiri. Tunggu aja tanggal mainnya”. Ujar Dygta.
“Ya sudahlah kalau dia nggak mau kasih tahu, tapi kalau udah ketahuan nanti kiat ledek dia sampai mampus”.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ledekan Pasha aku hanya tersenyum saja, karena bagiku tidak ada yang lucu dan itu bukan sesuatu yang patut untuk di tertawakan.
“Eh men, BTW nih ya. Ntar malam kita ke pameran laptop di Mega mall. Sekalian jalan-jalan. Malam inikan malam minggu! Kita hunting cewek men” ajak Pasha kepada kami semua.
“Wah, aku nggak bisa nih. Nanti malam aku ada acara keluarga. Jadi nggak bisa ikut!” ucap Rino.
“Aku juga. Ntar malam aku ada janji nonton di twentyone dengan sepupuku” sahut Hardi.
“Kamu Dyg?” tanya Pasha dengan wajah penuh berharap.
“Aku juga nggak bisa Sha. Soalnya aku mau ngurus sesuatu. Sorry aku memang nggak bisa”.
Mereka semua memandang wajahku dengan tatapan yang memaksa. Aku terkejut.
“Oke..oke…daripada aku nggak ada kerjaan malam ini dan berhubung aku belum punya gebetan, boleh juga!” jawabku kepada tatapan mereka.
“Nah gitu dong. Aku jadi ada temen di sana nanti. Oke Vind, aku yang jemput kamu nanti malam jam delapan. Oke?” tawar Pasha.
“Sipp” sahutku.
Aku mendekatkan wajahku ke telinga Dygta.
“Emangnya kamu mau kemana Dyg?” ucapku setengan berbisik.
“Mau ketemu Syareeva” ucapnya lirih sambil tertawa.
Duarrrrrr….terjadi ledakan di hatiku.

***
           
            Malam ini terlihat cerah. Bintang bertaburan bagaikan pasir di pantai. Nampaknya tidak ada tanda-tanda mau turun hujan. Jadi malam ini bisa pergi dengan Pasha, bosan di rumah terus nggak ada kerjaan. Sudah jam delapan kurang lima menit, Pasha belum juga datang.
“Mungkin lima menit lagi” pikirku.
Aku sudah siap dari pukul setengah delapan tadi, tinggal tunggu jemputan Pasha saja. kalau ia sudah jemput, kita akan langsung cabut. Malam minggu ini cukup menolongkulah, menolong dari kesepian. Walaupun bukan jalan bareng sama seorang wanita, yang penting enjoy sajalah daripada stress.
Teet…teet. Bunyi suara klakson motor.
“Pasti Pasha” pikirku.
Aku langsung bergegas menuju ke luar rumah. Kubuka pintu rumah dan memang benar. Ternyata Pasha sudah datang menjemputku.
“Vind, cepetan udah terlambat lima menit nih” teriaknya dari atas motor tanpa mematikan mesin motornya.
“Yups” sahutku. Aku memakai sandal yang biasa aku pakai buat jalan-jalan. Setelah siap aku berlari menuju ke motornya. Aku malas membawa motor lagi, lagipula Pasha sudah janji kalau dia yang bakal antar jemput.
“Come on kita cabut” teriak Pasha sambil menarik gas motornya.
Gemerlap lampu kota Pontianak sangat menakjubkan. Meskipun nggak serame dengan yang ada di Jakarta atau di kota besar lainnya yang ada di jawa, pemandangan ini cukup untuk membuat suasana hati menjadi ramai. Dari jalan protokol Ahmad Yani terlihat lampu motor yang seakan-akan menyinari seluruh kota. Jalannya padat, dipadati dengan para pemuda yang sedang dimabuk asmara. Mereka jalan-jalan bareng pasangannya untuk mengunjungi tempat yang bikin mereka saling jatuh cinta dan melepas kerinduan. Tapi mungkin ini tidak terjadi pada aku dan Pasha untuk malam ini. Secara kami berdua sampai saat ini masih belum mendapatkan pasangan. Sekarang ini yang kami kejar adalah PAMERAN EXPO KOMPUTER di Pontianak convencion center.
Cuma butuh sepuluh menit untuk kami berdua sampai di PCC. Soalnya gedung ini memang tidak jauh dari rumahku dan rumah pasha. Sesampainya kami di sana Pasha langsung memarkirkan motornya di tempat parker yang telah di sediakan sedangakn aku menunggu di pintu masuk gedung. Pasha memang senang dengan dunia computer, makanya dia ngebet banget untuk melihat expo ini yang baru dibuka kemaren malam. Pasha menghampiriku dan kami berdua masuk ke dalam gedung.
“Ini yang gue cari, EXPO Komputer. PCC emang mengerti dengan keadaanku. Dia tahu Vin malam ini aku kesepian karen nggak ada pacar” teriak Pasha senang.
Aku hanya diam saja. berekspresi senang, tidak! Berekspresi tidak senang pun tidak! Aku memang tidak terlalu tertarik dengan dunia ini, tapi tidak juga benci-benci amat. Yah kalau kupikir-pikir nggak ada ruginyalah mengunjungi expo ini.
“Vind, kita kesana yuk, ke tempat penjualan ACER” ajak Pasha sambil menarik tanganku.
“Boleh”
Pasha asyik melihat-lihat laptop yang di pajang di etalase dealer ACER. Harganya lumayanlah! Lumayan buat kita stress. Aku hanya melihat-lihat sekilas saja. aku pusing dengan laptop yang berada di sana-sini. Ada ACER, tempatkami berkunjung, ada juga AXIOO, ZYREX dan Ben-Q. semuanya aku lihat sama bagusnya. Harganya pun juga hampir sama, sama bikin stressnya. Aku jadi bingung dengan kelebihan masing-masing.
“Sha, emangnya apa kelebihan mereka masing-masing?” tanyaku penasaran.
“Wah…payah lo Vind. Gaptek amat jadi orang?”
“Atau aku perkecil lagi pertanyaannya. Kalau ACER dengan AXIOO itu lebih bagusan mana?” tanyaku dengan suara yang agak kecil, takut menyinggung pelayan ACER.
“Oh..kalau itu lebih bagusan AXIOO karena lebih tahan panas daripada ACER” jawab Pasha dengan suara yang agak keras.
Aku memukul pundak Pasha.
“Woi, apa perlu aku pakaikan TOA biar lebih jelas lagi ngomongnya, nggak enakkan di dengar salesnya!” sahutku setengah berbisik.
“Sorry, aku kelepasan”.
Pasha melanjutkan huntingnya lagi, kali ini kami berpindah di dealernya Ben-Q. laptopnya juga bagus-bagus. Aku hanya lihat bagian kiri saja sedangkan Pasha, semua sudut ditelusurinya.
Aku merasa sedikit bosan. Kulihat di ujung gedung ada café kecil yang dibuka khusus untuk para pengunjung yang sudah kelelahan karena hunting computer atau laptop. Aku jadi ingin ke sana.
 Tanpa basa-basi, aku langsung menarik tangan Pasha dan menyeretnya untuk pergi ke café itu.
“Pasha, aku udah capek. Kita ke kafe itu ya” ujarku sambil berjalan dan masih menarik tangan Pasha.
“Maaf anda salah tarik, tolong lepaskan saya. Saya bukan Pasha teman anda”.
Aku terkejut setengah mati. Kenapa tiba-tiba suara cewek. Aku berhenti sejenak tapi belum memandang kea rah suara itu.
“Maaf lepaskan tangan saya”. Ucap suara wanita itu menyahut lagi.
Aku melepaskan tangannya dan berbalik ke arahnya.
Aku terkejut setengah mampus. Ternyata wanita yang aku salah tarik itu adalah Syareeva. Aku kikuk. Aku nggak tahu lagi bagaimana ekspresi wajahku, yang jelas aku jadi salah tingkah dan seperti orang ling-lung.
“Vindra? Kamu ke sini juga?” tanya Syareeva dengan ekspresi setengah terkejut.
Aku hanya tersenyum saja. aku tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba saja hatiku berdesir-desir, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya dan aliran darahkau terasa begitu cepat. Aku seperti tidak bisa menguasai suasana.
“Sama siapa?” tanya Syareeva lagi tanpa ada beban sedikitpun seperti aku.
“Pasha. Itu dia ada di sana” jawabku pelan sambil menunjuk kea rah Pasha.
Dia menoleh kea rah yang aku tunjukkan untuk melihat Pasha.
“Eh..kalau aku boleh tahu…apa kamu pergi sama…” aku merasa gugup untuk bertanya tentang ini.
“Sama siapa?”
“E…e..apa kamu pergi sama Dygta?”
“Nggak. Aku pergi sama adikku dan sekarang dia lagi di dealer AXIOO. Kok kamu tanyanya seperti itu. Emang ada apa dengan Dygta?” tanya Syareeva dengan wajah yang menaruh curiga kepadaku.
“Oh…nggak. Aku Cuma tanya saja. siapa tahu saja kamu pergi dengan dia” jawabku ngeles.
“Aneh-aneh saja kamu Vind”.
Perasaanku menjadi sangat lega ketika mendengar Syareeva datang di EXPO ini dengan adiknya, bukan dengan Dygta. Entah apa yang dilakukan Dygta saat ini. Yang jelas aku tahu kalau dia berbohong dengan perkataannya tadi. Perkataannya yang terucap bahwa malam ini ia akan pergi dengan Syareeva. Entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa tenang dan senang malam ini Syareeva tidak pergi malam mingguan dengan Dygta. Aku merasa ada yang berbeda dengan hatiku malam ini, karena malam ini hatiku mengatakan bahwa Syareeva terlihat manis dan cantik malam ini. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekologi Mikroba (Bakteri) Pada Rumen Hewan Ruminansia

Oleh: Hendra Nosih Andrianto, Rikhsan Kurniatuhadi Magister Biologi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2012 Rumen merupakan salah satu bentuk ekosistem yang terdapat pada sistem digesti hewan ruminansia. Rumen merupakan satu ekosistem ialah sistem ekologi yang di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi. Uunsur biotik dalam rumen antara lain bakteri, protozoa, jamur, kapang dan lain-lain dari berbagai spesies dan unsur abiotik dalam rumen antara lain air, protein, serat kasar, mineral, vitamin, gas, bahan sumber zat makanan dan beberapa isi rumen lainnya yang semuanya direndam dalam cairan rumen. Di dalam ekosistem ini terjadi variasi interaksi antara lain antar unsur biotik, antara unsur biotik dengan unsur abiotik, serta interaksi antar unsur abiotik itu sendiri. Gambar 1 . Ekosistem Rumen Hewan Ruminansia (Watteaux dan Armentanno, 2008). Salah satu bentuk kehidupan yang sangat komplek dalam hal penyusun suatu ekosistem rumen adalah m...

Apa itu Single Cell Protein -SCP?

Protein sel tunggal mengacu pada minyak mentah, protein yang dimurnikan atau dimakan yang diekstraksi dari kultur mikroba murni, mati, atau biomassa sel kering. Mereka dapat digunakan sebagai suplemen protein untuk manusia atau hewan. Mikroorganisme seperti alga, jamur, ragi, dan bakteri memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dalam biomassa mereka. Mikroba ini dapat ditanam menggunakan substrat murah seperti limbah pertanian, serutan kayu, serbuk gergaji, tongkol jagung dan bahkan limbah manusia dan hewan Mikroorganisme memanfaatkan karbon dan nitrogen yang ada dalam material ini dan mengubahnya menjadi protein berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai suplemen dalam pakan manusia dan hewan. Protein sel tunggal dapat dengan mudah digunakan sebagai makanan ternak untuk mencapai penggemukan anak sapi, babi, dalam pembibitan ikan dan bahkan dalam Peternakan - Peternakan Unggas dan Ternak. Single Cell Protein (SCP) menawarkan solusi tidak konvensional tetapi masuk ...

Mitokondria dan Kloroplas

Apa itu Mitokondria ? Mitokondria (singular, mitokondria) sering disebut "powerhouse" atau pabrik energi sel. Tugas mereka adalah membuat pasokan adenosin trifosfat (ATP), molekul pembawa energi utama sel. Proses pembuatan ATP menggunakan energi kimia dari bahan bakar seperti gula disebut respirasi seluler, dan banyak langkahnya terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria ,  kondriosom  ( bahasa Inggris :  chondriosome, mitochondrion, plural:mitochondria ) yaitu  organel  tempat berlangsungnya fungsi  respirasi   sel   makhluk hidup , selain fungsi seluler lain, seperti  metabolisme   asam lemak ,  biosintesis   pirimidina ,  homeostasis   kalsium , transduksi sinyal seluler, dan penghasil  energi [1] . Mitokondria mempunyai  dua lapisan membran , yaitu lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Lapisan membran dalam ada dalam bentuk lipatan-lipatan yang sering disebut dengan  cristae . D...

SEGITIGA (BAB 5)

Tembok Ke Empat Malam ini terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang nampak bintang-bintang yang terhampar bebas. Hanya beberapa bintang saja yang nampak bersinar terang. Dan terus terang, sampai detik ini rasa penasaran masih bercokol di pikranku. Rasa penasaran dangan alas an Yuni yang menolak cintaku untuk kedua kalinya kemaren siang. Rasanya aneh saja, penghalang bersatunya kami satu tahun yang lalu rasanya sudah musnah. Reana yang yang tidak menyetujui hubunganku dengannya sudah pindah sekolah, jauh di luar Kalimantan Barat. Itukan tandanya tidak ada lagi penghalang bagi Yuni untuk menerimaku karena aku yakin ia juga sebenarnya masih mencintaiku. “Apa ini semua berhubungan dengan perubahan pada dirinya ya? Perubahan penampilan yang lebih agamis!” pikirku sambil mondar-mandir nggak jelas di teras rumah. Aku berhenti dan aku pandangi langit. Memang benar-benar tidak ada yang special di malam ini, persis seperti halnya yang terjadi di hatiku. Walaupun kemaren siang aku dito...

Ayo ikuti Lomba Blog UNTAN 2020

Universitas Tanjungpura