Pertemuan Di Expo
Tiga hari
yang kujanjikan itu sudah terlewati. Memang tidak susah aku elupakan Yuni dari
dalam pikiranku. Selama itu aku mengalihkan pikiranku ke pelajaran dan
persahabatanku. Tapi memang bukan karena pengalihan pikiran itu yang membuatku
sukses dalam tiga hari melainkan dari kemaren juga aku telah mengetahui bahwa
tidak ada rasa kecewa dengan semua dan tidak ada rasa untuk meratapi itu semua
dan aku juga sudah tahu bahwa semua itu hanya persinggahan. Sekarang sudah
tidak ada lagi wajah Yuni di dalam pikiranku, sama sekali tidak.
Sekarang
ini aku memang sedang memikirkan bagaimana caranya mendekatkan Dygta dengan
wanita pujaannya, Syareeva. Dari tadi malam dia datang kerumah untuk membahas
trik yang akan digunakan kami agar dia bisa dekat sama syareva. Diskusinya
sampai jam 12 malam, entah apa yang di rencanakannya aku juga masi belum mengerti.
Katanya akan dia bicarakan lagi hari ini. Yang aku ingat hanyalah rencananya
untuk pura-pura menolong Syareeva, pura-pura menyelamatkan buku catatan
Matematika Syareeva yang jatuh ke dalam bak sampah. Ada-ada saja idenya, sama
dengan kepribadiannya seperti bak sampah.
Aku
mengantuk sekali. Rasanya mata ini tinggal lima watt lagi. Ditambah lagi dengan
pelajaran Biologi yang di ajar oleh pak Zen yang suaranya mendayu-dayu, seperti
menina bobokkan aku. Hanya dalam waktu beberapa detik mata ini terpejam di atas
meja belajarku menuju ke alam mimpi. Di dalam mimpi kulihat seseorang yang
berjalan mendekatiku. Kulihat latarnya adalah sebuah padang pasir. Kulihat
orang itu semakin dekat. Seorang wanita dengan pakaian putih panjang dan
berambut panjang terurai. Ada yang aneh ketika dia hampir dekat, wajahnya mirip
sekali dengan Syareeva.
“Loh,
kenapa Syareeva mirip seperti kuntilanak?” pikirku di dalam mimpi.
Dia terus
mendekatiku. Aku tidak merasa ketakutan sama sekali. Kuntilanaknya cantik
sekali dan yareeva lagi. Setelah dia berada tepat di depanku dia mengeluarkan
sesuatu dari belakang bajunya. Sesuatu benda berwarna merah dan
berbentuk love. Aku tertawa geli. Tapi tiba-tiba saja ia melempar benda itu ke
arahku.
Pleetak…..Tepat
kena di kepalaku. Sakit.
Aku langsung
terbangun dan berteriak.
“Woi kunti,
lovemu keras amat kayak batu. Sakit tahu”.
Semua siswa
di kelas tertawa terbahak-bahak. Aku mengusap kepalaku yang terkena lemparan.
“Vindra, kenapa
kamu tidur di kelas”. Teriak pak Zen.
“Maaf pak
saya ngantuk”.
“Keluar
kamu dari pelajaran saya. Keluarnya pake jalan pocong, cepat!”.
“Iya pak”.
Aku keluar
kelas pake jalan pocong. Gila tuh guru udah disuru keluar eh, di kerjain lagi
disuruh pakai jalan pocong. Emang pak Zen terkenal dengan ganasnya. Ada yang
tidur atau ribut sedikit saja disuruh keluar, nggak boleh ikut pelajaran dia
lagi pada hari itu. Di luar kelas aku ling-lung dengan mimpiku tadi.
“Gila…apaan
maksud mimpi tadi. Masa aku dilempar love sama kuntilanak yang mirip sama
Syareeva” ujarku pelan.
Daripada
aku sendirian memikirkan mimpi yang tidak jelas tadi aku langsung pergi ke
kantin mak Ijah. Kebetulan dari rumah tadi aku belum makan karena terlambat. Di
kantin masih juga aku terpikir dengan mimpi itu.
Sesampainya
di kantin aku langsung memesan mie goreng dan jus alpukat kesukaanku. Aku
memilih duduk di bangku paling pojok, dekat dengan kasir.
Gila-gilaan aja, masa aku dilempar sama
kuntilanak yang mirip dengan Syareeva. Emangnya tuh kunti jatuh cinta sama aku
apa?. Ungguh-sungguh mimpi yang sangat aneh. Seumur-umur aku belum pernah dapat
mimpi seperti itu. Palingan mimpi setan, mimpi pembunuhan dan yang pasti
terjadi adalah mimpi basah. Biasalah.
“Non-sense,
imposibble, semuanya lah. Kenapa sekarang ini aku sering melihat Syareeva di
dalam bayangan?”
Mie goreng
dan jus alpukat yang telah aku pesan sudah datang. Kini giliran perut ini
menyantap. Aku makan dengan lahapnya, persis seperti orang yang tidak kebagian
jatah makan selama seminggu. Soalnya lapar banget. Dari liburan kemaren aku
jadi sering makan, sekarang aja sudah naik dua kilo lagi berat badanku.
Aduh-aduh.
***
“Vind,
ngapain lo tadi di kelas? Mimpi apaan sih lo? Kok pake nyebut kunti ngelempar
segala!”
Tanya
Vindra menyusulku di kantin. Pastinya dia tahu aku ada di sini. Yah soalnya
Cuma disini saja,di kantin ini kalau aku mau jajan.
“Mimpiin
kuntilanak. Gila tuh kunti melempar kepalaku dengan benda berbentuk hati, kena
ke kepala aku. Sakit banget man. Tapi aku heran, kenapa sakitnya benar-benaran
ya? Padahal itukan Cuma di dalam mimpi!” ujarku kepadanya sambil mengusap
kepalaku yang sepertinya benjol.
“Lo bodo
amat sih! Yang melempar lo itu bukan kunti tapi pak Zen. Gila lo di lempar pake
penghapus papan tulis tahu. Lo sih tidur! Udah tahu yang ngajar pak Zen”.
“Apa? Pak
Zen yang ngelempar kepala aku?”
“Ya iyalah,
masak ya salam. Lo tuh ketahuan tidur, makanya dia melempar kamu pake
penghapus papan tulis”.
“Lo gimana
sih, bangunin aku kek. Sakit tahu kena lempar.”
“Yeee…
dasar lo aja tidur kayak kebo’ udah di bangun-bangunin masih aja nggak mau
bangun. Malah tambah ngiler lagi.” Sewot Dygta.
“Inikan
gara-gara lo juga. Gara-gara ngomongin trik lo buat ngedeketin Syareeva sampe
jam 12 malam, mana aku nggak ngantuk”.
“Alasan
banget sih lo, aku aja nggak ngantuk!”.
Aku sewot
saja. Dygta terdiam sebentar.
“O iya Vind, trik kemaren yang kita bicarakan
itu tidak jadi. Trik menyelamatkan buku matematikanya itu aku rasa jadul
banget. Nggak ngepas kalau di terapkan di zaman sekarang ini.” Ucapnya dengan
mata yang berbinar-binar.
Aku
terkejut setengah mampus.
“Apa? Nggak
jadi! Apa gunanya kita memikirkannya semalam? Sampe-sampe aku ketiduran di
kelas gara-gara kurang tidur tadi?” sewotku.
“Tenang…tenang.
Aku udah dapat cara yang paling jitu untuk mendapatkan perhatian Syareeva dan
untuk memuluskan jalannya rencana, aku butuh bantuan lo.”
“Emangnya
aku harus ngapain?”
“Sekarangkan
lagi ada Expo computer di gedung PCC, lo ajak dia untuk pergi ke sana! Terus
ketika lo nyampe disana dan jalan-jalan di expo selama sepulu menitlah
kira-kira kamu tinggalkan dia sendirian”.
“Apa!”
teriakku terkejut. Tiba-tiba saja ekspresiku berubah.
“Tenang
men, bilang aja kamu mau ke WC, ntar kamu pulang”. Sambung Dygta lagi.
“Nggak
bisa! Masa aku biarin dia sendirian di sana!” teriakku lagi.
“Dengar
dulu bule oon, dengar dulu aku belum selesai cerita”.
Aku duduk
lagi untuk mendengarkan lanjutan trik yang akan di mainkannya.
“Aku nanti sudah stand by di sana. Ntarkan
dia nunggu lo kelamaan. Nanti biar aku pura-pura jumpa dia disana dan menawarkan
pulang bareng. Gimana?” ucapnya sambil mengedipkan mata kepadaku.
Mendengarkan
apa yang dia rencanakan rasanya meruntuhkan batinku. Aku merasa
tidak setuju saja dengan idenya kali ini. Rasanya di rencana kali ini aku
merasa termanfaatkan dan terjelekkan. Entah kenapa kali ini aku agak tidak
ikhlas untuk membantunya. Kucoba untuk bernegosiasi dengannya.
“Itu sih
enak di lo nggak enak di aku. Masak kamu tega membuat image aku di depan
Syareeva hancur seperti itu. Dipikirnya nanti aku orang yang tidak bertanggung
jawab. Aku nggak mau.”
“Vind, bukannya
aku bermaksud untuk menjatuhkan kamu di depan Syareeva. Tapi untuk kali ini
saja aku minta tolong kepadamu untuk membantuku. Masak aku terus bantu kamu!”.
Aku diam
saja. perkataan itu membuat aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Vind,
lagipula apa perduli dia menganggap kamu seperti itu! Toh kamu
juga nggak ada niat untuk mencintai dia kan? Untuk apa kamu merasa di rendahkan
di depan dia”.
“Dyg, bukan
itu masalahnya..”.
Dygta
memotong perkataanku.
“Oke..oke.
kalau begitu gini saja. nanti kamu telfon dia aja kalau kamu buru-buru pulang
karena ada sesuatu hal yang penting. Pasti dia akan bilang ada aku di
sampingnya dan mendengar itu kamu yakinkan dia kalau dia harus pulang dengan
aku. Gimana?”
Aku
menganggukan kepala. Rasanya kali ini aku memang tidak ikhlas membantunya. Aku
tidak tahu kenapa dengan aku, dan apa yang aku rasakan. Tapi yang jelas,
belakangan ini aku sering melihat bayangan wajah Syareeva dan beberapa hari
belakangan ini aku merasa sakit jika Dygta memintai tolong kepadaku agar mereka
bisa bersatu.
“Woi fren,
kalian ini makan di kantin nggak ngajak-ngajak kami, resek kalian berdua nih.”
Suara Pasha
mengejutkan kami. Di belakang Pasha juga ada Hardi dan Rino.
“Eh, kali
ini ada bisnis apa lagi nih? Bisnis cewek ya?” tanya Hardi sambil duduk di
kursi tepat sebelah kursi Dygta.
“Ya iyalah
Har, masa lagi bisnis banci!” jawab Dygta ketus sambil memeparagakan gaya
banci.
“Ih jijai
deh. Siapa nih ceweknya? Kasih tau dong sama kita-kita!” kini giliran Rino yang
berbicara gaya banci membalas ledekan Dygta.
“Mau tau
aja” ucap Dygta.
“Huuuuuuuuuu..”
teriak Pasha, Rino dan Hardi serempak.
“Vind,
siapa sih?” tanya Pasha yang masih saja penasaran, siapa yang kami bisniskan.
Aku hanya
menengadahkan tangan tanda tidak tahu.
“Payah nih
kalian, nggak mau berbagi kesenangan” sewot Rino.
“Masalah
cewek bukan untuk di bagi-bagi. Enak saja. ntar kalian juga tahu sendiri.
Tunggu aja tanggal mainnya”. Ujar Dygta.
“Ya
sudahlah kalau dia nggak mau kasih tahu, tapi kalau udah ketahuan nanti kiat
ledek dia sampai mampus”.
Mereka
tertawa terbahak-bahak mendengar ledekan Pasha aku hanya tersenyum saja, karena
bagiku tidak ada yang lucu dan itu bukan sesuatu yang patut untuk di
tertawakan.
“Eh men, BTW nih ya. Ntar
malam kita ke pameran laptop di Mega mall. Sekalian jalan-jalan. Malam inikan
malam minggu! Kita hunting cewek men” ajak Pasha kepada kami semua.
“Wah, aku
nggak bisa nih. Nanti malam aku ada acara keluarga. Jadi nggak bisa ikut!” ucap
Rino.
“Aku juga.
Ntar malam aku ada janji nonton di twentyone dengan sepupuku” sahut Hardi.
“Kamu Dyg?”
tanya Pasha dengan wajah penuh berharap.
“Aku juga
nggak bisa Sha. Soalnya aku mau ngurus sesuatu. Sorry aku memang nggak bisa”.
Mereka
semua memandang wajahku dengan tatapan yang memaksa. Aku terkejut.
“Oke..oke…daripada
aku nggak ada kerjaan malam ini dan berhubung aku belum punya gebetan, boleh
juga!” jawabku kepada tatapan mereka.
“Nah gitu
dong. Aku jadi ada temen di sana nanti. Oke Vind, aku yang jemput kamu nanti
malam jam delapan. Oke?” tawar Pasha.
“Sipp”
sahutku.
Aku mendekatkan
wajahku ke telinga Dygta.
“Emangnya
kamu mau kemana Dyg?” ucapku setengan berbisik.
“Mau ketemu
Syareeva” ucapnya lirih sambil tertawa.
Duarrrrrr….terjadi
ledakan di hatiku.
***
Malam
ini terlihat cerah. Bintang bertaburan bagaikan pasir di pantai. Nampaknya
tidak ada tanda-tanda mau turun hujan. Jadi malam ini bisa pergi dengan Pasha,
bosan di rumah terus nggak ada kerjaan. Sudah jam delapan kurang lima menit,
Pasha belum juga datang.
“Mungkin
lima menit lagi” pikirku.
Aku sudah
siap dari pukul setengah delapan tadi, tinggal tunggu jemputan Pasha saja.
kalau ia sudah jemput, kita akan langsung cabut. Malam minggu ini cukup menolongkulah,
menolong dari kesepian. Walaupun bukan jalan bareng sama seorang wanita, yang
penting enjoy sajalah daripada stress.
Teet…teet.
Bunyi suara klakson motor.
“Pasti
Pasha” pikirku.
Aku
langsung bergegas menuju ke luar rumah. Kubuka pintu rumah dan memang benar.
Ternyata Pasha sudah datang menjemputku.
“Vind,
cepetan udah terlambat lima menit nih” teriaknya dari atas motor tanpa
mematikan mesin motornya.
“Yups”
sahutku. Aku memakai sandal yang biasa aku pakai buat jalan-jalan. Setelah siap
aku berlari menuju ke motornya. Aku malas membawa motor lagi, lagipula Pasha
sudah janji kalau dia yang bakal antar jemput.
“Come on kita cabut” teriak
Pasha sambil menarik gas motornya.
Gemerlap
lampu kota Pontianak sangat menakjubkan. Meskipun nggak serame dengan yang ada
di Jakarta atau di kota besar lainnya yang ada di jawa, pemandangan ini cukup
untuk membuat suasana hati menjadi ramai. Dari jalan protokol Ahmad Yani
terlihat lampu motor yang seakan-akan menyinari seluruh kota. Jalannya
padat, dipadati dengan para pemuda yang sedang dimabuk asmara. Mereka
jalan-jalan bareng pasangannya untuk mengunjungi tempat yang bikin mereka saling
jatuh cinta dan melepas kerinduan. Tapi mungkin ini tidak terjadi pada aku
dan Pasha untuk malam ini. Secara kami berdua sampai saat ini masih belum
mendapatkan pasangan. Sekarang ini yang kami kejar adalah PAMERAN EXPO KOMPUTER
di Pontianak convencion center.
Cuma butuh
sepuluh menit untuk kami berdua sampai di PCC. Soalnya gedung ini memang tidak
jauh dari rumahku dan rumah pasha. Sesampainya kami di sana Pasha langsung
memarkirkan motornya di tempat parker yang telah di sediakan sedangakn aku
menunggu di pintu masuk gedung. Pasha memang senang dengan dunia computer,
makanya dia ngebet banget untuk melihat expo ini yang baru dibuka kemaren
malam. Pasha menghampiriku dan kami berdua masuk ke dalam gedung.
“Ini yang
gue cari, EXPO Komputer. PCC emang mengerti dengan keadaanku. Dia
tahu Vin malam ini aku kesepian karen nggak ada pacar” teriak Pasha senang.
Aku hanya
diam saja. berekspresi senang, tidak! Berekspresi tidak senang pun tidak! Aku
memang tidak terlalu tertarik dengan dunia ini, tapi tidak juga benci-benci
amat. Yah kalau kupikir-pikir nggak ada ruginyalah mengunjungi expo ini.
“Vind, kita
kesana yuk, ke tempat penjualan ACER” ajak Pasha sambil menarik tanganku.
“Boleh”
Pasha asyik
melihat-lihat laptop yang di pajang di etalase dealer ACER. Harganya
lumayanlah! Lumayan buat kita stress. Aku hanya melihat-lihat sekilas saja. aku
pusing dengan laptop yang berada di sana-sini. Ada ACER, tempatkami berkunjung,
ada juga AXIOO, ZYREX dan Ben-Q. semuanya aku lihat sama bagusnya. Harganya pun
juga hampir sama, sama bikin stressnya. Aku jadi bingung dengan kelebihan
masing-masing.
“Sha,
emangnya apa kelebihan mereka masing-masing?” tanyaku penasaran.
“Wah…payah lo Vind. Gaptek amat
jadi orang?”
“Atau aku perkecil lagi
pertanyaannya. Kalau ACER dengan AXIOO itu lebih bagusan mana?” tanyaku dengan
suara yang agak kecil, takut menyinggung pelayan ACER.
“Oh..kalau itu lebih bagusan
AXIOO karena lebih tahan panas daripada ACER” jawab Pasha dengan suara yang
agak keras.
Aku memukul pundak Pasha.
“Woi, apa perlu aku pakaikan TOA
biar lebih jelas lagi ngomongnya, nggak enakkan di dengar salesnya!” sahutku
setengah berbisik.
“Sorry, aku kelepasan”.
Pasha melanjutkan huntingnya
lagi, kali ini kami berpindah di dealernya Ben-Q. laptopnya juga bagus-bagus. Aku
hanya lihat bagian kiri saja sedangkan Pasha, semua sudut ditelusurinya.
Aku merasa
sedikit bosan. Kulihat di ujung gedung ada café kecil yang dibuka khusus untuk
para pengunjung yang sudah kelelahan karena hunting computer atau laptop. Aku
jadi ingin ke sana.
Tanpa basa-basi, aku langsung menarik tangan
Pasha dan menyeretnya untuk pergi ke café itu.
“Pasha, aku
udah capek. Kita ke kafe itu ya” ujarku sambil berjalan dan masih menarik
tangan Pasha.
“Maaf anda
salah tarik, tolong lepaskan saya. Saya bukan Pasha teman anda”.
Aku
terkejut setengah mati. Kenapa tiba-tiba suara cewek. Aku berhenti sejenak tapi
belum memandang kea rah suara itu.
“Maaf
lepaskan tangan saya”. Ucap suara wanita itu menyahut lagi.
Aku
melepaskan tangannya dan berbalik ke arahnya.
Aku terkejut
setengah mampus. Ternyata wanita yang aku salah tarik itu adalah Syareeva. Aku
kikuk. Aku nggak tahu lagi bagaimana ekspresi wajahku, yang jelas aku jadi
salah tingkah dan seperti orang ling-lung.
“Vindra?
Kamu ke sini juga?” tanya Syareeva dengan ekspresi setengah terkejut.
Aku hanya
tersenyum saja. aku tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba saja hatiku
berdesir-desir, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya dan aliran
darahkau terasa begitu cepat. Aku seperti tidak bisa menguasai suasana.
“Sama
siapa?” tanya Syareeva lagi tanpa ada beban sedikitpun seperti aku.
“Pasha. Itu
dia ada di sana” jawabku pelan sambil menunjuk kea rah Pasha.
Dia menoleh
kea rah yang aku tunjukkan untuk melihat Pasha.
“Eh..kalau
aku boleh tahu…apa kamu pergi sama…” aku merasa gugup untuk bertanya tentang
ini.
“Sama
siapa?”
“E…e..apa
kamu pergi sama Dygta?”
“Nggak. Aku
pergi sama adikku dan sekarang dia lagi di dealer AXIOO. Kok kamu tanyanya
seperti itu. Emang ada apa dengan Dygta?” tanya Syareeva dengan wajah yang menaruh
curiga kepadaku.
“Oh…nggak.
Aku Cuma tanya saja. siapa tahu saja kamu pergi dengan dia” jawabku ngeles.
“Aneh-aneh
saja kamu Vind”.
Perasaanku
menjadi sangat lega ketika mendengar Syareeva datang di EXPO ini dengan
adiknya, bukan dengan Dygta. Entah apa yang dilakukan Dygta saat ini. Yang
jelas aku tahu kalau dia berbohong dengan perkataannya tadi. Perkataannya yang
terucap bahwa malam ini ia akan pergi dengan Syareeva. Entah mengapa tiba-tiba
saja aku merasa tenang dan senang malam ini Syareeva tidak pergi malam mingguan
dengan Dygta. Aku merasa ada yang berbeda dengan hatiku malam ini, karena malam
ini hatiku mengatakan bahwa Syareeva terlihat manis dan cantik malam ini. Aku
benar-benar tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.
Komentar
Posting Komentar